RI Impor 135 Juta Barel Minyak Mentah di 2025, Ini Sumbernya

4 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesia melalui PT Pertamina (Persero) mengimpor sebanyak 135,33 juta barel minyak mentah sepanjang 2025.

Dari total tersebut, sekitar 19% atau 25,36 juta barel berasal dari Arab Saudi. Sementara sisanya dipasok dari berbagai negara, termasuk kawasan Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya.

Selain impor minyak mentah, Indonesia juga menjalin kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk pasokan produk BBM.

Adapun, di tengah dinamika geopolitik global, pemerintah mulai mengkaji diversifikasi sumber impor minyak mentah guna mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beberapa pekan lalu mengungkapkan bahwa pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor ke negara-negara di luar kawasan tersebut.

Bahlil mengatakan beberapa negara yang menjadi alternatif sumber impor minyak mentah antara lain Amerika Serikat, Angola, sejumlah negara di Afrika dan kawasan Amerika Latin.

Menurutnya, pemerintah tengah menjajaki kontrak jangka panjang dengan negara-negara tersebut, terutama dengan Amerika Serikat yang dinilai memiliki kapasitas produksi minyak yang besar.

"Ada kontrak jangka panjang kita dengan negara-negara lain yang di luar daripada Middle East. Salah satu di antaranya adalah Amerika. Kenapa harus Amerika? Karena mereka yang mempunyai volume minyak yang lebih," kata Bahlil dalam acara Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Senin (30/3/2026).

Bahlil mengakui pengiriman minyak dari Amerika memang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dari kawasan Timur Tengah. Adapun, jika pengiriman dari negara-negara Timur Tengah hanya memakan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu, maka pengiriman dari Amerika Serikat bisa mencapai sekitar 40 hari.

"Benar. Jaraknya itu benar, akan lebih lama. Tetapi, kita melakukan pesan jangka panjang secara di awal. Supaya metode penyaluran logistiknya bisa kita atur," tambah Bahlil.

Ia lantas mencontohkan bahwa skema serupa sebelumnya telah berhasil diterapkan pada impor LPG. Adapun, jika sebelumnya sebagian besar impor LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah, kini sekitar 70% impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat.

"Dan ini sudah terbukti ketika kita mengalihkan impor LPG kita dari Middle East yang tadinya kan Middle East mayoritas sekarang kita alihkan impor LPG kita 70% dari Amerika. Bisa logistiknya. Jadi nggak perlu harus ada rasa cemas, nggak perlu," katanya.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |