Bayang-Bayang Penurunan Bobot MSCI dan Perang, IHSG dan Rupiah Belum Aman

2 hours ago 5
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk berjamaah, IHSG dan rupiah melemah
  • Wall Street menguat
  • Perkembangan perang dan kebijakan dalam negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada awal pekan ini. Baik bursa saham ataupun rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tantangan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah Senin (6/4/2026), parkir di level 6.989,43, turun 37,35 poin atau -0,53% pada akhir perdagangan. Penutupan kemarin adalah yang terendah sejak Juli 2025.

Sepanjang hari kemarin, IHSG bergerak di zona merah atau pada rentang 6.934,89-7.009,23. Sebanyak 437 saham turun, 264 naik, dan 257 tidak bergerak.

Nilai transaksi sebesar Rp 15,19 triliun, melibatkan 27,72 miliar saham dalam 1,63 juta transaksi. Kapitalisasi pasar pun tergerus menjadi Rp 12.185 triliun.

Sebagaimana diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) resmi membuka data terkait HSC.

Selain itu, IHSG masih dibayangi oleh sejumlah sentimen global dan dalam negeri.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mempublikasikan unggahan di media sosial yang penuh kata-kata kasar, di mana ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara tersebut gagal memenuhi tenggat hari Selasa untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi semua pelayaran.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring tekanan dari penguatan dolar AS di pasar global serta sentimen domestik.

Melansir Refinitiv, pada perdagangan Senin (6/4/2026), rupiah ditutup di zona merah dengan depresiasi 0,24% ke level Rp17.030/US$. Posisi ini menjadi level penutupan terlemah sepanjang sejarah bagi rupiah. Penutupan kemarin juga menandai pertama kalinya mata uang Garuda berakhir di atas level psikologis Rp17.000/US$ di pasar spot.

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Dari eksternal, penguatan dolar AS di pasar global membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi semakin sempit. Dolar AS masih diburu investor seiring pasar mencermati perkembangan terbaru konflik Iran, terutama setelah muncul ultimatum terbaru dari Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 6,62%.

Read Entire Article
Photo View |