Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan kawasan Amerika Latin kini berada di ambang kehancuran yang sangat serius. Presiden Kolombia Gustavo Petro memperingatkan bahwa kawasan tersebut dapat segera meledak dalam sebuah pemberontakan besar terhadap Washington.
Petro menyampaikan peringatan keras ini dalam sebuah wawancara mendalam dengan media El Pais yang dipublikasikan pada hari Sabtu (18/4/2026). Ia menilai kebijakan sanksi Washington bukan sebagai penegakan hukum, melainkan alat pemerasan politik yang menyerupai kolonialisme.
"Instrumen untuk memerangi perdagangan narkoba ini digunakan sebagai mekanisme pemerasan terhadap kita yang menyatakan pandangan politik berbeda. Ini adalah sistem seperti yang dimiliki Raja Spanyol berabad-abad lalu," ujar Petro dalam wawancara yang juga dikutip Russia Today.
Ketegangan ini memuncak setelah Departemen Keuangan AS memasukkan Petro dan keluarganya ke dalam daftar hitam pada Oktober 2025. AS menuduh mereka terlibat perdagangan narkoba global, tuduhan yang juga menimpa Nicolas Maduro sebelum pemimpin Venezuela itu diculik dalam serangan AS di Caracas Januari lalu.
"Dan apa respons Amerika Latin? Pemberontakan. Itu akan terjadi sekarang jika pemerintah AS tidak mampu memikirkan kembali hubungannya dengan Amerika Latin," tegas Petro.
Petro juga menyoroti guncangan global akibat penculikan Maduro yang disertai pemboman di ibu kota Venezuela. Ia menyebut Caracas sebagai kota Amerika Latin pertama dalam sejarah yang menjadi sasaran bom.
"Mereka mengejar Anda dan mengancam akan membawa Anda ke Amerika Serikat, seperti yang mereka lakukan terhadap Maduro," kata Petro.
Presiden Kolombia tersebut menambahkan bahwa tindakan militer tersebut telah menciptakan luka yang mendalam bagi para pemimpin di kawasan. Ia melihat banyak penguasa saat ini merasa terancam dan terpaksa tunduk pada tekanan Washington.
"Ini telah menciptakan luka yang diterima oleh para penguasa saat ini dengan rasa takut, dan mereka berlutut di hadapannya," tambahnya.
Kritik senada juga datang dari Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva yang menyoroti gaya kepemimpinan Donald Trump. Lula menilai Trump sedang memainkan permainan berbahaya yang menganggap kekuatan AS bisa mendikte semua aturan.
"Tapi itu tidak boleh terjadi, karena pada akhirnya hal itu justru menciptakan masalah bagi AS," peringat Lula.
Lula menegaskan bahwa tindakan intervensi bersenjata dan ancaman sepihak terhadap negara berdaulat merupakan pelanggaran batas yang tidak dapat diterima. Menurutnya, tindakan tersebut membangkitkan memori kelam tentang intervensi terburuk di masa lalu.
"Presiden AS tidak memiliki hak untuk bangun di pagi hari dan mengancam suatu negara," pungkas Lula.
(tps/luc)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455267/original/021553200_1766643113-IMG_2828_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453286/original/078229000_1766473900-SnapInsta.to_599701766_18550840858037738_1350486577532420596_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452691/original/069041600_1766425778-photo-grid_-_2025-12-22T223121.275.jpg)





