Seskab Teddy Beberkan Hasil Kunjungan Prabowo ke Jepang dan Korea

9 hours ago 12

Jakarta, CNBC Indonesia - Kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan kunjungan kenegaraan ke Republik Korea membuahkan hasil konkret berupa komitmen kerja sama bisnis bernilai jumbo.

Melalui keterangan resmi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, total nilai kesepakatan dari kedua negara mencapai US$ 33,89 miliar atau setara Rp575 triliun.

"Dari Jepang tercatat komitmen bisnis sebesar US$ 23,63 miliar atau setara Rp401,7 triliun, sementara dari Republik Korea mencapai US$ 10,26 miliar atau setara Rp174 triliun. Sehingga total keseluruhan mencapai US$ 33,89 miliar atau sekitar Rp575 triliun," ujar Seskab Teddy.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor global terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, khususnya dalam mendorong hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi, serta pembangunan sektor strategis nasional.

Lebih lanjut, Teddy menegaskan bahwa keterlibatan langsung Presiden Prabowo dalam dialog dengan para pelaku usaha menjadi faktor kunci dalam mendorong terwujudnya kesepakatan tersebut.

"Bapak Presiden tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi aktif mendengarkan, merespons cepat, dan memberikan solusi serta perintah langsung atas berbagai masukan dari dunia usaha. Ini yang membuat kepercayaan investor semakin kuat," tambahnya.

Seskab juga memastikan bahwa pemerintah akan mengawal seluruh komitmen tersebut agar dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjelaskan dalam forum bisnis di Tokyo dan Seoul, pemerintah juga menemui berbagai pengusaha besar. Mereka menyampaikan beberapa masukan dan langsung ditanggapi terhadap keluhan yang dialami saat berinvestasi di Indonesia.

"Mereka bisa menyampaikan langsung ke Bapak Presiden inputnya, kemudian feedbacknya, dan juga apa kendala-kendalanya yang memang mereka ada di Indonesia dan Bapak Presiden sangat responsif dan sangat terbuka" kata Rosan.

Keluhan yang disampaikan berupa lambatnya kerja beberapa lembaga kementerian, sehingga presiden meminta untuk dikoordinir agar lebih cepat. Terlebih saat ini asa Satuan Tugas Debottlenecking.

"Dan kami juga di BKPM selalu berkoordinasi dengan semua kementerian. Apalagi sekarang memang untuk perizinan ini sesuai dengan PP nomor 28 yang sudah keluar beberapa bulan yang lalu, ini juga di respon positif. Karena itu memberikan lebih kepastian apabila dari waktu yang sudah dijanjikan itu harus ditemati apabila tidak ditepati oleh kami, oleh kementerian-kementerian lainnya," kata Rosan.

Lebih lanjut, menurut Rosan investor Jepang dan Korea Selatan masih merespons positif iklim investasi di Indonesia di tengah gejolak politik dan ekonomi dunia. Terlihat dari peningkatan investasi rata-rata dari kedua negara itu.

"kalau kita lihat Jepang itu adalah investor nomor 5 terbesar di Indonesia, dan Korea itu kurang lebih nomor 6 atau nomor 7. Kalau kita lihat juga investasinya juga meningkat secara average itu Korea setiap tahunnya sekitar 14%, Jepang juga sekitar 8-9% setiap tahunnya," kata Rosan.

(dem/dem)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |