Peneliti Temukan Cara Tahu Gunung Berapi Mau Meletus Paling Akurat

8 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti menemukan cara akurat untuk mendeteksi erupsi gunung berapi. Sistem terbaru ini bisa menangkap sinyal erupsi dalam beberapa jam sebelum letupan.

Selama ini, ada beberapa tanda erupsi gunung berapi seperti aktivitas seismik, perubahan bentuk tanah, hingga perubahan volume dan komposisi gas yang keluar dari mulut gunung. Meskipun sudah lama diketahui, sinyal ini masih susah diterjemahkan terutama terkait waktu erupsi berapi dan daya ledaknya.

Sinyal yang sudah ada juga menyisakan masalah "alarm palsu." Tanda peringatan yang salah bisa menyebabkan beberapa masalah seperti biaya evakuasi yang mahal, disrupsi kehidupan dan ekonomi, serta hilangnya kepercayaan publik atas sistem pemantauan dini.

Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang mengandalkan analisis probabilitas, Francois Beauducel dari Institut de Physique du Globe de Paris dan Philippe Jousset dari GFZ Helmholtz Centre for GeoResearch menggunakan sistem yang mendeteksi sinyal fisik pergerakan magma.

Mereka menggunakan metode "jerk" atau "sentakan" untuk mengidentifikasi perubahan kecil pada gerakan tanah yang muncul ketika magma masuk ke kerak Bumi. Sinyal ini muncul dalam frekuensi rendah. Peneliti memperkirakan asalnya adalah dari proses pecahnya bebatuan yang terjadi sebelum erupsi.

Sinyal ini sebetulnya sudah dikenali sejak 10 tahun silam dari data yang dikumpulkan dari gunung berapi Piton de la Fournaise di La Réunion. Meskipun menggunakan seismometer paling sensitif, sinyal yang muncul sangat kecil yaitu beberapa nanometer per detik pangkat tiga.

Kedua peneliti menerapkan konsep ini lewat sistem yang mereka pasang sejak April 2014 di tempat pengamatan gunung berapi Piton de la Fournaise. Tanda pertama diterima pada 20 Juni 2014. Sistem memberikan peringatan 1 jam dan 2 menit sebelum erupsi.

Dalam 10 tahun setelahnya, sistem operasi deteksi "sentakan" beroperasi terus menerus. Sistem memberikan peringatan otomatis dalam 92 persen dari 24 erupsi yang terjadi antara 2014 dan 2023. Peringatan muncul mulai dari beberapa menit hingga 8,5 jam sebelum magma mencapai mulut gunung berapi.

Namun, sekitar 14 persen dari peringatan tidak berujung dengan erupsi atau "false positive." Peneliti menekankan bahwa hal tersebut bukan kesalahan pada sistem. Sistem mendeteksi intrusi magma yang kemudian gagal menembus ke atas. Peristiwa ini disebut dengan "erupsi yang batal." 

Tim peneliti kini berencana memperluas pengujian metode mereka di lebih banyak gunung berapi. Salah satu target pertamanya adalah Mount Etna di Italia.

(dem/dem)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |