China Gelar Rapat Akbar Saat Perang Memanas, Stimulus Selamatkan RI?

2 hours ago 5
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG melemah sementara rupiah menguat
  • Wall Street ambruk berjamaah di tengah kekhawatiran harga minyak
  • Stimulus lebaran, perang Iran serta pertemuan besar di China akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam kemarin, Selasa (3/3/2026). Bursa saham melemah sementara rupiah menguat.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,91% atau 73,18 poin ke level 7.943,65 pada perdagangan Selasa (3/3/2026).

Sebanyak 347 saham turun, 343 naik, dan 128 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 27,76 triliun, melibatkan 41,37 miliar saham dalam 2,78 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun tergerus menjadi Rp 14.194 triliun.

Investor asing mencatat net buy yang sangat besar yakni Rp 3.45 triliun, sekaligus membaliikkan net sell pada Senin.

Penutupan perdagangan menunjukkan volatilitas IHSG masih terbilang tinggi. Pada pagi hari, indeks sempat lompat 1%, sebelumnya akhirnya memangkas penguatan menjadi 0,3%.

Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Energi bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,24%.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah menutup perdagangan Selasa (3/3/2026) di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menguat tipis 0,03% ke level Rp16.850 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat tertekan 0,57% ke posisi Rp16.855 per dolar AS.

Di sisi lain, dolar AS kembali menguat di pasar global seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah pascaserangan militer AS ke Iran. Kondisi ini mendorong investor memburu dolar sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian.

Penguatan greenback juga ditopang oleh kedalaman pasar keuangan AS, terutama pasar obligasi pemerintah atau US Treasury, yang kerap menjadi tujuan utama arus modal saat pelaku pasar mengurangi risiko. Situasi tersebut membuat banyak mata uang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan terus mencermati dinamika global dan menilai eskalasi konflik telah memicu sentimen risk off. BI memastikan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sesuai fundamental

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 6,54% pada Selasa, yang menandai rekor tertinggi sejak Agustus 2025.

Lonjakan imbal hasil menandai adanya aksi jual yang membuat harga SBN jatuh sehingga imbal hasil naik.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |