Breaking! IHSG Anjlok 3,61%, Ada Panic Selling Gegara MSCI-FTSE

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).

IHSG memulai perdagangan hari ini turun 94,34 poin atau 1,40% ke posisi 6.628,97. Namun dua menit setelah pasar dibuka IHSG ambruk makin dalam hingga 2,59% dan semakin parah 40 menit setelahnya dengan IHSG Anjlok 3,61% (-242 poin) ke level 6.480.

Sebanyak 594 saham terkoreksi, 82 saham menguat, dan 61 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp5,68 triliun dengan volume perdagangan 10,43 miliar saham dalam 849 ribu kali transaksi.

Saham-saham Prajogo masih menjadi biang kerok pelemahan IHSG bersama dengan sejumlah emiten lain, termasuk DSSA, yang menjadi perhatian penyedia indeks internasional MSCI dan FTSE.

Tekanan terbesar terhadap IHSG sejak akhir pekan lalu datang dari saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index.

MSCI diketahui resmi menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN); PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN); PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA); PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA); PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN); PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Selain itu, MSCI juga mencoret 13 saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Index.

Tak lama setelah pengumuman MSCI, penyedia indeks global lainnya FTSE ikut buka suara soal masa depan saham-saham RI yang tergabung dalam indeks besutannya.

Dalam pengumuman terbaru bertajuk "Index Treatment for the June 2026 Index Review" yang dirilis Rabu (13/5/2026), FTSE memberikan sinyal keras terkait potensi penghapusan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Aturan terbaru FTSE diterbitkan menyusul upaya otoritas pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi, termasuk publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC).

Dalam dokumen tersebut, FTSE Russell menegaskan bahwa jika sebuah perusahaan menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan saham dari otoritas bursa dan keuangan, di mana saham beredar hanya dikuasai segelintir pihak, maka saham tersebut akan didepak dari indeks pada tinjauan berikutnya.

"Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026," tulis pengumuman resmi tersebut.

Kebijakan "harga nol" ini diambil karena FTSE menilai likuiditas saham HSC cenderung memburuk secara material. Investor institusi pengelola dana indeks (passive fund) dikhawatirkan tidak akan menemukan pembeli (counterparty) yang cukup jika harus keluar dari saham tersebut secara mendadak.

Kebijakan harga nol umumnya dilakukan oleh FTSE atas saham-saham perusahaan bangkrut yang masih ada di indeks atau saham yang lama mengalami suspensi atau terkena dampak sanksi sehingga sulit diperdagangkan.

Meski FTSE belum merilis spesifik emiten yang terancam kena tendang dalam pengumuman tersebut, sejumlah daftar saham tampaknya akan terkena dampak secara signifikan. Dua emiten besar selama ini identik dengan isu free float dan konsentrasi kepemilikan, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik taipan Prajogo Pangestu dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari grup Sinarmas menjadi sorotan karena keduanya masuk dalam daftar HSC BEI.

Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan melemah hari ini dengan tekanan paling dalam dirasakan oleh sektor infrastruktur, barang baku, energi dan teknologi.

Adapun pemberat utama IHSG pagi ini adalah saham Bank Central Asia (BBCA) yang turun 2,5% dan berkontribusi atas pelemahan 14,05 indeks poin.

Lalu ada saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang dibuka menyentuh auto rejection bawah (ARB) atau turun 15% ke Rp 880 per saham dengan kontribusi pelemahan 13,67 indeks poin.

Kemudian ada Chandra Asri Pacific (TPIA) yang juga ARB (-14,88%) ke Rp 3.660 per saham dengan sumbangan pelemahan 13 indeks poin.

Lalu ada saham Barito Renewables Energy (BREN) yang turun ke level Rp 2.880 per saham dan tidak lagi menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di RI. Kontraksi saham BREN berimbas pada pelemahan 10 indeks poin.

Kemudian ada juga saham AMMN yang pekan lalu ditendang dari indeks MSCI dan menyumbang atas pelemahan 9,12 indeks poin.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |