Bali Pesta Pora Ada Perang Timteng, Banjir Wisman dari Dubai

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bali I Wayan Koster mengungkapkan wisatawan mancanegara (wisman) masih banyak melakukan kunjungan wisata ke Bali, meski ada konflik di Timur Tengah.

Koster mengatakan dari awal Januari hingga 31 Maret 2026, kunjungan wisman ke Bali makin meningkat meski ada konflik di Timur Tengah. Namun, Ia tidak membeberkan secara detail angka kenaikan tersebut.

"Kemarin, data tahun ini, dari Januari sampai 31 Maret 2026, justru wisatawan mancanegara itu aslinya meningkat dibandingkan dengan 2025. Sebelumnya ada isu, adanya perang Amerika Israel lawan Iran, itu akan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali. Ternyata tidak," kata Koster dalam paparannya di rapat kerja (raker) bersama Komisi V DPR RI, Rabu (8/4/2026).

Bahkan menurutnya, ada fenomena unik di mana wisman dari Dubai memadati Bali pada awal 2026. Ia pun bersyukur Bali masih menjadi salah satu destinasi favorit wisman hingga 2026.

"Ini yang betul-betul kami harus bersyukur. Bahkan kami mendapat tamu, audiensi sejumlah pihak yang selama ini investasi di Dubai itu akan pindah ke Bali. Jadi kami sudah kedatangan tamu, mereka ingin pindah dari Dubai ke Bali," lanjutnya.

Pariwisata Bali. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)Foto: Pariwisata Bali. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)
Pariwisata Bali. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)

Sementara itu pada 2025, jumlah wisman ke Bali mencapai 7,05 juta orang, lebih tinggi dari 2024 yang mencapai 6,33 juta orang.

Bahkan dalam 10 tahun terakhir, jumlah wisman ke Bali menjadi yang tertinggi.

"Di 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali melalui udara itu mencapai 7.050.000 orang, dan ini angka yang tertinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.

Sayangnya, Koster mengaku belum siap menerima kunjungan wisman dari Dubai karena kondisi Bali saat ini yang tidak memungkinkan, terutama terkait masalah kebersihan dan kemacetan lalu lintas, sehingga pihaknya memohon kepada pemerintah pusat untuk bersama-sama membenahi Bali.

"Namun kami belum siap dari sisi faktor pendukungnya, ekosistem, baik infrastruktur maupun juga hal-hal yang lainnya. Ini yang kami butuhkan. Kalau ini tidak diatasi cepat, saya kira Bali akan kualahan, akan makin tertinggal dengan negara-negara lain. Jadi sayang kalau sampai Bali ini nanti rusak sebelum apa namanya, memberikan yang terbaik untuk Indonesia dan dunia," terangnya.

Ia melanjutkan, jika pembenahan tidak dilakukan dengan cepat, maka Bali akan semakin tertinggal dengan Malaysia dan Thailand dari segi wismannya.

"Karena kalau Bali terlambat mengatasi infrastrukturnya, maka daya saing Bali akan semakin tertinggal dengan Thailand, bahkan dengan Malaysia. Syukurnya, Bali ini masih dicintai karena budayanya yang kuat, meski sekarang lebih macet pun, banyak sampah, air pun kurang," pungkasnya.

(chd/wur) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |