Daftar Sektor Bisnis Ini Masih Butuh Kucuran Kredit dari Bank

11 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sejumlah sektor usaha yang masih membutuhkan kucuran kredit dari perbankan, karena memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, daftar sektor ini diperoleh dari hasil penilaian terhadap credit gap, yakni selisih antara kredit yang telah diberikan perbankan kepada sektor-sektor itu dibandingkan dengan potensi pertumbuhan yang mereka miliki.

"Jadi kami juga melakukan asesmen, kita melihat dari berbagai sektor, kita melihat credit gap," kata Destry saat konferensi pers, Rabu (20/5/2026).

Destry mengatakan, untuk sektor pertama ialah pertanian. Menurutnya, meskipun dalam struktur produk domestik bruto (PDB) Indonesia kontribusinya mencapai 12,67%, namun pertumbuhannya baru 4,97% pada kuartal I-2026.

"Sehingga artinya dia masih punya ruang sebenarnya untuk mendapatkan kucuran kredit dari bank-bank," ucap Destry.

Sektor kedua ialah perdagangan. Menurut Destry, selama ini sektor tersebut belum mendapatkan kucuran kredit yang optimal dari perbankan, karena porsinya terhadap PDB mencapai 13,28% dengan pertumbuhan 6,26%.

"Perdagangan kalau kita lihat, konsumsi masyarakat ini kan baik dalam PDB kita kemarin dengan pertumbuhan di atas 5%," tutur Destry.

"Tapi kredit yang diberikan di sektor perdagangan ini masih relatif rendah, yaitu baru 3,9%. Nah jadi kita melihat beberapa sektor-sektor yang mempunyai credit gap negatif," tegasnya.

Dengan berbagai catatan itu, Destry menekankan, BI mendorong perbankan untuk menggencarkan kredit ke sektor-sektor yang memiliki credit gap tinggi ini.

"Nah ini yang tentu kita ingin mendorong bank-bank itu bisa menyeluruhkan kepada sektor-sektor tersebut.
Apalagi sektor tersebut mempunyai dampak multiplier terhadap perekonomian dan juga penciptaan lapangan kerja yang sangat besar," ungkap Destry.

BI sebetulnya sudah menerapkan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang termasuk ke dalam sektor prioritas itu.

Mencakup sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, sektor Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, sektor Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta sektor UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan.

Hingga minggu pertama Mei 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp 424,7triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp 361,0 triliun serta interest rate channel sebesar Rp 63,7 triliun.

Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN sebesar Rp214,2 triliun, BUSN sebesar Rp171,1 triliun, BPD sebesar Rp30,6 triliun, dan KCBA sebesar Rp8,2 triliun.

Dari sisi kinerja kredit perbankan, sebetulnya pada April 2026 masih mampu tumbuh sebesar 9,98% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 9,49% (yoy).

Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada April 2026 masing-masing tumbuh sebesar 19,48% (yoy), 6,04% (yoy), dan 6,13% (yoy).

Bank Indonesia pun memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12%. Prospek ini didukung oleh masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) sebesar Rp2.551,42 triliun atau 22,57% dari plafon kredit yang tersedia.

Selain itu, masih memadainya kapasitas pembiayaan bank tecermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 25,39% dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 11,39% (yoy) pada April 2026.

Efisiensi suku bunga perbankan juga dapat ditingkatkan, karena pada April 2026 suku bunga kredit tercatat sebesar 8,73% dan suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,16%. 

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |