Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
24 February 2026 17:50
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga indium masuk daftar komoditas dengan kenaikan paling tajam tahun ini.
Merujuk Refinitiv, indium diperdagangkan di kisaran US$ 525 per kilogram per akhir Januari 2026 atau sekitar Rp 9,25 juta per kg atau Rp 9,25 miliar per ton (US$1= Rp 16.825). Harga ini adalah yang tertinggi sejak 2015 atau satu dekade terakhir.
Data Trading Economic menunjukkan harganya sudah melonjak CNY 4.450 per kg atau Rp 10,88 juta per kg atau Rp 10,88 miliar per ton.
Dalam sebulan harga naik sekitar 27%, sementara kenaikan tahunan mendekati 70%. Lonjakan ini terjadi ketika pasokan global relatif terbatas sementara industri elektronik terus menyerap material tersebut.
Foto: Trading Economics
Pergerakan Harga Indium
Indium, yang digunakan dalam layar sentuh, semikonduktor canggih, dan teknologi surya baru, telah mencapai harga tertinggi dalam lebih dari satu dekade di pasar Barat. Kenaikan ini didorong oleh aktivitas spekulatif di sebuah bursa Tiongkok serta pasokan yang semakin ketat, menurut sumber pasar.
Lonjakan harga ini kembali menarik perhatian pada pasar yang relatif kecil namun strategis penting, yang didominasi oleh produsen Asia.
Menurut United States Geological Survey, China menguasai 70% produksi indium olahan global pada 2024.
Data bea cukai menunjukkan ekspor indium mentah turun lebih dari 23% dalam sebulan pada Desember 2025 menjadi 22,72 metrik ton.
Korea Selatan menyumbang sekitar 17% dari total produksi global tahun lalu sebesar 1.080 ton.
"Pasokan indium mentah yang ketat adalah masalah struktural jangka panjang, yang semakin diperparah oleh kebijakan perlindungan lingkungan Tiongkok yang makin ketat," kata Cristina Belda, analis senior di Argus, kepada Reuters.
Indium terutama diperoleh sebagai produk sampingan dari pemrosesan seng, dan diekstraksi dari residu peleburan, bukan dari penambangan utama.
"Jika melihat ekstraksi seng, Tiongkok mengendalikan sebagian besar proses pengolahannya. Dalam beberapa tahun ke depan, harga indium diperkirakan terus meningkat secara stabil, karena pasokannya tidak elastis," kata Julia Khandoshko, CEO broker Eropa Mind Money.
"Ini adalah bahan baku kritis yang konsumsinya terus meningkat sementara pasokan tidak mampu mengimbangi." Imbuhnya.
Permintaan indium didukung oleh teknologi energi bersih yang sedang berkembang, terutama untuk sel surya efisiensi tinggi berbasis indium tin oxide dan chip canggih, menurut sumber pasar.
Badan Logistik Pertahanan Amerika Serikat (U.S. Defense Logistics Agency) pada 15 Januari menerbitkan permintaan penawaran untuk membeli hingga $125 juta ingot indium kemurnian tinggi untuk kebutuhan pertahanan.
Indium jarang muncul dalam pembahasan komoditas. Nama logam ini lebih dikenal di kalangan industri elektronik dan material maju. Indium merupakan logam lunak berwarna perak yang stabil di udara dan air. Unsur ini ditemukan pada abad ke-19 ketika peneliti Jerman mengamati garis spektrum berwarna nila yang menjadi asal nama indium.
Cadangan indium tergolong kecil. Kandungannya di kerak bumi sekitar 0,1 bagian per juta. Produksi komersial berasal dari pemurnian bijih seng. Indium muncul sebagai produk sampingan pengolahan logam dasar seperti seng, timbal, tembaga, dan besi. Ketersediaan sangat bergantung pada produksi seng dunia.
Konsumsi indium didominasi industri layar elektronik. Sekitar separuh produksi global digunakan untuk membuat indium tin oxide atau ITO. Bahan ini menghantarkan listrik sekaligus tembus cahaya. Lapisan ITO dipasang pada layar sentuh, televisi layar datar, dan panel surya.
Indium juga dipakai dalam industri semikonduktor. Senyawa indium menjadi bahan transistor dan mikrochip. Kebutuhan meningkat mengikuti produksi perangkat elektronik, kendaraan listrik, dan teknologi energi surya.
Karakter logam ini menentukan kegunaannya. Indium mudah melekat pada kaca dan logam lain. Sifat tersebut dimanfaatkan untuk pelapis kaca bangunan dan material optik. Titik lelehnya rendah sehingga cocok untuk komponen pengaman seperti sistem sprinkler otomatis.
Pasokan global terpusat di Asia Timur. China menjadi produsen utama dunia, diikuti Korea Selatan dan Jepang. Struktur produksi seperti ini membuat harga sensitif terhadap gangguan pasokan.
Lonjakan harga indium terjadi ketika permintaan elektronik tetap tinggi sementara produksi sulit meningkat cepat. Indium tidak ditambang secara langsung sehingga kenaikan produksi bergantung pada industri seng. Situasi ini membuat pasokan sulit merespons perubahan permintaan dalam waktu singkat.
Pergerakan harga indium memberi sinyal baru di pasar material teknologi. Industri layar dan energi surya akan menghadapi biaya bahan baku yang lebih tinggi bila tren kenaikan berlanjut. Logam yang jarang dibahas ini mulai masuk radar pelaku pasar komoditas.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397493/original/081793800_1761810055-SnapInsta.to_569525283_18402218281189970_8523425264511917268_n.jpg)





