10 Jurusan Kuliah Paling Cuan dan Cepat Balik Modal

5 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah melambungnya biaya pendidikan tinggi dan meningkatnya skeptisisme masyarakat mengenai relevansi gelar sarjana, sebuah pertanyaan krusial menyeruak: Apakah mahalnya biaya kuliah masih sepadan dengan hasil yang akan didapat?

Sebuah analisis komprehensif terbaru dari Postsecondary Commission, sebuah lembaga kajian pendidikan nirlaba, memberikan jawaban optimistis. Berdasarkan pelacakan jangka panjang terhadap mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Texas, Amerika Serikat, lulusan sarjana secara umum menghasilkan pendapatan yang jauh lebih tinggi dalam jangka panjang dibandingkan dengan mereka yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Riset ini melacak sekitar 29.000 mahasiswa yang terdaftar dalam program sarjana (S1) pada tahun akademik 2008-2009 selama periode 15 tahun. Peneliti menggunakan metrik ketat yang disebut "cumulative net value-added earnings" (akumulasi pendapatan nilai tambah bersih).

Metrik ini membandingkan total pendapatan lulusan perguruan tinggi dengan pekerja yang tidak pernah kuliah. Istimewanya, kalkulasi ini sudah menguranginya dengan seluruh beban pengeluaran pendidikan, seperti biaya kuliah (UKT/tuition), biaya hidup (kamar dan makan), serta faktor opportunity cost, yaitu potensi pendapatan yang hilang selama mahasiswa tersebut menempuh studi dan tidak bekerja.

Hasil riset menunjukkan, rata-rata lulusan perguruan tinggi berhasil mengantongi pendapatan bersih hampir US$ 86.806 (sekitar Rp 1,41 miliar) lebih banyak dalam periode 15 tahun tersebut, bahkan setelah memperhitungkan seluruh biaya kuliah yang mahal.

Jurusan Teknik & Arsitektur (Engineering & architecture) menempati kasta tertinggi dalam memberikan imbal hasil investasi (ROI) terbaik, disusul ketat oleh jurusan Bisnis & Ekonomi (Business & economics). Namun, temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa jurusan Sastra/Seni Liberal (Liberal arts), yang sering kali dicap menghasilkan pendapatan rendah, tetap mampu mengungguli pendapatan rata-rata lulusan SMA dengan selisih mencapai US$ 35.481 dalam jangka panjang.

"Mereka yang menempuh gelar sarjana, lepas dari apa pun bidang studinya telah melakukan investasi yang sangat bijak," ujar Presiden HEA Group selaku konsultan pendidikan tinggi, Michael Itzkowitz dikutip dari CBS News, Jumat (29/5/2026).

"Keuntungan finansial ini kemungkinan besar akan terus tumbuh secara eksponensial seiring berjalannya waktu, sejalan dengan kemajuan karier dan peningkatan keahlian para pekerja tersebut," tampiknya.

Meskipun studi ini berfokus pada wilayah spesifik Texas yang memiliki dinamika ekonomi regional tersendiri, metodologi komparatif riset ini dianggap sangat kuat karena memasukkan komponen biaya hilangnya kesempatan kerja selama kuliah (opportunity cost).

Namun, ada satu catatan kritis: riset ini merekam data mahasiswa yang mendaftar hampir dua dekade lalu, sebelum teknologi Generative AI (Kecerdasan Buatan) mendisrupsi pasar tenaga kerja global. Banyak lulusan baru saat ini mulai khawatir AI akan memangkas lowongan kerja tingkat pemula (entry-level).

Gelar Diploma (D3) dan Sertifikasi Masih Punya Taji?

Bagi masyarakat yang tidak ingin menghabiskan waktu 4 tahun di bangku sarjana, riset ini juga menganalisis efektivitas program Diploma (Associate's degree) dan kursus sertifikasi keahlian. Hasilnya cukup bervariasi. Sebagian besar lulusan program Diploma 2 atau 3 tahun berhasil mencatatkan pengembalian positif.

Sektor perdagangan konstruksi (construction trades) menjadi primadona dengan memberikan bayaran tambahan mencapai hampir US$ 73.000 selama periode 10 tahun. Sebaliknya, beberapa program diploma dua tahun justru mencatatkan kerugian bersih secara finansial dalam jangka panjang.

Industri jasa boga/kuliner (culinary services) dan bidang logistik masing-masing mencatatkan kerugian investasi bersih sekitar US$ 13.000 dan US$ 15.000 dibandingkan jika mereka langsung bekerja selepas SMA. Hal yang sama berlaku untuk jalur sertifikasi profesi singkat.

Sertifikat di bidang konstruksi menghasilkan imbal hasil tertinggi, sekitar US$ 48.000 setelah lima tahun. Namun, ada tujuh bidang sertifikasi lainnya, termasuk ilmu sosial dan teknologi informasi (IT) yang justru mencatatkan rapor merah alias rugi bersih karena biaya sertifikasi tidak sebanding dengan kenaikan gaji yang didapatkan di lapangan kerja.

Berikut data lengkap lonjakan pendapatan bersih berdasarkan jurusan (kuliah S1) selama periode 15 tahun:

1. Teknik & Arsitektur (Engineering & architecture) - US$ 204.686
2. Bisnis & Ekonomi (Business & economics) - US$ 183.841
3. Layanan Keamanan & Proteksi (Security & protective services) - US$ 109.925
4. Pertanian & Sumber Daya Alam (Agriculture & natural resources) - US$ 106.758
5. Biologi & Kesehatan (Biology & health) - US$ 100.287
6. Ilmu Fisika & Matematika (Physical sciences & math) - US$ 98.173
7. Komunikasi (Communications) - US$ 70.382
8. Ilmu Sosial (Social sciences) - US$ 51.314
9. Taman, Rekreasi & Kebugaran (Parks, recreation, leisure & fitness) - US$ 42.362
10. Sastra / Seni Liberal (Liberal arts) - US$ 35.481

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |