Bukan Negara Lemah, Iran Pernah Terlibat Perang Selama 700 Tahun

2 hours ago 4

amalia Zahira,  CNBC Indonesia

13 March 2026 02:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS) menjadi kekhawatiran besar dunia bulan ini. Setelah 13 hari perang meletus, belum ada tanda-tanda mereda. Kegigihan Iran melawan musuh-musuhnya memang sudah terbukti dalam beberapa perang sebelumnya, bahkan jauh di era cikal bakal Negara Para Mullah ketika masih berstatus sebagai Kekaisaran Persia.

Sejak Revolusi Islam pada 1979, Iran menjadi salah satu aktor paling aktif dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Keterlibatan Iran tidak hanya terjadi dalam perang langsung antar negara, tetapi juga melalui konflik regional, dukungan terhadap milisi, hingga perang proksi yang mempengaruhi dinamika geopolitik kawasan.

Di antara perang dan konflik yang melibatkan Iran adalah Perang Iran-Irak (1980-1988), pemberontakan Kurdi dan Separatis (1979-1990-an), konflik Irak Pasca Invasi AS (2003-sekarang), Perang Suriah dan Yaman hingga melawan Israel.

Terbaru, Iran berkonfrontasi langsung dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) di bawah pimpinan Presiden Donald Trump.

Iran Sudah Terbiasa Menjalani Perang Panjang

Jauh sebelum Revolusi Islam meletus pada 1979, Iran sudah beberapa kali mengalami perang panjang, termasuk saat masih bernama Persia.

Persia adalah sebutan kuno untuk wilayah yang sekarang dikenal sebagai Iran. Nama "Persia" berasal dari Parsa, wilayah di Iran barat daya yang menjadi pusat awal kekaisaran Persia kuno. Dari wilayah inilah lahir beberapa kekaisaran besar seperti Achaemenid, Parthia, dan Sassania, yang pernah menguasai wilayah luas di Asia dan Afrika Utara.

Selama berabad-abad, dunia kuno menyaksikan duel antara dua kekuatan terbesar di Eurasia yakni Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Persia. Kedua imperium ini berhadapan langsung di Timur Dekat dan terlibat dalam konflik panjang yang berlangsung lebih dari enam abad.

Konflik dimulai pada masa akhir Republik Romawi pada abad pertama sebelum Masehi dan terus berlanjut hingga era Kekaisaran Bizantium pada abad ke-7 Masehi. Di sisi Persia, konflik ini melibatkan dinasti Parthia dan Sassaniyah.

Durasi perang memakan waktu 682 Tahun (54 SM-628 M)

Perang Roma-Persia merupakan perang ratusan tahun yang terputus-putus antara Kekaisaran Roma dan Kekaisaran Parthia. Perang ini berlangsung hingga hamir 700 tahun dan secara signifikan melibatkan kontrol Mesopotamia dan Armenia, dan rute perdagangan strategis. Kedua kekaisaran akhirnya melemah akibat konflik berkepanjangan mereka sendiri sehingga memberikan kesempatan bagi kemunculan Kekhalifahan Islam.

Ambisi, Ketakutan, dan Keserakahan

Ambisi, ketakutan, dan keserakahan menjadi motif utama konflik panjang ini. Bagi banyak jenderal Romawi, perang melawan Persia adalah peluang untuk meraih kejayaan politik.

Ambisi inilah yang mendorong tokoh seperti Marcus Licinius Crassus menyerang Persia pada 53 SM. Ia berharap menandingi kejayaan rivalnya, Julius Caesar dan Pompey. Namun ekspedisi itu berakhir dengan bencana di Carrhae, ketika pasukan Romawi dihancurkan oleh kavaleri Parthia. Ribuan tentara tewas atau ditangkap, sementara Crassus sendiri terbunuh.

Motif lain adalah keamanan dan kekayaan. Mesopotamia merupakan salah satu wilayah paling makmur di dunia kuno, dengan pertanian subur dan jaringan kota kuno yang kaya. Menguasai kawasan ini berarti menguasai jalur perdagangan dan sumber daya besar. Tidak heran jika kedua imperium terus mencoba menguasainya, meski biaya perang sangat mahal.

Namun karena kekuatan Romawi dan Persia relatif seimbang, setiap kali salah satu pihak meraih kemenangan besar, mereka sering terdorong untuk memperluas wilayah terlalu jauh. Akibatnya, mereka kelelahan secara militer dan ekonomi, sehingga lawan bisa bangkit kembali.

Kerugian Besar, Hasil Kecil

Selama berabad-abad, perang ini menghabiskan sumber daya besar dari kedua imperium. Kota-kota perbatasan berkali-kali hancur dan dibangun kembali. Tentara dalam jumlah besar dikerahkan, dan para kaisar maupun raja silih berganti melancarkan ekspedisi militer mahal.

Sejumlah tokoh besar dalam sejarah ikut terlibat dalam konflik ini:

Meski demikian, setelah enam abad perang, perubahan wilayah yang benar-benar permanen hampir tidak ada. Perbatasan antara kedua imperium tetap relatif sama, terutama di sekitar Sungai Efrat dan Mesopotamia utara.

Pemenangnya Bukan Mereka

Babak terakhir konflik ini terjadi pada awal abad ke-7, ketika perang besar antara Bizantium dan Persia kembali meletus. Raja Persia Khusro II sempat menaklukkan wilayah luas dari Suriah hingga Mesir. Namun Kaisar Bizantium Heraclius kemudian melakukan serangan balik dan menghancurkan pasukan Persia pada 627.

Perang besar itu menguras kekuatan kedua imperium. Ekonomi melemah, tentara habis, dan wilayah perbatasan porak-poranda.

Di saat kedua raksasa ini kelelahan, muncul kekuatan baru dari Jazirah Arab. Dalam beberapa dekade setelah wafatnya Nabi Muhammad, pasukan Arab berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah Persia serta provinsi-provinsi penting Bizantium seperti Suriah, Palestina, dan Mesir.

Kekaisaran Sassaniyah runtuh sepenuhnya pada 651. Sementara Bizantium bertahan, tetapi kehilangan sebagian besar wilayahnya di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Setelah lebih dari 600 tahun perang, jawaban atas pertanyaan siapa yang menang dalam konflik Romawi dan Persia justru mengejutkan. Kemenangan akhirnya justru diraih oleh kekuatan baru yang muncul ketika kedua imperium itu sudah kelelahan oleh perang panjang, bangsa Arab di bawah Kekhalifahan Islam.

Sejarah konflik Romawi-Persia menunjukkan pelajaran klasik dalam geopolitik. Persaingan yang didorong oleh nafsu duniawi hanya akan merugikan banyak pihak, karena menguras energi dan sumber daya tanpa menghasilkan keuntungan.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |