- Pasar keuangan RI ambruk pada perdagangan kemarin, IHSG-rupiah tertekan
- Mayoritas bursa Wall Street tertekan oleh harga minyak
- Perkembangan perang dan data ekonomi terbaru akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan RI mayoritas melemah pada hari pertama perdagangan di pekan ini, Senin (30/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama melemah, sedangkan obligasi pemerintah bergerak stabil.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu membalikkan keadaan pada perdagangan hari ini, Selasa (31/3/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke posisi 7.093,81 pada perdagangan Senin kemarin. Namun, penutupan ini menunjukkan perbaikan karena pada sesi I IHSG sempat terperosok nyaris 2% hingga menyentuh level terendah hari itu di 6.945,5.
Sebanyak 467 saham turun, 258 naik, dan 233 tidak bergerak. Nilai transaksi IHSG kemarin hanya mencapai Rp 9,89 triliun yang melibatkan 15,89 miliar saham dalam 1,19 juta kali transaksi.
Adapun, investor asing kembali melakukan aksi jual dengan total outflow sebesar Rp686,13 miliar.
Mengutip Refinitiv, Bank Central Asia (BBCA) yang membuat IHSG gagal parkir di zona hijau. Sejak awal hingga akhir perdagangan, saham BBCA membebani IHSG dengan bobot lebih dari 20 poin.
Sementara itu, sejumlah saham konglomerat mencoba mengangkat IHSG. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang naik 6,62% menyumbang 16,28 indeks poin.Selain itu emiten milik Toto Sugiri berkontribusi 9,42 indeks poin dan emiten milik Bakrie, Bumi Resources Minerals (BRMS) berkontribusi 7,47 poin.
Kinerja IHSG pada perdagangan kemarin bisa dibilang cukup baik bila dibandingkan dengan bursa di kawasan Asia. Nikkei di Jepang turun 2,79%, Kospi di Korea -2,97%, dan Hang Seng di Hong Kong -0,81%.
Beralih ke pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin kemarin ditutup melemah.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan pertama pekan ini dengan pelemahan 0,15% ke level Rp16.985/US$. Posisi ini membuat rupiah hanya berjarak sangat tipis dari level psikologis Rp17.000/US$. Penutupan kemarin pun sekaligus menjadi level terlemah rupiah dalam dua pekan terakhir.
Pada sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah memang sudah terlihat sejak awal sesi. Rupiah dibuka melemah 0,06% di level Rp16.970/US$, lalu pelemahannya terus bertambah hingga penutupan.
Tekanan terhadap rupiah pada perdagangan kemarin pun tidak lepas dari penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia kembali menembus level 100, menandakan dolar AS kembali diburu investor. Kondisi ini pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah.
Penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di kawasan Teluk yang berpotensi berlangsung lebih lama. Situasi ini telah mendorong harga minyak naik dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi serta risiko perlambatan ekonomi global.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga terus berupaya menjaga stabilitas rupiah. Salah satunya melalui implementasi instrumen repo valuta asing dengan agunan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) yang mulai berlaku kemarin Senin.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pasar.
Menurutnya, instrumen baru ini diharapkan dapat menambah alternatif bagi perbankan dalam mengelola likuiditas valas sekaligus mendukung pendalaman pasar keuangan domestik.
"Sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut," kata Erwin.
Beralih ke pasar obligasi, yield untuk surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun terpantau masih stabil di posisi 6,848% pada penutupan perdagangan kemarin.
Yield yang stabil artinya tekanan jual dan beli masih berimbang. Perlu dipahami juga, bahwa gerak yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah. Kalau yield naik, maka harga turun, begitupun sebaliknya.
Addsource on Google

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)