2,8 Miliar Password Dirampok Maling M-Banking, Buruan Ganti Sekarang!

3 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman keamanan data pribadi sudah mencapai titik memprihatinkan. Password yang selama ini diandalkan untuk melindungi data pribadi, ternyata relatif mudah dibobol oknum tak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi pencurian data sensitif hingga perampokan uang.

Laporan State of Cybercrime 2026 dari KELA mencatat jumlah korban ransomware naik 45% secara tahunan. Di saat yang sama, sebanyak 2,86 miliar kredensial, mulai dari kata sandi hingga cookie, diketahui telah bocor dan diperjualbelikan di pasar gelap.

Yang lebih mengejutkan lagi, lebih dari 30% data yang terekspos berasal dari layanan cloud bisnis dan sistem otentikasi.

Tak hanya itu, tren infeksi malware juga melonjak tajam. KELA mencatat infeksi malware infostealer di perangkat macOS melonjak drastis dari di bawah 1.000 kasus pada 2024 menjadi lebih dari 70.000 kasus pada 2025, atau naik hingga 7.000%.

"Malware Infostealer dirancang untuk mengekstraksi data sensitif dari perangkat yang terinfeksi, termasuk kredensial login, token autentikasi, dan informasi akun penting lainnya," tulis laporan tersebut, dikutip dari Forbes, Senin (4/5/2026).

sekitar 3,9 juta perangkat di seluruh dunia telah terinfeksi malware jenis infostealer, yang berujung pada pencurian lebih dari 347 juta kredensial atau data pribadi pengguna.

Metode serangan para peretas (hacker) kini bertransformasi menjadi jauh lebih canggih dan sulit dideteksi. Tak lagi sekadar e-mail palsu, para pelaku kini mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI-based scams) hingga model bisnis phishing-as-a-service untuk melancarkan aksinya secara masif.

Bahkan, para penjahat siber ini kini memanfaatkan celah pada iklan digital dan hasil pencarian palsu di mesin pencari untuk menyebarkan perangkat lunak jahat. Teknik paling licin yang ditemukan adalah menjebak pengguna untuk "meretas" perangkatnya sendiri dengan menjalankan skrip berbahaya tanpa sadar melalui teknik manipulasi psikologis.

FBI Kewalahan, Bisnis Malware Makin Cuan

Meski otoritas keamanan seperti FBI terus melakukan operasi penegakan hukum besar-besaran, laju ancaman ini nampaknya belum terbendung.

Munculnya model bisnis Malware-as-a-Service (MaaS) membuat siapa pun, bahkan yang tidak memiliki kemampuan teknis tinggi, bisa menjadi pelaku kejahatan siber hanya dengan menyewa infrastruktur yang tersedia di dark web.

Melihat kondisi yang kian genting, para pakar keamanan siber menekankan pentingnya perlindungan berlapis bagi setiap pengguna digital. Rutinitas memperbarui sistem operasi, menghindari klik pada tautan mencurigakan, serta penggunaan password manager kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Saatnya Beralih ke Passkey

Meskipun Otentikasi Dua Faktor (2FA) selama ini dianggap aman, para pakar mulai melihat celah baru. Maraknya teknik pembobolan 2FA melalui pencurian cookie sesi membuat akun tetap rentan diambil alih meskipun sudah menggunakan kode verifikasi.

Sebagai solusinya, pengguna sangat disarankan untuk mulai beralih ke teknologi Passkey. Berbeda dengan kata sandi konvensional, Passkey memiliki tingkat keamanan yang jauh lebih kuat karena tidak dapat dicuri melalui teknik phishing maupun disadap saat transmisi data.

Teknologi ini bekerja dengan menyimpan kunci privat secara lokal langsung di perangkat pengguna. Hal ini membuat Passkey hampir mustahil ditembus melalui intersepsi maupun serangan malware infostealer yang tengah menghantui dunia saat ini.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |