- Pasar keuangan Indonesia di tutup beragam pada perdagangan kemarin, bursa saham ambruk sementara rupiah menguat
- Wall Street bangkit ditopang meredaya kekhawatiran mengenai AI
- Perkembangan tarif AS terbaru hingga pidato kenegaraan Donald Trump akan mewarnai perdagangan hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan kemarin, Selasa (24/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) Surat Berharga Negara (SBN) diburu investor.
Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan hari ini, Rabu (25/2/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.
IHSG pada perdagangan kemarin Selasa masih gagal bertahan di atas level psikologisnya di 8.400 dengan ditutup melemah 1,37% atau turun 115,2 poin ke level 8.280,83.
Sebanyak 567 saham turun, 153 naik, dan 99 tidak bergerak. Nilai transaksi pun mencapai Rp29,51 triliun yang melibatkan 60,75 miliar saham dalam 3,41 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali turun menjadi Rp14.925 triliun.
Meskipun IHSG terkoreksi, investor asing tampak masih melakukan aksi beli dengan total net buy mencapai Rp1,37 triliun.
Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor berada di zona merah dengan penurunan terbesar di pegang oleh sektor konsumer siklikal dengan terkoreksi 3,19%, diikuti sketor properti yang melemah 2,81, serta sektor energi melemah 2,39%.
Emiten-emiten pertambangan pun menjadi penyumbang terbesar pada pelemahan IHSG kemarin. Yang dipimpin oleh PT Amman Mineral Internasional (AMMN) yang harga sahamnya turun 4,49% ke Rp7.450 per lembar dengan kontribusi pelemahan 10,62 indeks poin.
Diikuti PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dengan terkoreksi % dan berkontribusi 9,11 indeks poin. Hingga perusahaan milik Bakrie yakni PT Bumi Resources Minerals (BRMS) yang harus terkoreksi 4,72% ke Rp1.010 per lembar dengan sumbangsih 7,47 indeks poin.
Kemudian ada duo emiten Grup Bakrie, BUMI dan BRMS, serta emiten Grup Barito Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRT) dan PT Barito Renewables Energy (BREN) yang ikut menjadi pemberat kinerja IHSG.
Beralih ke pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan kemarin Selasa di tengah penguatan dolar di pasar global.
Melansir data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.815/US$ atau terdepresiasi 0,18%. Pelemahan ini sekaligus mematahkan tren penguatan rupiah yang terjadi dalam tiga hari perdagangan sebelumnya.
Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sudah berada di zona merah dengan koreksi 0,12% di level Rp16.805/US$. Tekanan kemudian berlanjut hingga rupiah sempat menyentuh Rp16.837/US$, sebelum pelemahan sedikit terpangkas di akhir perdagangan.
Pelemahan rupiah di perdagangan kemarin terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global. Penguatan dolar menandai perubahan arah setelah sebelumnya tertekan pasca putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar tarif resiprokal.
Namun, dinamika kebijakan dagang AS kembali bergerak cepat setelah Trump mengumumkan tarif baru 10% yang kemudian dinaikkan menjadi 15%, sehingga ketidakpastian kembali meningkat dan mendorong minat pelaku pasar pada aset berdenominasi dolar.
Kondisi ini tercermin dari menguatnya DXY, yang mengindikasikan pelaku pasar kembali meningkatkan kepemilikan aset dolar. Pergerakan tersebut pada gilirannya menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor tarif, pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Sejumlah pejabat The Fed masih menekankan kewaspadaan terhadap inflasi, sehingga pasar menilai suku bunga berpeluang bertahan setidaknya hingga pertengahan tahun, sambil menunggu sinyal dari rilis data tenaga kerja dan inflasi berikutnya.
Oleh karena ketidakpastian kebijakan perdagangan dan prospek suku bunga AS yang masih relatif ketat membuat mata uang emerging markets, termasuk rupiah, lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global pada perdagangan hari ini.
Beralih ke pasar obligasi, SBN yang memiliki tenor 10 tahun tercatat mengalami penurunan 0,20% menjadi 6,438%.
Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield turun berarti harga obligasi naik, hal ini menunjukkan investor cenderung untuk masuk ke pasar SBN.
Addsource on Google









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397493/original/081793800_1761810055-SnapInsta.to_569525283_18402218281189970_8523425264511917268_n.jpg)







