Harga Pestisida Mau Naik 30%, Mentan Kasih Batas Segini

4 hours ago 5

Makassar, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengingatkan produsen dan pedagang pestisida agar tidak menaikkan harga secara berlebihan di tengah tekanan geopolitik global yang memicu kenaikan biaya produksi. Peringatan ini disampaikan menyusul sinyal dari pelaku industri pestisida yang berencana menaikkan harga 20%-30% akibat lonjakan harga bahan baku impor dan pelemahan rupiah.

Menanggapi hal tersebut, Amran menilai kenaikan harga pestisida seharusnya tidak terjadi terlalu tinggi atau tetap dalam batas wajar. Ia mengaku, memahami industri pestisida karena memiliki pengalaman langsung di bidang tersebut, sebelum menjabat sebagai Menteri Pertanian.

"Kalau bisa jangan dinaikkan banyak-banyak. Aku kan punya dulu pabrik pestisida, rodentisida. Tapi saya sudah tutup, karena saya jadi Menteri," kata Amran saat ditemui di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (5/4/2026).

Amran pun meminta para pelaku usaha untuk tidak mengambil keuntungan berlebih di tengah situasi saat ini, serta tetap mempertimbangkan kondisi petani.

"Nah, sekarang aku minta, Anda kan sudah untung puluhan tahun. Tolong dong mengabdi pada negara kita. Bolehlah untung, tapi jangan tinggi-tinggi. Kenapa? Ini kita harus peduli pada saudara kita. Jangan ambil untung banyak. Sampai naikkan 30 (persen) Karena aku punya penemuan. Kami punya pabrik. keahlian saya di situ," ujarnya.

Namun, Amran menyebut kegunaan pestisida dalam pertanian tidak terlalu signifikan, karena volume penggunaannya relatif kecil dibandingkan komponen produksi lain di sektor pertanian.

"Begini, pestisida itu kuantumnya tidak terlalu besar, kan? Mudah-mudahan tidak ada hama. Jadi kuantumnya kan tidak terlalu besar, yang paling berbahaya adalah pupuk. Nah, itu bahaya tuh," terang dia.

Ia menekankan, pemerintah telah menyiapkan berbagai dukungan untuk menjaga produktivitas pertanian, mulai dari alat mesin pertanian (alsintan) hingga infrastruktur irigasi.

"Pengolahan tanah, alat mesin pertanian kita sudah siapkan, pompanisasi. Itu bantuan pemerintah. Irigasi, bantuan pemerintah. Jadi, petani Indonesia aman," ucapnya.

Saat ditanya mengenai batas kenaikan harga yang masih dapat ditoleransi, Amran menyebut angka kenaikan sebaiknya tetap rendah.

"Ya, kecil lah. Jangan naik banyak-banyak," kata Amran.

"5 persen, 10 persen. Ini kan yang penting untung dulu," sambungnya.

Ia juga memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk penyediaan pestisida oleh pemerintah jika diperlukan.

"Ya kan, itu jumlahnya kecil. Tapi memang kita siapkan juga pestisida dari pemerintah. Jadi, nggak lah. Nggak usah khawatir," tegas Amran.

Sebelumnya, produsen pestisida nasional melalui Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI) menyatakan akan menaikkan harga produk sekitar 20% hingga 30%. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bahan aktif impor dari China yang sensitif terhadap harga minyak, serta kenaikan biaya bahan pelarut berbasis minyak dan kemasan plastik.

Ketua Umum APROPI Yanurius Nunuhitu menyebut tekanan biaya semakin berat akibat situasi geopolitik global yang menyebabkan kelangkaan bahan baku serta pelemahan nilai tukar rupiah. Bahkan, harga solvent dilaporkan naik hingga lebih dari 60%, sementara kemasan plastik ikut terdampak kenaikan harga.

Selain berpotensi meningkatkan biaya produksi petani, kenaikan harga pestisida juga dikhawatirkan memicu peredaran produk palsu di pasar. Karena itu, pelaku industri meminta pemerintah turut mengawasi mutu produk sekaligus menyiapkan langkah mitigasi untuk melindungi petani.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |