Harga BBM Non Subsidi Diramal Naik 1 April 2026, Ini Alasannya

6 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi diperkirakan bakal mengalami kenaikan mulai 1 April 2026. Hal ini sejalan dengan tekanan harga minyak dunia yang masih tinggi, serta meningkatnya beban kompensasi energi dalam negeri.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi naik sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter.

Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan kompensasi yang harus ditanggung pemerintah kepada PT Pertamina (Persero). Tanpa realokasi anggaran besar dalam APBN, selisih antara harga keekonomian dan harga jual BBM dinilai semakin sulit ditanggung.

"APBN tanpa ada realokasi yang besar tidak bisa menanggung selisih harga keekonomian. Atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding," ungkap Bhima kepada CNBC Indonesia, Senin (30/3/2026).

Selain itu, tingginya harga minyak dunia yang bertahan di kisaran US$90 hingga US$115 per barel turut menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga BBM non subsidi per 1 April ini.

Bhima menilai kondisi ini berpotensi berlanjut dan bahkan dapat menyeret kebijakan harga BBM subsidi. Dampaknya, kenaikan harga BBM akan merambat ke berbagai sektor ekonomi, terutama pangan.

"Transmisinya dari BBM ke mana-mana termasuk ke inflasi pangan. inflasi bisa tembus 6-7% di bulan April. sementara Indonesia belum punya mitigasi krisis energi dibanding negara lainnya. ini disebut Quite before the Storm, terlalu santai dan anggap enteng," ujarnya.

Perlu diketahui, harga minyak dunia kembali melesat pada awal pekan ini di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian meluas. Pada Senin (30/3/2026) pukul 09.40 WIB, harga minyak jenis Brent tercatat di US$116,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$102,88 per barel.

Penguatan ini memperpanjang tren kenaikan tajam dalam beberapa hari terakhir. Dibandingkan posisi Jumat (27/3/2026), harga Brent telah naik dari US$112,57 per barel, sementara WTI menguat dari US$99,64. Bahkan jika ditarik sejak awal pekan lalu, lonjakan terlihat semakin signifikan-dari level US$99,94 pada 23 Maret menjadi di atas US$116 saat ini.

Begitu juga dengan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang juga mengalami pelemahan. Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi ini di level Rp16.970/US$ atau melemah 0,06%. Pergerakan ini melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, saat rupiah ditutup melemah 0,38% ke posisi Rp16.960/US$ pada Jumat (27/3/2026).

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,04% ke level 100,194.

Adapun harga BBM non subsidi di Indonesia biasa dilakukan penyesuaian pada awal bulan atau pada tanggal 1 setiap bulannya. Perubahan harga BBM non subsidi dengan mempertimbangkan harga minyak mentah rata-rata Indonesia (ICP) selama dua bulan terakhir, serta Mean of Platts Singapore (MOPS), dan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |