7 Emiten Berlabel HSC Langsung Ambruk Hari ini, 2 Ijo Royo-Royo

2 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

06 April 2026 10:42

Jakarta,CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah merilis data High Shareholding Concentration (HSC).

Keterbukaan data ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor di pasar modal dengan menampilkan daftar emiten yang kepemilikan sahamnya terkonsentrasi secara dominan pada segelintir pihak.

Berdasarkan metodologi penentuan struktur kepemilikan per tanggal 31 Maret 2026, terdapat sembilan emiten yang mencatatkan kepemilikan tunggal di atas 95%.

Jika dikorelasikan dengan pergerakan harganya berdasarkan pantauan data perdagangan hari ini pukul 10.00 WIB, saham-saham dengan konsentrasi tinggi tersebut cenderung menunjukkan volatilitas yang tajam dengan mayoritas berada di teritori negatif.

Berikut adalah daftar 9 saham dengan konsentrasi kepemilikan lebih dari 95% beserta pergerakan harganya:

Korelasi Likuiditas Terbatas dan Risiko Volatilitas Harga

Data perdagangan memperlihatkan bahwa tujuh dari sembilan saham yang masuk dalam daftar HSC mengalami tekanan jual. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 14,58%, diikuti oleh PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang turun 13,06%, dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang melemah 12,60%.

Di sisi lain, hanya dua saham yang bergerak menguat, yaitu PT Ifishdeco Tbk (IFSH) sebesar 11,42% dan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) sebesar 9,76%.

Dinamika harga yang sangat fluktuatif ini memiliki kaitan erat dengan minimnya porsi free float pada emiten-emiten tersebut.

Dengan konsentrasi kepemilikan di atas 95%, likuiditas saham di pasar sekunder menjadi sangat terbatas karena kendali pasokan berada di tangan pemegang saham pengendali. Kondisi ini menyebabkan mekanisme penawaran dan permintaan tidak berjalan layaknya saham dengan distribusi kepemilikan yang lebih merata.

Keterbatasan volume yang ditransaksikan tersebut memunculkan risiko yang perlu dicermati oleh para investor. Struktur kepemilikan yang terpusat memungkinkan sebuah transaksi dengan nilai dan volume yang relatif kecil untuk memicu pergerakan harga yang tajam.

Oleh karena itu, pembentukan harga pada emiten HSC cenderung rentan terhadap gejolak dan seringkali dipengaruhi oleh minimnya ruang likuiditas di bursa.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Photo View |