Ada Data Genting dari AS dan China, Ini Deretan Sentimen Pekan Depan

2 hours ago 1

Sentimen Pekan Depan

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 March 2026 18:09

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar global akan memasuki pekan yang relatif singkat namun sarat dengan agenda penting dari dua ekonomi terbesar dunia, yakni China dan Amerika Serikat. Investor akan mencermati rilis data aktivitas ekonomi China pada awal pekan serta keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) yang dijadwalkan pada pertengahan pekan.

Rangkaian data tersebut menjadi perhatian karena memberikan gambaran mengenai kekuatan pemulihan ekonomi China sekaligus arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Kombinasi kedua faktor ini kerap menjadi penentu sentimen bagi pergerakan pasar saham global, nilai tukar, hingga harga komoditas.

Pergerakan pasar keuangan pada pekan depan berpotensi dipengaruhi oleh realisasi indikator tersebut, terutama dalam menentukan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan ekonomi global dan arah suku bunga di Amerika Serikat.

Aktivitas Industri China

Agenda ekonomi global akan diawali pada Senin dengan rilis data produksi industri China untuk periode Januari-Februari. Konsensus pasar memperkirakan produksi industri China akan tumbuh sekitar 5,0% secara tahunan.

Sebelumnya, melansir dari National Bureau of Statistics yang dikutip Trading Economics, produksi industri China pada Desember 2025 tumbuh 5,2% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 4,8% pada bulan sebelumnya sekaligus melampaui ekspektasi pasar yang berada di kisaran 5,0%.

Kenaikan tersebut mencatatkan laju pertumbuhan tercepat sejak September dan terutama didorong oleh penguatan aktivitas sektor manufaktur yang tumbuh 5,7%, meningkat dari 4,6% pada November. Pemerintah China dalam beberapa bulan terakhir memang mendorong kebijakan untuk memperkuat permintaan domestik guna menopang pertumbuhan ekonomi.

Selain manufaktur, produksi sektor pertambangan juga tetap menunjukkan ekspansi sebesar 5,4%, meskipun sedikit melambat dibandingkan 6,3% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, produksi listrik, panas, gas, dan air tumbuh 0,8%.

Secara lebih rinci, dari 41 sektor industri utama, sebanyak 33 sektor mencatatkan pertumbuhan. Beberapa sektor dengan kenaikan paling kuat antara lain industri komputer dan peralatan komunikasi yang melonjak 11,8%, industri kereta api dan galangan kapal 9,2%, otomotif 8,3%, serta produk kimia sebesar 8%.

Sepanjang 2025, produksi industri China secara keseluruhan tercatat tumbuh 5,9%, sementara secara bulanan output industri meningkat 0,49%.

Konsumsi Domestik China

Selain aktivitas industri, investor juga akan mencermati data penjualan ritel China yang menjadi indikator penting bagi kondisi konsumsi domestik.

Melansir dari National Bureau of Statistics yang dikutip Trading Economics, penjualan ritel China pada Desember 2025 hanya tumbuh 0,9% secara tahunan. Angka ini melambat dibandingkan kenaikan 1,3% pada bulan sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan 1,2%.

Pertumbuhan tersebut menjadi yang terlemah sejak Desember 2022, mencerminkan tekanan pada konsumsi rumah tangga yang masih dipengaruhi oleh kondisi pasar tenaga kerja yang relatif lemah serta penurunan harga properti.

Secara sektoral, pertumbuhan penjualan produk makanan dan bahan pokok melambat menjadi 3,9% dari sebelumnya 6,1%. Penjualan pakaian dan tekstil juga melambat menjadi 0,6% dibandingkan 3,5% pada bulan sebelumnya.

Penjualan obat-obatan tradisional dan modern tercatat tumbuh 1,2%, turun dari 4,9%, sementara penjualan perlengkapan budaya dan kantor meningkat 9,2%, meskipun lebih rendah dibandingkan 11,7% pada November.

Di sisi lain, penjualan produk minyak bumi dan turunannya mengalami kontraksi sebesar 11%, lebih dalam dibandingkan penurunan 8% pada bulan sebelumnya. Beberapa sektor lain seperti mobil, peralatan rumah tangga, serta produk tembakau dan alkohol juga masih mencatatkan penurunan meskipun dengan laju kontraksi yang lebih moderat.

Secara bulanan, penjualan ritel China turun 0,12%, meskipun penurunan tersebut lebih kecil dibandingkan kontraksi 0,41% pada bulan sebelumnya.

Tekanan Harga Produsen Amerika Serikat

Dari Amerika Serikat, pelaku pasar akan mencermati rilis data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) untuk bulan Februari yang dijadwalkan pada Rabu.

Melansir dari Bureau of Labor Statistics yang dikutip Trading Economics, harga produsen di Amerika Serikat sebelumnya naik 0,5% secara bulanan pada Januari 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada bulan sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,3%.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan harga pada sektor jasa yang meningkat 0,8%, mencatatkan kenaikan terbesar sejak Juli. Salah satu pendorong utamanya berasal dari kenaikan margin pada sektor perdagangan peralatan profesional dan komersial yang melonjak 14,4%.

Harga juga meningkat pada sejumlah kategori lain seperti pakaian dan alas kaki, produk kimia, layanan telekomunikasi kabel, serta sektor ritel kesehatan dan kecantikan.

Sebaliknya, harga barang justru turun 0,3%, penurunan terbesar sejak Maret 2025. Penurunan ini terutama dipicu oleh anjloknya harga bensin sebesar 5,5%. Selain itu, harga telur ayam, listrik, bahan bakar gas, buah segar, serta etanol juga mengalami penurunan.

Secara tahunan, harga produsen di Amerika Serikat tercatat naik 2,9%. Sementara itu, inflasi produsen inti meningkat 0,8% secara bulanan, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,3%.

Keputusan Suku Bunga The Fed

Sorotan utama pasar pada pekan depan akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

Melansir dari Federal Reserve yang dikutip Trading Economics, bank sentral AS sebelumnya mempertahankan suku bunga pada kisaran target 3,5% hingga 3,75% dalam pertemuan Januari 2026. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar setelah The Fed melakukan tiga kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun lalu.

Notulen pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bahwa para pejabat bank sentral masih memiliki pandangan yang berbeda terkait arah kebijakan moneter ke depan.

Sebagian anggota menilai bahwa pemangkasan suku bunga tambahan dapat dipertimbangkan apabila inflasi terus menurun sesuai dengan ekspektasi. Namun sebagian lainnya menilai suku bunga sebaiknya dipertahankan untuk sementara waktu, bahkan tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi kembali meningkat.

Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati rilis proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed serta konferensi pers yang akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Agenda Domestik dan Libur Panjang Nasional

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting yang dijadwalkan pada awal pekan. Salah satu data yang dinanti adalah rilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) untuk Januari 2026 yang akan dipublikasikan pada Senin. Data ini menjadi indikator penting untuk melihat dinamika pembiayaan eksternal Indonesia, termasuk perkembangan utang pemerintah dan sektor swasta di tengah kondisi suku bunga global yang masih relatif tinggi.

Selain itu, Bank Indonesia juga dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Maret 2026. Pertemuan ini akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk melihat arah kebijakan moneter ke depan, khususnya terkait stabilitas nilai tukar rupiah dan respons bank sentral terhadap dinamika ekonomi global.

Di sisi lain, aktivitas pasar domestik pada pekan depan juga akan dipengaruhi oleh rangkaian hari libur nasional, dimulai dari Hari Suci Nyepi pada 18-19 Maret 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pada 20-24 Maret 2026. Kondisi ini berpotensi membuat aktivitas perdagangan di pasar keuangan domestik cenderung lebih terbatas menjelang periode libur panjang.

CNBC Indonesia Research

(emb/wur)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |