Kiamat Iklim Tewaskan 832.000 Orang, Gelombang Panas Pembunuh No. 1

9 hours ago 6

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

21 March 2026 19:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Cuaca ekstrim telah menjadi ancaman nyata yang persisten bagi populasi global. Sepanjang periode 1995 hingga 2024, berbagai fenomena cuaca ekstrem tercatat telah merenggut lebih dari 832 ribu nyawa di seluruh dunia.

Tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, rentetan bencana alam ini juga menghasilkan kerugian ekonomi langsung yang sangat masif, mencapai US$ 4,5 triliun atau sekitar Rp 76.365 triliun (US$1= Rp 16.970) hampir setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris.

Data terbaru dari laporan Climate Risk Index 2026 yang dirilis oleh Germanwatch mengungkapkan adanya divergensi yang mencolok antara jenis bencana yang memakan korban jiwa terbanyak dan bencana yang menyebabkan kerugian finansial terbesar

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kerusakan infrastruktur fisik tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah fatalitas.

Pembunuh Senyap Tanpa Jejak Kerusakan

Gelombang panas tercatat menempati posisi puncak sebagai bahaya cuaca paling mematikan di dunia. Bencana iklim ini bertanggung jawab atas 278.395 kematian secara global selama tiga dekade terakhir.

Suhu panas yang ekstrim mampu memperburuk kondisi kesehatan individu secara drastis, sementara serangan panas dapat berakibat fatal secara instan.

Meski memiliki tingkat fatalitas tertinggi, gelombang panas justru mencatatkan kerugian ekonomi paling rendah, yakni sebesar US$ 32,9 miliar. Hal ini menekankan statusnya sebagai "silent predator" yang menelan korban jiwa secara senyap tanpa merusak infrastruktur.

Dampaknya pun kerap terjadi di wilayah beriklim sejuk. Pada tahun 2022, lebih dari 60 ribu orang di Eropa meninggal akibat cuaca panas ekstrim, menyusul tragedi serupa di Rusia pada 2010 yang menewaskan 56 ribu orang.

Badai Pemicu Kerugian Finansial Terbesar

Berada di posisi kedua, badai mengakibatkan 274.750 korban jiwa. Berbeda dengan gelombang panas, badai meninggalkan jejak kehancuran material yang sangat signifikan.

Kerugian ekonomi akibat badai menyentuh angka US$ 2,6 triliun, menjadikannya beban finansial terbesar dibandingkan seluruh bahaya cuaca lainnya.

Beberapa negara menanggung beban yang lebih berat akibat tingkat eksposur yang tinggi. Sebagai contoh, Siklon Nargis di Myanmar pada tahun 2008 menewaskan lebih dari 138 ribu jiwa, sementara Badai Mitch di Honduras memicu kerugian material sebesar US$ 7 miliar dan merenggut 14 ribu nyawa.

Bencana lain seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan menyusul dengan tingkat kerusakan dan korban jiwa yang juga tidak dapat diabaikan dampak turunannya.

Beban Berat Negara Berkembang

Laporan ini juga memberikan sorotan tambahan pada fakta bahwa dampak cuaca ekstrim secara tidak ideal membebani negara-negara berkembang (Global South).

Enam dari sepuluh negara yang paling terdampak merupakan negara berpendapatan menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan fiskal untuk melakukan adaptasi iklim.

Menghadapi tantangan ini, kesepakatan internasional pada COP30 di Brasil telah menetapkan komitmen untuk memobilisasi dana sebesar US$ 1,3 triliun per tahun hingga 2035 guna mendukung ketahanan iklim global.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |