Israel "Cemburu" Jika AS Deal dengan Iran, Netanyahu Ungkap Alasannya

2 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Israel dikabarkan mulai cemas terhadap arah negosiasi yang tengah dijalankan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Iran. Sejumlah sumber Israel menyebut Tel Aviv khawatir Washington akan menyepakati perjanjian damai dengan Teheran sebelum seluruh target utama perang benar-benar tercapai.

Kekhawatiran itu muncul di tengah proses diplomasi antara AS dan Iran yang terus berlangsung setelah perang selama berminggu-minggu mengguncang Timur Tengah dan memicu lonjakan harga energi global. Israel menilai kesepakatan parsial hanya akan memberi napas baru bagi Iran tanpa benar-benar melumpuhkan kemampuan militernya.

Beberapa sumber Israel kepada CNN mengatakan skenario paling dikhawatirkan adalah jika Trump menerima kesepakatan yang masih membiarkan sebagian program nuklir Iran tetap berjalan, sementara isu rudal balistik dan jaringan proksi Iran di kawasan justru dikesampingkan.

"Perhatian utama adalah Trump akan lelah dengan pembicaraan dan menyepakati kesepakatan apa pun, dengan konsesi di menit-menit terakhir," kata salah satu sumber Israel, dikutip Rabu (13/5/2026).

Sumber itu mengatakan pejabat AS memang sudah meyakinkan Israel bahwa stok uranium Iran dengan tingkat pengayaan tinggi akan dibahas dalam negosiasi. Namun, absennya pembahasan soal rudal balistik dan kelompok proksi Iran dianggap sebagai persoalan besar bagi Tel Aviv.

"Ini masalah besar," ujarnya.

Selama perang berlangsung, Iran diketahui menembakkan lebih dari 1.000 rudal balistik ke wilayah Israel dan negara-negara Arab Teluk, selain meluncurkan rentetan drone serangan.

Menurut para pejabat Israel, kesepakatan parsial yang gagal menyentuh kemampuan utama Iran tetapi justru meringankan tekanan ekonomi terhadap Teheran berpotensi menstabilkan rezim Iran dan memberi suntikan dana baru dalam jumlah besar.

Situasi ini memperlihatkan mulai munculnya jarak pandangan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump dinilai enggan kembali melanjutkan perang, sementara Netanyahu khawatir konflik akan berakhir tanpa memenuhi seluruh tujuan awal operasi militer terhadap Iran.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan Iran memahami posisinya saat ini tidak berkelanjutan. Ia menyebut Trump masih memegang kendali penuh dalam negosiasi.

"Mereka tahu betul realitas mereka saat ini tidak berkelanjutan," kata Wales.

"Rudal balistik mereka hancur, fasilitas produksinya dibongkar, angkatan laut mereka tenggelam, dan proksi mereka melemah," lanjutnya.

"Sekarang mereka dicekik secara ekonomi oleh Operasi Economic Fury dan kehilangan US$500 juta per hari berkat blokade pelabuhan Iran yang sukses dilakukan militer Amerika Serikat."

Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan damai permanen masih jauh dari pasti. AS dan Iran disebut masih memiliki perbedaan besar terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran.

Israel bahkan disebut mulai bersiap menghadapi kemungkinan perang kembali pecah jika diplomasi gagal total.

Di sisi lain, pemerintahan Trump tetap mendorong jalur diplomasi karena tampak tidak ingin kembali terjebak dalam konflik berkepanjangan yang sudah menyebabkan harga bensin di AS melonjak tajam.

Pada awal perang, Trump sempat menyatakan AS ingin menghancurkan program rudal balistik Iran, mengakhiri dukungan Teheran terhadap kelompok proksi regional, dan menutup fasilitas nuklir Iran agar negara itu tidak pernah bisa membuat bom nuklir.

Namun setelah 10 minggu konflik berjalan, fokus negosiasi kini menyempit hanya pada uranium Iran, khususnya pengayaan hingga level senjata, dan pembukaan Selat Hormuz.

Perubahan fokus itu juga mulai terlihat dalam pernyataan Netanyahu sendiri.

Dalam pidatonya di Yerusalem pada Februari lalu, sebelum perang pecah, Netanyahu menyebut ada lima syarat bagi kesepakatan yang bisa diterima Israel, yakni penghapusan seluruh uranium yang diperkaya, pembongkaran kemampuan pengayaan, penyelesaian isu rudal balistik, pembubaran jaringan proksi regional Iran, serta inspeksi nuklir yang ketat.

Namun pekan lalu, Netanyahu hanya menekankan satu poin utama.

"Tujuan paling penting adalah penghapusan material yang diperkaya dari Iran, seluruh material yang diperkaya, dan pembongkaran kemampuan pengayaan Iran," katanya dalam pidato video sebelum rapat kabinet keamanan Israel.

Ia tidak lagi menyinggung rudal balistik maupun dukungan Iran terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Salah satu sumber yang mengetahui jalannya diskusi menyebut Israel memahami bahwa isu rudal dan proksi "kemungkinan sudah tidak ada di meja" karena tidak tercantum dalam rancangan awal diplomasi.

Karena itu, Netanyahu kini memprioritaskan uranium Iran sebagai ancaman paling mendesak.

Sumber Israel lain mengatakan Netanyahu sangat mengandalkan komunikasi langsung dengan Trump. Ia disebut tidak sepenuhnya percaya kepada utusan Trump Steve Witkoff maupun menantu Trump, Jared Kushner, yang memimpin negosiasi dengan Iran.

Netanyahu bahkan disebut menyusun diplomasi jalur belakang sendiri dengan Iran melalui informasi intelijen dari Pakistan, Qatar, dan Iran.

"Ada kekhawatiran nyata bahwa Trump akan mencapai kesepakatan buruk. Israel berusaha memengaruhinya semaksimal mungkin," kata seorang pejabat Israel lainnya kepada CNN.

Meski demikian, Netanyahu juga berhati-hati agar tidak terlihat mendorong Trump kembali ke medan perang.

Gedung Putih membela Witkoff dan Kushner dengan menyebut keduanya mendapat "kepercayaan penuh" dari Trump dan memiliki "rekam jejak keberhasilan", termasuk dalam mengakhiri perang Gaza.

Israel juga khawatir jika tekanan ekonomi terhadap Iran dilonggarkan, bahkan sebagian saja, maka pemerintahan Teheran akan kembali stabil pada saat sebenarnya sedang berada dalam posisi lemah.

Mantan penasihat keamanan nasional Netanyahu, Meir Ben Shabbat, dalam tulisannya di surat kabar Israel Makor Rishon akhir pekan lalu mengatakan setiap kesepakatan harus mencegah Iran pulih sepenuhnya.

Ia bahkan mengutip pernyataan Trump sebelumnya bahwa "mungkin lebih baik tidak ada kesepakatan sama sekali" dibanding perjanjian yang tidak memenuhi target Israel.

Kekhawatiran terbesar Israel saat ini adalah kemungkinan tercapainya kesepakatan sementara yang hanya memperpanjang gencatan senjata, membuka kembali Selat Hormuz, dan mengurangi tekanan ekonomi terhadap Iran tanpa menyentuh isu nuklir sama sekali.

Iran sendiri disebut bersikeras bahwa kesepakatan awal hanya mencakup pencabutan sanksi dan pembukaan Selat Hormuz, sementara isu nuklir dibahas pada tahap berikutnya.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan negaranya masih dalam status siaga tinggi menghadapi kemungkinan negosiasi runtuh sewaktu-waktu.

"Tangan kami berada di denyut nadinya. Kami akan senang jika tidak ada kesepakatan, kami akan senang jika pengepungan Hormuz terus berlanjut, dan kami akan senang jika Iran mendapat beberapa serangan lagi," katanya.

Meski demikian, ia mengakui keputusan akhir tetap berada di tangan Trump.

Menurutnya, eskalasi baru tetap sangat mungkin terjadi "jika Iran terus bermain-main dan menyeret negosiasi."

Sumber lain mengatakan AS dan Israel hingga kini masih terus berkoordinasi terkait kemungkinan opsi militer terhadap Iran jika diplomasi gagal, termasuk serangan ke fasilitas energi, infrastruktur penting, hingga operasi pembunuhan terhadap pimpinan Iran.

Ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan parlemen Israel, Boaz Bismuth, juga menggambarkan suasana di internal Israel lewat unggahan di media sosial usai menerima pengarahan rahasia dari pimpinan militer.

"Pilihannya negosiasi atau ledakan," tulisnya.

Salah satu sumber Israel juga menyebut ide soal "sunset clause" mulai muncul dalam negosiasi. Klausul itu memungkinkan sebagian pembatasan terhadap Iran berakhir setelah jangka waktu tertentu.

Skema tersebut dinilai mirip dengan perjanjian nuklir Iran tahun 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati pada era Presiden Barack Obama.

Baik Netanyahu maupun Trump selama ini dikenal sebagai pengkritik keras JCPOA. Israel kini khawatir kerangka negosiasi terbaru kembali mengandung elemen serupa.

Karena itu Israel mendorong dua klausul tambahan dimasukkan ke dalam kesepakatan, yakni larangan penuh pengayaan uranium selama masa sunset clause berlaku, serta pembongkaran fasilitas bawah tanah Fordow dan lokasi Pickaxe Mountain yang diyakini menjadi pusat pengembangan kemampuan nuklir Iran.

Seorang pejabat senior militer Israel bahkan menegaskan bulan lalu bahwa perang akan dianggap gagal jika uranium hasil pengayaan Iran tidak berhasil dikeluarkan seluruhnya dari negara tersebut.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |