Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
31 March 2026 14:36
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar komoditas global menutup Maret dengan keseragaman, tekanan geopolitik mendorong harga lintas sektor naik dalam waktu bersamaan.
Energi melonjak paling agresif, diikuti bahan industri berbasis petrokimia, sementara logam dan agrikultur ikut terdorong meski dengan intensitas berbeda.
Sektor Energi
Melansir dari Trading Economics, di sektor energi, kenaikan dipimpin oleh Urals oil yang melesat 75,45% secara bulanan ke US$109,69 per barel, level tertinggi sejak 2013. Heating oil menyusul dengan kenaikan 46,58% ke US$4,22 per galon, sementara WTI crude naik 44,50% ke US$103 per barel. Methanol naik 44,06% dan Brent menguat 38,08%.
Konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Penutupan efektif Selat Hormuz memutus sekitar 20% aliran minyak global. Gangguan ini memaksa pembeli mencari alternatif pasokan, yang mendorong lonjakan harga minyak Rusia. Di saat yang sama, ancaman terhadap infrastruktur energi Iran dan serangan terhadap kapal tanker memperbesar premi risiko. Konsekuensinya, harga energi global bergerak dalam tekanan pasokan, bukan permintaan.
Sektor Industrial
Di sektor industrial, sulfur mencatat kenaikan bulanan 44,49% ke CNY 5.726 per ton, tertinggi sepanjang sejarah. Synthetic rubber naik 39,04%, polypropylene 36,96%, polyethylene 29,99%, dan urea 29,82%. Rantai penyebabnya langsung terhubung dengan energi.
Sulfur yang menjadi bahan baku pupuk mengalami gangguan pasokan karena hampir setengah produksi global berasal dari Timur Tengah. Penutupan jalur distribusi membuat pasokan menyusut saat permintaan meningkat menjelang musim tanam.
Di sisi lain, polyethylene dan polypropylene terdorong oleh kenaikan biaya feedstock akibat lonjakan minyak dan gas. Dampaknya mulai merembet ke sektor manufaktur dan pertanian, dengan risiko gangguan produksi akibat keterbatasan bahan baku.
Sektor Agrikultur
Sektor agrikultur menunjukkan kenaikan yang lebih terfragmentasi. Palm oil naik 14,31% ke MYR 4.794 per ton, menjadi yang tertinggi di kelompok ini. Sugar naik 11,79%, oat 11,68%, lumber 9,01%, dan cotton 8,58%. Kenaikan minyak mentah menjadi faktor penghubung utama.
Harga energi yang tinggi meningkatkan daya tarik biofuel, sehingga permintaan bahan baku seperti minyak sawit terdorong.
Di saat yang sama, produksi gula di Brasil meningkat, tetapi proyeksi penurunan output ke depan akibat peralihan ke etanol mulai membentuk ekspektasi baru di pasar. Untuk kapas, tekanan datang dari sisi cuaca di AS yang meningkatkan risiko gagal panen.
Harga agrikultur bergerak dalam kombinasi faktor energi, cuaca, dan kebijakan produksi.
Sektor Logam
Di sektor logam, kenaikan cenderung lebih moderat. Scrap steel naik 10,01% secara bulanan ke US$412 per ton, iron ore CNY naik 7,62%, iron ore USD 6,52%, HRC steel 4,63%, dan baja China 2,29%.
Mekanismenya berbeda dibanding energi dan industrial. Kenaikan biaya energi dan logistik mempertahankan premi harga, sementara gangguan pasokan dari konflik menambah tekanan.
Namun, permintaan melemah dari China membatasi kenaikan lebih lanjut. Produksi baja China turun 3,6% secara tahunan pada Februari, dengan kebijakan pengurangan kapasitas tetap berjalan. Implikasinya, pasar logam berada dalam kondisi tarik-menarik antara biaya produksi yang naik dan permintaan yang melemah.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

















































