Jakarta, CNBC Indonesia - Wilayah Bandung Raya berpotensi menghadapi ancaman gempa bumi sekitar M 6,5-7 dari aktivitas Sesar Lembang. Patahan aktif yang membentang sepanjang hampir 29 Km di utara Bandung ini menjadi sorotan para peneliti geologi karena karakteristiknya yang kompleks dan berada dekat kawasan padat penduduk.
Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan hal tersebut dalam webinar bertajuk Kupas Tuntas Sesar Lembang Berbasis Geologi dan Geofisika untuk Mitigasi Gempa Bumi beberapa waktu lalu. Diskusi ini membahas hasil survei terbaru mengenai kondisi patahan Lembang dan upaya mitigasi bencana di wilayah Bandung Raya.
Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi, Edy Slameto mengatakan, pihaknya telah melakukan survei geologi dan geofisika terpadu pada akhir 2025 untuk mempelajari lebih dalam karakter Sesar Lembang. Penelitian ini menggabungkan berbagai metode, mulai dari penginderaan jauh, survei lapangan hingga analisis kondisi bawah permukaan.
Mengutip laman resmi ESDM, Minggu (15/3/2026), survei tersebut menggunakan berbagai metode geofisika, seperti Ground Penetrating Radar (GPR), geolistrik, geomagnetik detail, hingga metode geofisika dalam seperti gravity dan pemantauan gempa mikro. Pendekatan ini dilakukan untuk memetakan struktur patahan secara lebih akurat.
Dari hasil kajian tersebut, Badan Geologi membagi Sesar Lembang menjadi tiga segmen utama, yaitu segmen barat, segmen tengah, dan segmen timur.
Foto: Atlas Siaga Sesar Lembang. (Dok Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Provinsi Jawa Barat)
Atlas Siaga Sesar Lembang. (Dok Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Provinsi Jawa Barat)
Segmen barat memiliki karakter patahan yang relatif tegak di permukaan, namun pada kedalaman yang lebih besar cenderung miring ke arah selatan. Sementara itu, segmen tengah menunjukkan struktur patahan yang juga tegak tetapi memiliki karakter geologi yang berbeda dibandingkan segmen barat.
Adapun pada segmen timur ditemukan pola yang lebih kompleks. Data menunjukkan kemungkinan adanya dua pola kemiringan patahan, yakni miring ke arah utara di dekat permukaan, namun menjadi lebih tegak pada kedalaman yang lebih dalam.
Para peneliti juga menyoroti bahwa risiko gempa di wilayah Sesar Lembang tidak hanya berasal dari guncangan utama, tetapi juga bahaya ikutan seperti gerakan tanah dan retakan permukaan. Kondisi tersebut dinilai mirip dengan situasi di sekitar Sesar Cugenang yang memicu gempa Cianjur pada 2022. Daerah tersebut memiliki kesamaan kondisi geologi, yakni tersusun dari material rombakan gunung api muda yang relatif rapuh.
Selain faktor geologi, kerentanan bangunan yang tidak tahan gempa serta minimnya mitigasi juga dapat memperbesar dampak bencana jika gempa terjadi.
Oleh sebab itu, Badan Geologi menilai perlu upaya serius dalam pengurangan risiko bencana di kawasan sekitar Sesar Lembang, terutama melalui peningkatan mitigasi gempa dan kesadaran masyarakat terhadap potensi bahaya geologi di wilayah Bandung Raya.
(wur/wur)
Addsource on Google

















































