Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terus berlanjut. Di saat bersamaan, pengangguran dan lulusan kuliah (fresh graduate) kesulitan mendapat pekerjaan di tengah kecenderungan perusahaan yang mulai mengerem perekrutan karyawan baru.
Banyak yang mengaitkan fenomena ini dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), selain dari kondisi ekonomi yang tak pasti di tengah gejolak geopolitik. Beberapa pekerjaan makin tak membutuhkan kontribusi manusia karena sudah bisa dilakukan oleh AI.
Ke depan, AI yang kian canggih digadang-gadang akan memengaruhi bursa kerja dengan lebih signifikan. Laporan CNBC International mengatakan robot AI akan melampaui populasi pekerja manusia dalam beberapa dekade ke depan.
Hal ini diungkap mantan kepala inovasi Citi Global Insights, Rob Garlick, pada pekan ini. Ia mengatakan makin banyak perusahaan mengadopsi agen AI untuk menekan biaya operasional.
Ketika para pemimpin perusahaan lebih memprioritaskan keuntungan, maka pekerja manusia akan ditinggalkan dan tak lagi dianggap relevan.
"Kita hidup dalam sistem kepemimpinan dalam konteks ekonomi dan bisnis yang sangat merayakan keuntungan," kata Garlick dalam program CNBC 'Squawk Box Europe', dikutip Selasa (24/2/2026).
"Ketika memasangkan keuntungan dengan perkembangan teknologi, maka ada harga yang harus dibayar di masa depan. Ketika AI menjadi lebih banyak, lebih baik, dan lebih murah, AI akan menjadi pengganti [pekerja] manusia," ia menjelaskan.
Garlick baru-baru ini menulis buku terkait dampak AI berjudul 'AI - Anarki atau Keberlimpahan? Alasan Masa Depan Membutuhkan Pemimpin yang Pro-Manusia'.
Di dalamnya berisi penelitian sebelumnya yang ia lakukan ketika bekerja di Citi. Hasilnya, ia menyimpulkan robot-robot AI akan menjamur sebagai hasil dari keputusan bisnis.
"Dalam beberapa dekade ke depan, kita akan melihat lebih banyak robot AI ketimbang pekerja manusia," ia menambahkan.
Robot AI yang meliputi humanoid, robot pembersih rumah, serta mobil otomatis tanpa sopir, diproyeksikan akan meningkat menjadi 1,3 miliar unit pada 2035 mendatang, menurut laporan Citi pada 2024 yang dipimpin oleh Garlick. Laporan tersebut juga menyebut jumlah robot AI akan meningkat drastis mencapai lebih dari 4 miliar unit pada 2050 mendatang.
Laporan Citi tersebut juga mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan robot untuk 'membayar dirinya sendiri' melalui uang yang dihemat dengan menggantikan pekerja manusia. Sebagai contoh, robot seharga US$15.000 diprediksi bisa kembali modal dalam 3,8 pekan untuk membayar gaji manusia sebesar US$41/jam.
Sementara itu, robot dengan harga US$35.000 bisa kembali modal selama 8,9 pekan untuk menggantikan gaji manusia sebesar US$41 per jam.
"Saat ini, Anda bisa membeli humanoid dan kembali modal dibandingkan terus-terusan menggaji pekerja manusia selama kurang dari 10 pekan," kata Garlick. "Manusia tidak bisa berkompetisi dengan hitung-hitungan seperti ini," ujarnya.
Agen AI Makin Menjamur
Terpisah, laporan Work Trend Index dari Microsoft menunjukkan 80% para pemimpin perusahaan saat ini berekspektasi agen AI akan terintegrasi ke strategi AI mereka dalam periode 12-18 bulan ke depan. Agen AI merupakan program software yang bisa menyelesaikan tugas tanpa arahan perinci dari manusia.
Sementara itu, global managing partner McKinsey & Company, Bob Sternfels, mengatakan bahwa perusahaan saat ini memperkerjakan 20.000 agen AI dan 40.000 pekerja manusia. Hal itu disampaikan dalam wawancara dengan Harvard Business Review.
Setahun sebelumnya, perusahaan hanya memperkerjakan 3.000 agen AI. Sternfels memprediksi dalam 18 bulan dari sekarang, jumlah agen AI dan pekerja manusia akan seimbang.
CEO Tesla, Elon Musk, juga memiliki penilaian serupa. Dalam konferensi di World Economic Forum (WEF) di Davos pada bulan lalu, Musk mengatakan AI akan melampaui intelijen manusia pada akhir tahun ini.
"Prediksi saya, kita akan membuat sangat banyak robot AI dan mereka akan 'mengaburkan' batas dengan manusia. Akan banyak keberlimpahan produk dan jasa, karena saya memprediksi akan lebih banyak robot ketimbang manusia," kata Musk.
Kekhawatiran soal AI menggantikan peran manusia makin meningkat dalam setahun terakhir. Banyak perusahaan besar seperti Amazon, Salesforce, Accenture, Heineken, hingga Luthfansa, yang terang-terangan mengatakan AI merupakan salah satu faktor mereka melakukan PHK.
Managing director di International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, mengatakan kepada CNBC International pada Januari lalu bahwa AI sudah "menghantam pasar kerja seperti tsunami".
Ia memperingatkan bahwa kebanyakan negara dan bisnis belum mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapi perubahan tersebut.
Menurut data dari firma konsultan Challenger, Gray & Christmas, AI memainkan peran dalam PHK yang berdampak pada 55.000 pekerja di AS sepanjang 2025.
Kendati demikian, beberapa bos raksasa teknologi berupaya menggemborkan tone positif atas kehadiran AI. Salah satunya CEO Nvidia, Jensen Huang, yang selama ini paling diuntungkan karena booming AI.
Ia mengklaim ledakan AI akan menciptakan pekerjaan dengan gaji besar untuk para pekerja yang membangun AI dan pabrik chip. Huang mengatakan teknologi tersebut akan mendorong permintaan yang besar untuk pekerjaan fisik dan keterampilan khusus, seperti tukang pipa, tukang listrik, tukang konstruksi, dan tukang baja.
(fab/fab)
Addsource on Google










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397493/original/081793800_1761810055-SnapInsta.to_569525283_18402218281189970_8523425264511917268_n.jpg)





