Jakarta, CNBC Indonesia - Dua spesies marsupial yang selama ini diyakini punah 6.000 tahun lalu, kini dipastikan masih hidup di hutan hujan Papua, Indonesia.
Penemuan ini merupakan hasil penelitian yang lama danpanjang. Petunjuk awal tentang keberadaan marsupial tersebut muncul sejak 1999 dan membutuhkan banyak bukti fotografis untuk mengkonfirmasinya.
Setelah hampir tiga dekade pengumpulan bukti, para ilmuwan akhirnya mengonfirmasi keberadaan ring-tailed glider (Tous ayamaruensis) dan pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai) di kawasan terpencil Semenanjung Vogelkop, Papua, Indonesia.
Peneliti utama Tim Flannery menjelaskan bahwa wilayah Vogelkop merupakan bagian kuno dari benua Australia yang kini menyatu dengan Pulau Nugini.
"Hutan-hutannya mungkin masih menyimpan lebih banyak peninggalan tersembunyi dari masa lalu Australia," ujarnya, dikutip CNBC Indonesia dari LiveScience, Sabtu (4/4/2026).
Marsupial adalah mamalia yang memiliki kantong khas untuk membawa anaknya hingga berkembang sempurna. Sebelumnya, pygmy long-fingered possum dan ring-tailed glider hanya diketahui ilmuwan melalui fosil di Australia yang berasal dari Zaman Es terakhir dan awal periode Holosen.
Secara ilmiah, kedua hewan ini tergolong "Lazarus taxa," yaitu spesies yang sempat menghilang dari catatan fosil dan dianggap punah, sebelum akhirnya ditemukan kembali hidup. Temuan dua spesies sekaligus dinilai sangat langka dalam dunia penelitian.
Penelitian ini juga tidak lepas dari peran penting masyarakat adat Papua, khususnya dari klan Tambrauw dan Maybrat, yang membantu para ilmuwan melacak keberadaan hewan-hewan tersebut di habitat alaminya.
Dari sisi karakteristik, pygmy long-fingered possum dikenal memiliki jari panjang unik yang digunakan untuk mencari makanan di kayu lapuk. Sementara ring-tailed glider memiliki kemampuan melayang antar pepohonan, meski ukurannya lebih kecil dibanding kerabatnya di Australia.
Masih banyak hal yang belum diketahui terkait habitat dan kebutuhan ekologis kedua spesies ini. Lokasi pasti penemuan sengaja dirahasiakan untuk mencegah perburuan ilegal.
Temuan ini dipublikasikan pada 6 Maret dalam dua studi yang telah melalui proses peer-review di jurnal Records of the Australian Museum.
"Temuan ini menegaskan pentingnya melindungi kawasan bioregion unik serta nilai kolaborasi dalam mengungkap dan menjaga keanekaragaman hayati tersembunyi," kata Flannery.
(fab/fab)
Addsource on Google
















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)