Alasan Trump Ribut dengan Netanyahu, Sebut Gila dan Tak Tahu Diri

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah meluapkan kemarahan besar kepada Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu terkait eskalasi militer yang dilakukan Tel Aviv di Lebanon.

Mengutip laporan Russia Today (RT) dari Axios pada Senin dua pejabat Amerika dan satu sumber ketiga yang menerima pengarahan terkait panggilan telepon tersebut mengungkapkan kabar mengejutkan ini.  Axios menggambarkan pembicaraan via telepon tersebut sebagai salah satu komunikasi terburuk yang pernah terjadi di antara kedua pemimpin negara sekutu itu sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS.


Lalu apa alasannya?

Trump menuduh Netanyahu telah membahayakan jalannya negosiasi kedutaan AS dengan Iran serta menuntut agar Israel segera menghentikan rencana serangan udara ke ibu kota Lebanon, Beirut. Salah seorang pejabat merangkum perkataan kasar yang dilontarkan oleh Trump kepada Netanyahu dalam panggilan tersebut.

"Kamu benar-benar gila. Kamu sudah membusuk di penjara jika bukan karena aku. Aku yang menyelamatkan pantatmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena hal ini," bentak Trump kepada Netanyahu, dikutip Selasa (2/6/2026).

Sementara itu, sumber kedua yang ikut mendapat pengarahan mengenai panggilan telepon darurat tersebut mengonfirmasi bahwa sang Presiden AS benar-benar mengamuk. "Apa yang sedang kamu lakukan?" teriak Trump.

Meskipun Trump tetap menekankan bahwa Israel memiliki hak penuh untuk mempertahankan diri, ia menyampaikan kekhawatiran mendalam karena Netanyahu telah menaikkan tensi serangan secara tidak proporsional dalam beberapa hari terakhir. Serangan-serangan agresif tersebut telah memicu lonjakan korban jiwa dari kalangan warga sipil, bahkan hingga meratakan seluruh bangunan hanya demi menargetkan komandan-komandan individu dari kelompok Hizbullah.

Di lapangan, militer Israel memang kian mengintensifkan kampanye pengeboman mereka di Lebanon terhadap apa yang mereka klaim sebagai target-target milisi Hizbullah. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bahkan telah merangsek masuk lebih jauh ke wilayah selatan Lebanon dan merebut Kastil Beaufort, sebuah benteng Tentara Salib berusia 900 tahun yang menjadi titik pengamatan strategis di wilayah tersebut.

Situasi panas ini langsung membuat pihak Teheran murka dan mengancam akan membatalkan seluruh proses pembicaraan diplomatik mereka dengan pihak AS. Padahal, memorandum yang saat ini sedang dinegosiasikan dengan Washington secara eksplisit menyerukan penghentian permusuhan dan gencatan senjata total di Lebanon.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi langsung dengan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri, dan memperingatkan bahwa tanggapan Teheran bisa melesat jauh melampaui sekadar menghentikan jalur negosiasi. Melalui akun resminya di media sosial X, Ghalibaf menegaskan posisi militer Iran jika agresi tersebut tidak segera dihentikan.

"Jika agresi Israel terhadap Lebanon terus berlanjut, kami tidak hanya akan menghentikan jalur negosiasi, tetapi kami akan berada dalam konfrontasi langsung dengan musuh," tegas Ghalibaf.

Menanggapi ketegangan global ini, Trump menuliskan sebuah pesan klarifikasi melalui platform media sosial pribadinya, Truth Social. Ia menyebut "Saya melakukan percakapan dengan Bibi Netanyahu hari ini, memintanya untuk tidak melakukan serangan besar-besaran ke Beirut, Lebanon".

Trump juga menambahkan klaim sepihak di media sosialnya tersebut bahwa sang pemimpin Israel akhirnya bersedia membalikkan arah pasukannya, dan mengklaim bahwa perwakilan dari kepemimpinan Hizbullah telah sepakat untuk berhenti menembaki wilayah Israel.

Namun di sisi lain, Netanyahu justru mengeluarkan pernyataan yang berbeda dan berbanding terbalik dengan klaim sepihak dari pihak Gedung Putih tersebut. Netanyahu menegaskan bahwa dirinya telah menyampaikan langsung kepada Trump bahwa Israel akan tetap meluncurkan serangan udara mematikan ke Beirut jika Hizbullah tidak menghentikan serangan roket ke negaranya.

"Posisi kami tetap sama," tulis Netanyahu sembari bersumpah untuk terus melanjutkan operasi militer mereka di Lebanon selatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |