Mau Kurban Tapi Susah Nabung? Pakai Asuransi Bisa Lho!

13 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang punya target rutin untuk bisa berkurban setiap tahun. Namun realitanya, tidak sedikit yang gagal karena dana yang sudah disiapkan tanpa disadari justru habis dipakai kebutuhan lain.

Mulai dari cicilan, biaya sekolah anak, nongkrong di cafe, sampai belanja kebutuhan gaya hidup yang membuat tabungan kurban akhirnya "bocor" sebelum Hari Raya Iduladha tiba.

Oleh karena itu, salah satu instrumen keuangan yang bisa digunakan masyarakat untuk disiplin keuangan mengumpulkan dana kurban adalah produk asuransi.

Pertanyaannya, memang bisa? Jawabannya: bisa. Tetapi ada syaratnya. Tidak semua produk asuransi cocok dipakai untuk tujuan tersebut.

Bukan Cuma Proteksi

Pada dasarnya, fungsi utama asuransi adalah memberikan perlindungan finansial ketika terjadi risiko, seperti meninggal dunia atau sakit kritis.

Namun beberapa produk asuransi memiliki fitur nilai tunai, tabungan berkala, atau manfaat akhir kontrak, yang memungkinkan nasabah memperoleh dana cair pada periode tertentu, termasuk kebutuhan dana kurban.

Produk seperti ini biasanya berbentuk asuransi dwiguna (endowment), saving plan, atau asuransi syariah dengan nilai tunai.

Konsep asuransi ini mirip seperti "menabung paksa". Nasabah menyetor premi rutin, lalu sebagian dana masuk ke proteksi dan sebagian lagi membentuk akumulasi nilai tunai.

Melalui konsep ini, nasabah bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus yaitu proteksi risiko dan dana tunai.

Simulasi Dana Kurban

Misalnya seseorang ingin memiliki dana Rp35 juta untuk membeli sapi kurban kolektif dalam lima tahun.

Ia bisa memilih produk asuransi jiwa konvensional atau syariah saving plan dengan ilustrasi: premi sebesar Rp600.000 per bulan, masa pembayaran selama 5 tahun, manfaat meninggal dunia sebesar Rp100 juta, dan estimasi nilai tunai akhir tahun ke-5 sekitar Rp38 juta.

Artinya, dengan hanya menyetor dana sebesar Rp36 juta selama 5 tahun, Anda bisa mendapatkan perlindungan asuransi jiwa sebesar Rp100 juta selama masa polis dan sekaligus berpotensi mendapatkan dana tunai sebesar Rp38 juta di akhir periode polis.

Jika peserta meninggal dunia sebelum masa kontrak selesai, ahli waris tetap berhak menerima manfaat asuransi sesuai ketentuan polis.

Dalam beberapa produk syariah, manfaat ini juga bisa ditambah santunan kecelakaan atau manfaat kesehatan tambahan.

Beda dengan Menabung Biasa

Secara hasil akhir, menabung biasa sebenarnya bisa lebih fleksibel dan lebih murah. Namun masalah terbesar banyak orang adalah disiplin. Awalnya niat menyisihkan uang Rp500.000 per bulan. Akan tetapi di tengah jalan biasanya uang terpakai untuk kebutuhan mendadak, tergoda promo belanja, atau akhirnya berhenti menabung.

Sementara itu, asuransi membuat dana relatif "terkunci" karena ada kewajiban premi rutin. Inilah alasan sebagian orang merasa lebih mudah mencapai target keuangan melalui skema asuransi saving plan tersebut.

Namun demikian, untuk target kurban tahunan seperti kambing, skema asuransi ini kurang cocok karena minimum periode pertanggungannya adalah 3 tahun. Sehingga, instrumen tabungan khusus, deposito syariah, atau reksa dana mungkin lebih relevan dengan target kurban tahunan.

Kalaupun mau tetap menggunakan skema asuransi saving plan ini, Anda bisa membagi dana tunai tersebut dengan alokasi dana kurban kambing per tahun sebesar Rp7,6 juta selama 5 tahun. 

Pada akhirnya, pilihan terbaik adalah bergantung karakter atau profil risiko masing-masing orang. Jika sulit konsisten menabung sendiri, produk asuransi saving plan bisa menjadi alat paksa untuk mencapai target keuangan sekaligus memberi perlindungan bagi keuangan keluarga Anda.

(ach/ach)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |