Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
05 April 2026 11:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran mulai memakan biaya besar. Sejumlah pesawat militer AS dilaporkan tertembak jatuh dalam rangkaian operasi perang.
Perang Amerika Serikat melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 kini telah memasuki minggu keenam. Dalam rentang waktu itu, AS tidak hanya menghadapi tekanan geopolitik dan beban biaya perang yang makin besar, tetapi juga mulai mencatat kerugian nyata pada alutsista udara mereka.
Melansir beberapa media luar, sejumlah pesawat militer AS dilaporkan mengalami kecelakaan, hingga jatuh tertembak yang mengakibatkan kerusakan berat hingga total lost selama operasi berlangsung.
Berikut ini adalah sederet alutsista militer udara AS yang menjadi korban selama operasi militer AS ke Iran.
F-15E Strike Eagle
Salah satu pesawat yang mencatat kerugian terbesar sejauh ini adalah F-15E Strike Eagle. Total, empat unit F-15E masuk dalam daftar pesawat AS yang jatuh selama perang.
Tiga unit lebih dulu jatuh di Kuwait pada 2 Maret 2026 akibat friendly fire atau salah tembak oleh pertahanan udara Kuwait. Meski seluruh awak berhasil selamat, insiden ini tetap menjadi pukulan besar karena tiga jet tempur utama AS rontok dalam satu rangkaian kejadian.
Setelah itu, tepatnya pada 3 April 2026, satu unit F-15E milik AS ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran, di wilayah udara Iran. Insiden ini menjadi perbincangan banyak kalangan karena menunjukkan bahwa pertahanan Iran masih mampu menjangkau dan menjatuhkan jet tempur berawak milik AS.
Dari dua awak pesawat itu, satu berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya sempat dinyatakan hilang dan memicu operasi pencarian besar-besaran.
Dengan estimasi harga US$90 juta per unit, maka nilai kerugian untuk empat unit F-15E diperkirakan mencapai sekitar US$360 juta.
A-10 Thunderbolt II
Pesawat lain milik AS yang juga menjadi korban adalah A-10 Thunderbolt II. Pada 3 April 2026, satu unit A-10 dilaporkan terkena tembakan Iran, lalu jatuh setelah keluar ke wilayah Kuwait. Pilotnya berhasil menyelamatkan diri, tetapi pesawat tersebut tidak bisa dipertahankan.
Foto: Departemen of War
A-10 Thunderbolt II
KC-135 Stratotanker
Selain pesawat tempur, AS juga kehilangan satu pesawat tanker jenis KC-135 Stratotanker dalam insiden di Irak pada 12 Maret 2026. Seluruh enam personel yang berada di pesawat yang jatuh dilaporkan tewas.
Insiden ini melibatkan dua pesawat KC-135, bukan satu pesawat saja. Dalam kejadian tersebut, satu KC-135 jatuh di wilayah Irak barat, sementara satu KC-135 lainnya berhasil melakukan pendaratan darurat dengan selamat. Militer AS menyebut insiden ini terjadi di wilayah udara yang bersahabat saat operasi berlangsung.
Laporan yang beredar juga mengatakan bahwa insiden ini bukan akibat hostile fire maupun friendly fire, melainkan adanya kemungkinan dua pesawat tersebut bertabrakan di udara dan sampai saat ini masih diselidiki.
Jatuhnya satu KC-135 tetap menambah daftar kerugian udara AS selama perang berlangsung, terutama karena pesawat tanker seperti ini punya peran sangat penting dalam menopang operasi tempur.
E-3 Sentry AWACS
Selain pesawat yang jatuh, AS juga tercatat mengalami kerusakan sangat berat pada pesawat bernilai tinggi, yakni E-3 Sentry AWACS.
Pesawat ini dilaporkan terkena serangan Iran saat berada di Prince Sultan Air Base, Arab Saudi, pada 29 Maret 2026.
E-3 Sentry bukan pesawat biasa. Ini adalah pesawat radar dan komando udara yang berfungsi memantau pergerakan lawan, mendeteksi ancaman dari jarak jauh, sekaligus membantu mengatur operasi tempur di udara.
Karena perannya sangat strategis, kerusakan pada pesawat ini menjadi kerugian yang cukup besar, sebab dampaknya tidak hanya pada nilai aset, tetapi juga pada kemampuan komando dan pengawasan udara AS selama operasi militernya.
Foto: Departemen of War
E-3 Sentry
Dua Helikopter Black Hawk AS Juga Kena Tembakan
Dalam operasi penyelamatan awak F-15E yang ditembak jatuh di Iran pada 3 April 2026, dua helikopter Black Hawk milik AS juga dilaporkan terkena tembakan Iran. Namun, keduanya masih bisa keluar dari wilayah Iran dan tidak jatuh.
Meski tidak sampai jatuh, insiden ini tetap menunjukkan bahwa operasi penyelamatan pun kini sama berbahayanya dengan operasi tempur itu sendiri. Artinya, ancaman Iran tidak hanya menyasar jet tempur, tetapi juga aset pendukung yang dikerahkan untuk misi evakuasi.
Foto: Departemen of War
Black Hawk
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)