Super El Nino Diramal Mengerikan, Siapkah Dunia?

10 hours ago 6

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

27 May 2026 15:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat suhu dunia terus mencetak rekor panas, para ilmuwan kembali mengamati satu fenomena yang dulu pernah memicu kekeringan, gagal panen, banjir besar, hingga kerugian ekonomi triliunan dolar AS: Super El Niño.

Fenomena ini bukan sekadar cuaca panas biasa. Dalam sejarahnya, Super El Niño pernah mengubah pola cuaca global dan memengaruhi kehidupan jutaan orang, mulai dari petani, nelayan, hingga rantai pasok pangan dunia. Bahkan setelah suhu laut kembali normal, dampaknya kadang masih terasa selama bertahun-tahun.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat peluang kemunculan El Niño mencapai 62% pada periode Juni hingga Agustus.

Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat kemungkinan sekitar sepertiga bahwa fenomena ini akan menguat secara signifikan pada akhir tahun.

Di Indonesia, peringatan juga sudah disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BRIN merilis prediksi cuaca ekstrem berupa El Nino Godzilla berpotensi melanda RI di periode musim kemarau pada 2026 ini.

Apa Itu Super El Niño?

El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis menghangat lebih tinggi dari normal. Perubahan ini kemudian memengaruhi pola angin dan curah hujan di banyak wilayah dunia.

Dalam kondisi tertentu, pemanasannya bisa menjadi jauh lebih kuat dan disebut "Super El Niño". Fenomena seperti ini tergolong jarang. Sejak 1950, dunia baru mengalami beberapa Super El Niño besar, termasuk pada 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.

Beberapa model iklim bahkan menunjukkan El Niño berikutnya berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir, meski para ilmuwan menegaskan kekuatannya baru bisa dipastikan saat fenomena itu mencapai puncak.

Kerugiannya Bisa Mencapai Triliunan Dolar

Dampak Super El Niño tidak hanya terasa lewat cuaca ekstrem, tetapi juga ekonomi global.

Fenomena 1997-1998 yang sering dijuluki "El Niño of the Century" diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi hingga US$5,7 triliun secara global. Sementara El Niño 1982-1983 dikaitkan dengan kerugian sekitar US$4,1 triliun.

Dampaknya pun tidak sama di setiap wilayah.

Sebagian negara mengalami kekeringan panjang dan gagal panen. Wilayah lain justru menghadapi banjir besar, badai, hingga kebakaran hutan. Suhu laut yang terlalu panas juga dapat memicu pemutihan terumbu karang dalam skala luas.

Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani mulai mengadopsi teknologi hemat air untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang semakin tidak menentu, termasuk potensi El Nino “Godzila” yang diprediksi BRIN beberapa waktu lalu. (Dok. Humas Kementan)Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani mulai mengadopsi teknologi hemat air untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang semakin tidak menentu, termasuk potensi El Nino “Godzila” yang diprediksi BRIN beberapa waktu lalu. (Dok. Humas Kementan) Foto: Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani mulai mengadopsi teknologi hemat air untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang semakin tidak menentu, termasuk potensi El Nino “Godzila” yang diprediksi BRIN beberapa waktu lalu. (Dok. Humas Kementan)

Yang membuat fenomena ini semakin serius, dampaknya sering tidak langsung berhenti ketika El Niño berakhir. Penurunan produksi pangan, kerusakan lingkungan, hingga tekanan ekonomi bisa terasa bertahun-tahun setelahnya.

Tidak Semua Cuaca Ekstrem Disebabkan El Niño

Meski sering dikaitkan dengan bencana cuaca, El Niño bukan penjelasan untuk semua kejadian ekstrem.

Fenomena ini lebih berperan meningkatkan peluang munculnya kondisi cuaca tertentu di beberapa wilayah dunia. Artinya, tidak semua hujan ekstrem, badai, atau gelombang panas otomatis disebabkan oleh El Niño.

Penampakan El NinoPenampakan El Nino Foto: Reuters

Para ilmuwan juga menekankan bahwa setiap El Niño bisa menghasilkan dampak berbeda. Lokasi, musim, dan kondisi atmosfer global tetap memegang peran penting dalam menentukan seberapa besar pengaruhnya di suatu wilayah.

Dunia Kini Lebih Siap

Dibanding beberapa dekade lalu, kemampuan dunia memprediksi El Niño kini jauh lebih baik.

Perkembangan satelit, sensor laut, dan model cuaca membuat ilmuwan bisa mendeteksi potensi El Niño lebih dini dibanding era 1980-an atau 1990-an. Hal itu membantu pemerintah, petani, hingga lembaga bantuan kemanusiaan menyiapkan langkah antisipasi lebih cepat.

Namun kesiapan tersebut belum merata.

Sejumlah negara berkembang masih menghadapi risiko besar, terutama ketika kekeringan atau gagal panen terjadi bersamaan dengan tekanan ekonomi dan keterbatasan bantuan internasional.

Dunia yang Lebih Panas Membuat Semuanya Lebih Sulit Diprediksi

Tantangan terbesar saat ini mungkin bukan hanya El Niño itu sendiri, tetapi kondisi Bumi yang sudah jauh lebih panas dibanding beberapa dekade lalu.

Para ilmuwan menyebut perubahan iklim membuat pola El Niño masa lalu menjadi semakin sulit dijadikan acuan pasti. Saat ini, sebagian besar wilayah Pasifik tropis dan utara berada dalam kondisi lebih hangat dari normal, sesuatu yang berpotensi mengubah dampak El Niño di berbagai wilayah dunia.

Dunia memang sudah pernah menghadapi Super El Niño sebelumnya. Namun kali ini, fenomena tersebut datang ketika suhu global sudah berada di level tertinggi dalam sejarah pencatatan modern.

Itu sebabnya, bagi banyak ilmuwan, pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar seberapa kuat El Niño berikutnya. Tetapi bagaimana dunia yang semakin panas akan merespons fenomena tersebut.

Apa Itu "Super El Niño" dan Mengapa Berbahaya?

Super El Niño merupakan kondisi ekstrem dari fenomena El Niño, ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat jauh di atas normal dalam waktu yang cukup lama.

Fenomena ini berpotensi mendorong suhu rata-rata bumi ke level yang belum pernah tercatat sebelumnya. Dalam konteks perubahan iklim yang sudah memanas, kehadiran super El Niño dapat menjadi "pemicu tambahan" yang dapat memperparah kondisi.

Artinya jika Super El Niño terjadi, kekeringan parah dan banjir dapat terjadi di berbagai wilayah pada waktu yang bersamaan.

Super El Niño adalah kondisi El Niño yang sangat kuat, ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur meningkat jauh di atas normal.

Secara umum, El Niño disebut "super" jika anomali suhu laut di wilayah Niño 3.4 mencapai sekitar +2°C atau lebih selama beberapa bulan.

Dampaknya dapat sangat terasa terutama pada sektor pertanian. Risiko gagal panen dan kematian hewan ternak yang semakin tinggi dapat menyebabkan kelangkaan komoditas yang berdampak pada lonjakan harga pangan.

Ketidakpastian Tinggi, Risiko Tetap Nyata

Meskipun berbagai model cuaca semakin mengarah pada kemunculan El Niño, para peramal belum sepenuhnya sepakat mengenai seberapa kuat fenomena ini akan berkembang.

AccuWeather memperkirakan peluang super El Niño sekitar 15% hingga akhir musim badai pada November. Sementara itu, NOAA menilai peluang El Niño kuat mencapai sekitar 33% pada periode Oktober hingga Desember, namun dengan tingkat ketidakpastian yang masih tinggi.

Artinya, skenario terburuk mungkin belum pasti terjadi, tetapi risikonya cukup besar untuk diwaspadai.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |