MSCI Depak 18 Saham RI, Begini Respons Bos BEI

7 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara usai Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan 18 saham Indonesia dari konstituen indeks. Meski keputusan tersebut memicu tekanan di pasar saham domestik, regulator memastikan kondisi perdagangan masih berlangsung terkendali.

Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers bersama yang digelar pada Rabu (13/5/2026) oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung BEI, Jakarta.

Konferensi pers ini dihadiri oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, Direktur Utama KPEI Iding Pardi, dan Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat.

Dalam konferensi pers tersebut, regulator menegaskan bahwa perdagangan saham domestik masih berlangsung secara terkendali tanpa indikasi panic selling. Stabilitas tercermin dari frekuensi dan volume transaksi yang relatif terjaga di tengah dinamika pasar global.

Pelemahan pasar yang terjadi dipandang sebagai bagian dari proses penyesuaian portofolio investor global yang telah diantisipasi, sebelumnya, sekaligus membuka peluang karena valuasi saham menjadi lebih menarik dibandingkan awal tahun.

Di sisi lain, keluarnya sejumlah perusahaan tercatat dari indeks MSCI Global Small Cap mencerminkan potensi peningkatan kapitalisasi pasar, meski kenaikan ke indeks yang lebih tinggi masih tertunda seiring kebijakan freeze MSCI terhadap penambahan konstituen baru dari Indonesia.

Meski demikian, regulator dan pelaku pasar menegaskan komitmen untuk terus memperkuat transparansi, tata kelola, dan integritas pasar agar perusahaan tercatat Indonesia tetap kompetitif di indeks global.

Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa pernyataan terbaru dari MSCI dipandang sebagai perkembangan positif. Pasalnya hal ini dapat mengurangi salah satu unsur ketidakpastian di pasar, terutama di tengah tingginya volatilitas global akibat gejolak geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan pergerakan mata uang.

Menurutnya, kepastian tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan bersama seluruh pelaku pasar dan emiten.

Terkait hasil MSCI Review May 2026 dan metodologi free float, Jeffrey menegaskan bahwa setiap global index provider memiliki metodologi masing-masing yang berbasis faktor kuantitatif dan harus dihormati.

BEI menekankan fokus pada penguatan reformasi dan mekanisme pasar yang teratur, wajar, dan efisien, bukan melakukan engineering terhadap penilaian indeks, agar mendorong pemenuhan ketentuan indeks secara alami melalui penguatan fundamental pasar.

Data perdagangan saham di BEI selama periode 11-13 Mei 2026 ditutup pada zona negatif. Perubahan terjadi pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan sebesar 3,53% sehingga ditutup pada level 6.723,320, dari posisi 6.936,396 pada pekan lalu.

Selain itu, kapitalisasi pasar BEI juga mengalami perubahan sebesar 4,68% menjadi Rp11.825 triliun dari Rp12.406 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini juga mengalami perubahan, yaitu sebesar 0,56% menjadi 2,53 juta kali transaksi dari 2,55 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Kemudian rata-rata nilai transaksi harian pekan ini mengalami perubahan yaitu sebesar 18,78% menjadi Rp18,82 triliun dari Rp23,05 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini turut mengalami perubahan yaitu sebesar 22,01% menjadi 35,76 miliar lembar saham dari 45,86 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp1,531 triliun dan sepanjang tahun 2026 ini, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp40,823 triliun.

(ven/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |