NASA Bongkar Peta Petir Dunia, Ini Wilayah Paling Sering Disambar

3 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 February 2026 17:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Petir sering dianggap datang tiba-tiba dan acak. Namun, berdasarkan pengamatan NASA menunjukkan fakta yang berbeda. Ada wilayah-wilayah tertentu di dunia yang berulang kali menjadi langganan badai petir, seolah punya jalur tetap yang terus aktif dari tahun ke tahun.

Wilayah tersebut dikenal sebagai titik paling sering terjadinya petir atau hotspot, yakni area dengan kepadatan kilatan yang jauh lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya. Artinya, intensitas petir di titik ini bukan sekadar efek cuaca ekstrem sesaat, melainkan terbentuk dari kondisi atmosfer dan geografis yang konsisten memicu badai petir.

Untuk memetakan titik-titik itu, NASA menggunakan Lightning Imaging Sensor atau LIS. Instrumen ini mengukur flash rate density, yaitu jumlah kilatan petir per kilometer persegi per tahun. Dengan ukuran ini, terlihat lebih jelas lokasi mana yang benar-benar menjadi pusat aktivitas petir dalam cakupan pengamatan satelit.

Berikut daftar daerah di dunia yang menjadi titik paling sering terjadinya petir, dilansir dari Visual Capitalist.

Di benua Amerika, khususnya bagian Selatan menjadi area yang paling mencolok. Danau Maracaibo di Venezuela menempati peringkat teratas dengan kepadatan sambaran 233, tertinggi di dunia dalam daftar ini.

Setelah itu, Cáceres di Kolombia yang mencatat 172, disusul El Tarra di Kolombia 139. Ini menunjukkan daerah Amerika Selatan yang bagian utara memiliki kondisi cuaca dan bentang alam yang sangat ideal untuk pembentukan petir.

Afrika juga masuk jajaran teratas, terutama di Republik Demokratik Kongo. Kabare mencatat 205, Kampene 177, dan Sake 143. Konsentrasi titik paling sering terjadinya petir di satu negara menandakan ada koridor badai petir yang aktif dan konsisten, bukan kejadian acak yang datang lalu hilang.

Di Asia, hotspot paling sering terjadi di Daggar, Pakistan dengan 143. Dua titik lain adalah Rajauri, India dengan intensitas 121 dan Doaba, Pakistan 119. Artinya, Asia tetap punya wilayah dengan aktivitas petir yang tinggi. Meskipun, intensitasnya tidak sedominan puncak di Amerika Selatan maupun Afrika.

Amerika Utara juga tercatat menjadi daerah yang memilik intensitas terjaidnya petirnya yang cukup tinggi. Terutama di Amerika Tengah dan Karibia. Patulul, Guatemala memimpin dengan 117 petir per kilometer persegi per tahun, lalu Catarina, Guatemala 103 dan San Luis, Kuba 101.

Sementara itu, Oseania menjadi yang paling tenang dalam daftar hotspot ini. Derby di Australia bagian utara mencatat 92 petir per kilometer persegi per tahun, Kununurra 87, dan Derby bagian selatan 65. Ini menandakan intensitas petir di Oseania relatif lebih rendah dibanding benua lainnya.

Kenapa Hotspot Petir Bisa Terbentuk?

Hotspot petir biasanya terbentuk di wilayah yang punya "mesin" pembentuk badai yang bekerja terus-menerus.

Kuncinya ada pada pertemuan udara hangat dan lembap yang naik dari permukaan dengan udara yang lebih dingin di lapisan atas atmosfer. Ketika tabrakan massa udara ini terjadi berulang, awan badai mudah terbentuk dan kilatan petir pun muncul lebih sering.

Di Danau Maracaibo misalnya, kondisi geografis ikut memperkuat efek tersebut. Pegunungan di sekelilingnya membantu mengurung panas dan kelembapan, sehingga udara lembap terkonsentrasi dan mendorong badai petir yang intens.

Kondisi serupa terjadi di beberapa wilayah Kongo dan India bagian utara. Pemanasan matahari yang kuat, ditambah pola cuaca musiman, menjadi bahan bakar badai konvektif yang besar. Tak heran, pada musim puncak, aktivitas petir di wilayah-wilayah ini bisa terjadi nyaris setiap hari.

Cara NASA Mengukur Petir dari Luar Angkasa

NASA mengukur petir dari luar angkasa lewat Lightning Imaging Sensor. Instrumen ini mendeteksi kilatan petir dengan menangkap semburat cahaya singkat dari badai yang terlihat dari orbit.

Data LIS membantu peneliti memetakan pola petir dunia dan dalam beberapa tahun terakhir ikut mengonfirmasi "ibu kota petir" baru, termasuk temuan dari instrumen yang dibawa Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Namun, data ini punya batas cakupan wilayah. LIS terutama memantau petir di rentang 38 derajat lintang utara hingga 38 derajat lintang selatan.

Artinya, sebagian besar Eropa dan wilayah lintang tinggi lainnya tidak masuk perhitungan. Karena itu, peta ini menggambarkan lokasi petir paling intens di dalam zona cakupan satelit, bukan peta global tanpa batas geografis.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Photo View |