Siap-Siap Harga Pestisida Naik 20%, Waspada Produk Palsu Bertebaran

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI) memberi sinyal kenaikan harga produk sekitar 20% hingga 30% di tengah lonjakan biaya produksi, imbas memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Di saat yang sama, industri juga mengingatkan potensi maraknya peredaran pestisida palsu ketika harga produk resmi meningkat di pasar.

Ketua Umum APROPI Yanurius Nunuhitu mengatakan, kondisi harga yang mahal biasanya memicu munculnya produk-produk pestisida palsu maupun yang tidak memenuhi standar mutu.

"Umum-nya dalam kondisi harga mahal, akan banyak produk-produk palsu, dan produk-produk di bawah standar mutu. Harapannya, pemerintah melindungi petani dengan mengawasi mutu pestisida yang beredar," kata Yanurius kepada CNBC Indonesia, Kamis (12/3/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga pestisida sendiri sulit dihindari karena sebagian besar bahan baku industri masih bergantung pada impor dan sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak global.

"Kenaikan harga tidak bisa dihindari karena bahan aktif pestisida kita impor dari china, dan hampir semuanya sensitif terhadap harga minyak. Harga bahan aktif sudah naik semenjak dimulai perang," ujarnya.

Selain itu, formulasi pestisida juga menggunakan pelarut (solvent) berbasis minyak yang kini harganya melonjak tajam.

"Formulasi pestisida menggunakan solvent berbasis minyak. Harga solvent sudah naik hampir 60% lebih," ucap dia.

Tekanan biaya juga datang dari sektor kemasan plastik yang digunakan untuk produk pestisida. Menurut Yanurius, hampir seluruh formulasi pestisida menggunakan kemasan plastik, sehingga kenaikan harga bahan tersebut ikut memperbesar biaya produksi.

"Sejak Chandra Asri umumkan force majeure, harga kemasan plastik langsung naik. Hampir 99% formulasi pestisida dikemas dalam kemasan plastik," jelasnya.

Yanurius dalam laporan hasil rapat APROPI yang diterima CNBC Indonesia juga menyampaikan, selain tekanan pada kelangkaan bahan aktif dan bahan pendukung formulasi pestisida, pelemahan nilai tukar rupiah juga memperparah biaya produksi pestisida nasional.

"Karena situasi geopolitik saat ini, mengakibatkan kelangkaan bahan aktif dan bahan pendukung formulasi pestisida, serta pelemahan nilai rupiah," demikian tertulis dalam laporan rapat Anggota APROPI, yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026 melalui Zoom.

Dalam rapat tersebut, para anggota APROPI sepakat menaikkan harga jual produk pestisida sekitar 20% hingga 30% untuk seluruh barang, termasuk produk yang selama ini tergolong bergerak lambat (slow moving). Selain itu, produsen juga memutuskan memperpendek waktu pembayaran hingga menerapkan skema pembayaran tunai.

Lebih lanjut, Yanurius menambahkan, kenaikan harga pestisida pada akhirnya juga akan berdampak pada biaya produksi petani sehingga diperlukan langkah mitigasi dari pemerintah.

"Biaya produksi petani akan meningkat, pemerintah perlu mitigasi," pungkasnya.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |