Ringkasan Kritis Indonesia Economic Outlook

4 hours ago 4

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Sebagian besar economic outlook Indonesia yang beredar saat ini pada dasarnya merupakan dokumen stabilisasi, bukan dokumen transformasi. Ia disusun dengan bahasa yang rapi, optimistis, dan menenangkan, tetapi tidak menyentuh persoalan struktural utama yang dihadapi ekonomi nasional. Outlook semacam ini lebih tepat berfungsi sebagai alat komunikasi ke pasar dan publik, bukan sebagai peta jalan untuk keluar dari jebakan pertumbuhan menengah.

Narasi utamanya relatif konsisten. Ekonomi global dinyatakan melambat, sementara Indonesia dianggap cukup tangguh. Konsumsi rumah tangga terus dijadikan penopang utama, investasi dijaga melalui perbaikan iklim usaha, inflasi diklaim terkendali, dan stabilitas makro dipertahankan.

Dengan koordinasi kebijakan yang baik, pertumbuhan diproyeksikan berada di kisaran lima hingga lima setengah persen, atau disebut memiliki potensi lebih tinggi. Permasalahan utama bukan terletak pada kebenaran data tersebut, melainkan pada apa yang tidak dibahas secara serius.

Outlook tersebut hampir tidak pernah menjawab pertanyaan paling mendasar dalam ekonomi pembangunan, yaitu mesin pertumbuhan baru apa yang secara konkret mampu meningkatkan produktivitas nasional dan mendorong pertumbuhan di atas enam persen secara berkelanjutan.

Kerangka yang digunakan masih sangat bergantung pada logika neoklasik lama, yakni konsumsi, investasi, dan belanja negara, dengan asumsi implisit bahwa produktivitas dan teknologi akan meningkat dengan sendirinya. Ini bukan strategi transformasi, melainkan harapan yang dibungkus analisis teknokratik.

Istilah hilirisasi sering diulang, tetapi lebih berfungsi sebagai slogan kebijakan daripada rancangan industri yang operasional. Tidak dijelaskan secara tegas di mana pusat produksinya, bagaimana struktur kepemilikannya, siapa pembeli akhirnya, bagaimana proses pembelajaran teknologi berlangsung, serta bagaimana konflik lahan dan risiko penguasaan elite akan dikelola.

Hilirisasi diperlakukan sebagai hasil otomatis dari kebijakan, bukan sebagai arsitektur ekosistem produksi yang harus dirancang dan dikawal secara sadar.

Selain itu, outlook semacam ini cenderung menghindari pembahasan konflik nyata. Hambatan birokrasi, keterbatasan kapasitas tenaga kerja industri, resistensi politik, serta struktur rente hanya disentuh secara halus atau bahkan diabaikan.

Risiko-risiko tersebut direduksi menjadi tantangan yang dianggap dapat dikelola, padahal dalam praktik pembangunan, faktor faktor inilah yang sering menentukan berhasil atau gagalnya upaya percepatan pertumbuhan. Menghindari kenyataan ini mungkin aman secara politis, tetapi menyesatkan secara kebijakan.

Secara intelektual, economic outlook Indonesia saat ini dapat diringkas sebagai pendekatan pertumbuhan berbasis stabilitas tanpa mesin baru. Ia cukup baik dalam mengelola kondisi yang ada, tetapi tidak menawarkan terobosan struktural untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat basis industri, dan membangun penguasaan teknologi domestik.

Dalam pengertian filosofis, banyak proyeksi di dalamnya mendekati omong kosong kebijakan, bukan karena data yang digunakan salah, melainkan karena ketidakpedulian terhadap hubungan sebab akibat yang nyata antara kebijakan dan struktur ekonomi.

Kesimpulannya, economic outlook seperti ini berguna sebagai alat pemantauan makro dan penenang pasar, tetapi berbahaya jika dijadikan landasan utama arah pembangunan nasional. Ia menciptakan ilusi bahwa ekonomi berada di jalur yang benar, padahal tanpa penggantian mesin pertumbuhan dan perancangan industri yang jelas, ekonomi hanya akan terus berputar dalam pola lama, yaitu stabil, rapi, namun stagnan.


(miq/miq)

Read Entire Article
Photo View |