Trump Tiba-Tiba Melunak ke Iran, Tagih Janji Soal Ini

10 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, menyatakan bahwa pihaknya menantikan jawaban resmi dari Iran pada hari Jumat ini terkait proposal untuk mengakhiri perang. Ketegangan di Timur Tengah kini berada di titik krusial seiring dengan upaya diplomasi yang berpacu dengan waktu di tengah konflik yang masih memanas.

Mengutip laporan CNBC International, Rubio menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di Roma saat melakukan kunjungan kepada Paus Leo XIV pada hari Jumat, (08/05/2026). Ia berharap respons dari Teheran dapat membawa kedua belah pihak ke dalam proses negosiasi yang lebih serius dan terarah.

"Kita seharusnya mengetahui sesuatu hari ini. Kami sedang menunggu tanggapan dari mereka. Kita akan lihat apa isi tanggapan tersebut. Harapannya adalah sesuatu yang dapat membawa kita ke dalam proses negosiasi yang serius," kata Marco Rubio.

Di sisi lain, pihak Iran menyatakan pada hari Kamis bahwa mereka sedang meninjau pesan-pesan dari AS yang diterima melalui mediator Pakistan. Namun, media pemerintah Iran yang mengutip seorang pejabat melaporkan bahwa hingga saat ini Teheran belum mencapai kesimpulan atau memberikan jawaban resmi.

Laporan dari Axios dan beberapa media lainnya awal pekan ini menyebutkan bahwa kedua negara sebenarnya sudah mendekati kesepakatan nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin. Nota tersebut dirancang untuk mengakhiri peperangan sekaligus melanjutkan pembicaraan terkait program nuklir Iran.

Pernyataan Rubio ini muncul di tengah kebingungan mengenai apakah gencatan senjata antara Iran dan AS masih berlaku. Hal ini dipicu oleh aksi saling serang di Selat Hormuz, di mana kedua belah pihak saling tuduh sebagai pemantik serangan awal.

Presiden Donald Trump pada hari Kamis bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku dan menyebut serangan-serangan yang terjadi hanyalah sebuah "colekan sayang" (love tap). Trump juga mengeklaim bahwa pihak Iran sangat ingin membuat kesepakatan damai.

"Kami telah melihat laporan semalam bahwa Iran telah membentuk, atau mencoba membentuk, sebuah badan yang akan mengendalikan lalu lintas di selat tersebut. Itu akan menjadi masalah. Itu sebenarnya tidak dapat diterima," tegas Rubio.

Blokade di jalur perairan sempit tersebut menjadi ancaman serius karena biasanya mengangkut sekitar seperlima dari pasokan minyak global. Situasi ini telah menyebabkan guncangan energi global, yang bahkan oleh Badan Energi Internasional (IEA) disebut sebagai "ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah."

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |