Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
15 April 2026 10:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel terus membayangi pergerakan pasar modal global, khususnya di kawasan Asia.
Eskalasi yang memuncak sejak Februari hingga awal kuartal kedua tahun 2026 ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas rute perdagangan maritim, terutama di Selat Hormuz.
Jalur strategis ini merupakan urat nadi distribusi energi global, di mana potensi gangguan langsung berimbas pada fluktuasi harga minyak mentah. Bagi negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, ketidakpastian ini menciptakan sentimen risk-off di pasar saham.
Dinamika ini turut memicu penyesuaian strategi di beberapa negara Asia yang mulai mengamankan pasokan domestik melalui sumber energi alternatif seperti batu bara, sebagai langkah mitigasi terhadap volatilitas harga minyak dan potensi disrupsi logistik.
Respons Lambat Indeks Regional Pasca-Koreksi
Tekanan eksternal tersebut terekam secara terukur dalam kinerja bursa saham utama Asia yang kesulitan untuk bangkit secara substansial dari titik nadirnya. Berdasarkan data perdagangan yang ditarik hingga penutupan 14 April 2026, mayoritas indeks regional masih menunjukkan laju pemulihan yang lambat.
Bursa saham Malaysia melalui indeks KLSE mencatatkan kinerja pemulihan yang paling tertinggal di kawasan. Sejak terperosok ke level terendah pada 9 Maret 2026, indeks tersebut hanya mampu bergerak naik sebesar 0,83% dalam kurun waktu 36 hari kalender.
Tren konsolidasi serupa juga terlihat pada indeks STI Singapura yang memakan waktu lebih dari sebulan untuk mencetak pemulihan di kisaran 5%.
Volatilitas Berlanjut di Awal Kuartal Kedua
Memasuki bulan April, tekanan jual di pasar reguler nyatanya belum sepenuhnya mereda. Indeks IHSG dan CSI300 tercatat baru saja membentuk level terendah terbarunya pada 7 April 2026, sebuah indikasi bahwa sensitivitas investor masih sangat rentan terhadap setiap perkembangan berita dari Timur Tengah.
Meskipun IHSG mampu mencetak pantulan teknikal yang cukup cepat sebesar 10,11% dalam tujuh hari perdagangan terakhir, ruang gerak indeks secara keseluruhan masih tertahan.
Para pelaku pasar tampaknya masih bersikap konservatif dan menahan diri untuk melakukan akumulasi besar-besaran hingga ada kejelasan mengenai resolusi konflik dan dampaknya terhadap makroekonomi regional.
CNBC Indonesia menghitung seberapa cepat bursa Utama Asia bangkit dari keterpurukan. Di antaranya indeks bursa Indonesia (IHSG), KLSE (Malaysia), HIS (Hong Kong), STI (Singapura), SI300 China (Shanghai & Shenzhen), SENSEX (India), NIKKEI 225 (Jepang), dan
KOSPI (Korea Selatan).
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)






