FIFA Hukum Denda Asosiasi Sepak Bola Israel Rp3,2 M, Gara-Gara ini

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - FIFA menjatuhkan denda kepada Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) sebesar 150.000 franc Swiss (US$ 190.700) atau setara Rp 3,22 miliar (Rp 16.931/US$), pada Kamis (19/3/2026). Denda itu diberlakukan atas "berbagai pelanggaran" terhadap kewajiban anti-diskriminasi.

Laporan dari Komite Disiplin FIFA menemukan Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) gagal mengambil tindakan berarti terhadap sebuah klub Beitar Jerusalem", terkait perilaku rasis yang terus menerus dan terdokumentasi dengan baik.

Pada Oktober 2024, Palestine Football Association melaporkan dugaan diskriminasi oleh IFA kepada FIFA, yang kemudian memulai penyelidikan. FIFA tidak menjatuhkan sanksi seperti yang diminta oleh federasi Palestina, yang sebelumnya mendesak agar IFA disuspensi

Namun, IFA dinilai gagal mematuhi tujuan statuta FIFA, dalam keputusan panjang yang dirilis komite disiplin. Hal itu juga terkait sejumlah insiden rasis dalam sepak bola Israel.

Selain itu, komite disiplin juga menyoroti sanksi terhadap Beitar yang dinilai tidak memadai dan secara substansi lemah dalam menangani perilaku rasis dan diskriminatif.

"Pendukung klub itu disebut telah terlibat dalam perilaku rasis yang terus menerus dan terdokumentasi dengan baik," kata laporan itu dikutip dari AFP, Jumat (20/3/2026).

"Penggunaan slogan seperti 'forever pure' serta nyanyian berulang yang berisi hinaan etnis seperti teroris yang ditujukan kepada pemain Arab bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari pola sistemik yang melanggar norma perilaku yang pantas dan mencoreng reputasi olah raga."

FIFA juga juga menegaskan bahwa Beitar Jerusalem hanya contoh kecil dari kegagalan yang lebih luas dalam penanganan diskriminasi oleh IFA.

Sebagai bagian dari sanksi, IFA juga diwajibkan menampilkan spanduk besar bertuliskan "Football Unites the World - No to Discrimination 'dalam tiga pertandingan kandang berikutnya di ajang FIFA. Selain itu, sepertiga dari denda harus dialokasikan untuk program pencegahan diskriminasi.

Laporan tersebut juga mengkritik IFA karena tidak merespons pesan bernuansa politik dan militeristik yang disampaikan sejumlah pihak dalam liga domestik, termasuk klub Maccabi Netanya.

IFA dinilai tidak pernah mengeluarkan pernyataan publik yang mengecam rasisme, tidak menjalankan kampanye anti-diskriminasi, serta belum mendorong inklusi pemain Arab maupun Palestina.

Di sisi lain, dalam penyelidikan terpisah, FIFA memutuskan tidak mengambil tindakan terhadap IFA terkait keikutsertaan klub-klub Israel yang berbasis di wilayah Tepi Barat dalam liga domestik. Keputusan itu diambil karena status hukum wilayah tersebut dinilai masih kompleks dan belum terselesaikan dalam hukum internasional.

Federasi Sepak Bola Palestina menyambut putusan tersebut sebagai "langkah awal yang benar", meski menilai keputusan FIFA belum sepenuhnya mencerminkan tingkat pelanggaran yang mereka ajukan.

Kasus ini kembali menyoroti isu rasisme dan politisasi dalam sepak bola, serta tantangan bagi otoritas olahraga global dalam menegakkan prinsip kesetaraan dan inklusivitas.

Read Entire Article
Photo View |