3 Bulan Perang Iran: Siapa Menangis dan Tertawa Paling Kencang?

13 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

25 May 2026 15:25

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar komoditas global berubah drastis sejak perang Iran pecah akhir Februari 2026. Setelah melewati hampir tiga bulan perang, jalur perdagangan energi dunia masih terguncang, rantai pasok pupuk terganggu, biaya logistik melonjak, sementara investor global mulai memindahkan dana ke aset yang dianggap aman.

Perang Iran membuat mekanisme harga komoditas dunia bergeser. Pasar kini jauh lebih sensitif terhadap gangguan geopolitik dibanding dinamika supply-demand normal.

Selat Hormuz menjadi pusat tekanan terbesar. Jalur ini mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia. Ketika distribusi terganggu, efeknya langsung merembet ke energi, logam, pangan, hingga pupuk.

Oxford Economics memperkirakan lebih dari dua pertiga komoditas global akan mencatat kenaikan harga sepanjang 2026. Namun kekuatan reli masing-masing komoditas berbeda. Ada yang melonjak agresif karena faktor pasokan dan energi, ada pula yang mulai tertahan akibat dolar AS dan ekspektasi suku bunga.

Minyak Masih Tinggi

Minyak menjadi komoditas paling sensitif terhadap perang Iran. Oxford Economics sebelumnya memperkirakan Brent akan bertahan di atas US$100 per barel karena sekitar 10 juta barel minyak per hari sempat terganggu akibat hambatan distribusi di Selat Hormuz.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian

Harga minyak brent pernah menyentuh US$ 126,41 per barel pada 30 April 2026.

Namun pasar mulai berubah arah setelah muncul sinyal negosiasi damai AS-Iran.

Harga minyak brent melonjak 44,3% setelah perang Iran. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan setelah 58 hari perang Rusia-Ukraina (15,6%).

Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dan Teheran telah "largely negotiated" memorandum kesepahaman perdamaian.

Pasar langsung membaca peluang terbukanya kembali Selat Hormuz sebagai sinyal berkurangnya tekanan pasokan global.

Meski begitu, pasar minyak belum benar-benar tenang. Trump tetap meminta tim negosiasi AS agar tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan.

Analis MST Marquee Saul Kavonic mengatakan pasar mulai melihat "cahaya di ujung terowongan", tetapi proses normalisasi distribusi energi diperkirakan tetap memakan waktu panjang karena kerusakan infrastruktur selama perang.

Artinya, premi risiko geopolitik masih tertanam di pasar minyak meski euforia reli mulai mereda.

LNG dan Gas: Masih Jadi Komoditas Paling Panas

Jika minyak mulai terkoreksi, LNG dan gas justru masih menunjukkan tekanan kuat.

Gas alam menjadi komoditas energi paling rentan akibat terganggunya ekspor LNG Qatar dan distribusi kawasan Teluk.

Melansir laporan terbari Trading Economics LNG Japan Korea Marker (JKM) berada di US$18,81 per MMBtu pada 22 Mei 2026. Dalam sebulan, harga melonjak 14,77% dan naik lebih dari 50% dibanding tahun lalu.

German Gas juga berada di level tinggi EUR49,79 per MWh. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 33,65%.

Pasar gas masih ketat karena pemulihan distribusi LNG belum sepenuhnya berjalan. Negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan juga terus berburu pasokan untuk menjaga ketahanan energi.

Kondisi ini ikut menjaga permintaan batu bara thermal tetap kuat.

Batu Bara, Ditopang Gangguan LNG Asia

Harga batu bara Newcastle Australia ditutup di US$137,55 per ton pada 21 Mei 2026. Dalam sepekan naik tipis 0,77%.

Pergerakan batu bara memang tidak seagresif awal perang, tetapi pasar masih bertahan di area tinggi karena utilitas listrik Asia kembali memperbesar konsumsi batu bara saat LNG mahal.

Korea Selatan menaikkan impor batu bara thermal April sebesar 40% menjadi 5,7 juta ton. Jepang juga meningkatkan impor 2,5% menjadi 7,9 juta ton.

Pasar juga memantau risiko pasokan China setelah ledakan tambang di Shanxi menewaskan sedikitnya 90 pekerja. Kekhawatiran inspeksi keselamatan yang lebih ketat membuat potensi impor batu bara China kembali menjadi perhatian.

Aluminium Jadi Raja Logam Industri

Oxford Economics sebelumnya memperkirakan aluminium menjadi logam industri paling diuntungkan perang Iran karena kawasan Teluk memiliki kontribusi besar terhadap pasokan global, sementara proses produksinya sangat boros energi.

Proyeksi itu kini mulai terlihat di pasar.

Harga aluminium tercatat US$3.650,90 per ton pada 22 Mei 2026. Dalam setahun, kenaikannya mencapai 47,67%.

Kenaikan biaya energi menjadi faktor utama. Ketika harga gas dan listrik naik, biaya produksi aluminium global ikut terdorong.

Pasar juga masih menghadapi risiko gangguan distribusi logam dari kawasan Timur Tengah.

Tembaga Tetap Kuat karena AI dan Energi Bersih

Berbeda dengan aluminium yang ditopang energi, reli tembaga lebih banyak ditopang prospek permintaan jangka panjang.

Harga copper futures naik ke sekitar US$6,4 per pound, tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Sentimen damai AS-Iran membantu memperbaiki mood pasar karena risiko inflasi dan tekanan suku bunga mulai sedikit mereda.

Namun fondasi utama tembaga tetap berasal dari lonjakan investasi AI, pusat data, elektrifikasi, dan transisi energi bersih global.

Permintaan kabel dan infrastruktur listrik terus meningkat seiring ekspansi teknologi berbasis AI.

Pasar juga masih memantau pasokan sulfur untuk smelter tembaga yang terganggu akibat konflik Timur Tengah.

Sulfur dan Pupuk: Efek Perang Mulai Masuk ke Pangan

Salah satu dampak paling besar perang Iran justru muncul di pasar pupuk.

Oxford Economics memperkirakan harga pupuk global naik hampir 20% secara tahunan akibat terganggunya distribusi Selat Hormuz.

Tekanan terbaru di pasar sulfur memperlihatkan risiko tersebut memang mulai terjadi.

Melansir trading Economics, harga sulfur futures melonjak ke rekor CNY7.500 per ton. Hampir separuh produksi sulfur dunia berasal dari Timur Tengah.

Sulfur menjadi bahan penting dalam sulfuric acid yang dipakai untuk pupuk fosfat jagung dan kedelai.

Ketika distribusi Timur Tengah terganggu, produsen pupuk mulai berebut pasokan dengan industri tambang dan logam.

Pasar mulai khawatir tekanan pupuk akan memengaruhi biaya tanam dan produksi pangan global pada musim berikutnya.

Lithium Mulai Kehilangan Tenaga

Tidak semua komoditas menikmati reli perang.

Harga lithium carbonate China turun ke CNY180.000 per ton setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dua tahun di CNY200.500.

Penurunan terjadi karena harga tinggi mendorong sejumlah tambang kembali beroperasi.

Mineral Resources mengaktifkan kembali tambang Bald Hill, sementara Core Lithium memulai lagi proyek Finniss.

Meski demikian, permintaan kendaraan listrik China masih menjaga fundamental lithium tetap kuat. Produksi kendaraan energi baru China naik 5,5%, sementara penjualan meningkat 9,7%.

Emas, Masih Tinggi

Harga emas mengalami titik anomali selama perang. Data Refinitiv menunjukkan emas dunia memang masih tinggi yakni di level US$ 4500 per troy ons. Namun, harga emas justru ambruk 

Namun reli emas mulai melambat setelah harga minyak naik dan dolar AS kembali menguat. Harga emas ambruk 14,5% sejak perang Iran.

Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan kenaikan energi membuat pasar kembali khawatir terhadap inflasi AS. Kondisi itu mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Dolar AS yang menguat kemudian memberi tekanan tambahan terhadap emas.

Bart Melek dari TD Securities mengatakan risiko koreksi emas masih terbuka apabila harga energi tetap tinggi dan membuat suku bunga AS bertahan lebih lama.

CPO: Ditopang Biofuel, Dibayangi Ekspor dan Kebijakan Baru Indonesia

Di pasar sawit, perang Iran awalnya menjadi sentimen positif karena kenaikan harga energi ikut mengangkat prospek biofuel global.

Harga CPO Malaysia kontrak Agustus sempat bertahan di area tinggi dan ditutup di MYR4.486 per ton pada 22 Mei 2026 atau naik sekitar 1,5% dibanding pekan sebelumnya.

Namun dalam perdagangan terbaru, futures palm oil Malaysia kembali turun lebih dari 1% hingga bergerak di bawah MYR4.500 per ton.

Tekanan datang dari beberapa arah sekaligus. Ringgit Malaysia menguat, harga edible oil Dalian melemah, sementara pasar Chicago tutup karena libur sehingga likuiditas global lebih tipis.

Sentimen energi juga berubah setelah harga minyak dunia jatuh ke level terendah dua pekan terakhir akibat optimisme damai AS-Iran. Pelemahan minyak langsung mengurangi dorongan terhadap komoditas biofuel seperti CPO.

Pasar juga mulai khawatir terhadap permintaan global. Surveyor kargo menunjukkan ekspor sawit Malaysia periode 1-20 Mei turun sekitar 13,9%-20,5% dibanding April.

India sebagai pembeli sawit terbesar dunia juga mulai mengurangi impor. Impor sawit India pada April turun 26% menjadi level terendah empat bulan akibat lemahnya permintaan institusional dan semakin menyempitnya diskon harga sawit dibanding minyak nabati lain.

Meski begitu, tekanan CPO belum berubah menjadi koreksi besar karena pasar masih melihat potensi pengetatan pasokan regional.

Indonesia mulai menerapkan pembatasan ekspor bertahap pada Juni-Agustus sebelum implementasi penuh kebijakan baru pada September. Kondisi ini berpotensi memberi ruang tambahan bagi ekspor Malaysia.

Dukungan lain datang dari kebijakan biodiesel kawasan. Indonesia dijadwalkan menaikkan mandat biodiesel menjadi B50 mulai Juli, sementara Malaysia akan menaikkan blending biodiesel menjadi B15 mulai Juni.

Konsumsi biodiesel yang meningkat membuat pasar masih melihat permintaan CPO tetap kuat dalam jangka menengah.

Namun pelaku pasar global kini tidak hanya memantau konflik Timur Tengah. Fokus juga mulai tertuju pada bagaimana Indonesia menjalankan cita-cita menjadi penentu harga sawit dunia lewat perubahan besar tata niaga ekspor nasional.

Harga komoditas per 18 Mei 2026Harga komoditas per 18 Mei 2026 Foto: Bank Mandiri

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |