Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran kini tengah berupaya keras meredam potensi gejolak domestik yang diprediksi bakal meledak akibat hancurnya fondasi ekonomi negara tersebut setelah satu bulan berperang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Berdasarkan pantauan pada Senin, (30/03/2026), otoritas Teheran mulai mengerahkan pasukan keamanan besar-besaran di jalanan guna mencegah munculnya percikan kerusuhan dari rakyat yang frustrasi.
Langkah drastis ini diambil karena para pejabat Iran mengkhawatirkan kerusakan ekonomi yang sudah babak belur akan memicu oposisi yang lebih kuat terhadap sistem pemerintahan Teheran segera setelah konflik berakhir. Meskipun belum ada tanda-tanda pembangkangan massal di tengah peringatan keras dari pemerintah, kondisi di dalam negeri dilaporkan sangat tegang dengan keterlibatan milisi Basij yang bahkan merekrut anak-anak berusia 12 tahun untuk menjaga pos pemeriksaan.
Profesor sejarah modern dari University of St Andrews, Ali Ansari, menilai bahwa tekanan ekonomi yang sudah sangat berat sebelum perang kini berada di titik nadir yang jauh lebih berbahaya bagi keberlangsungan pemerintahan.
"Rezim Iran sudah berada dalam masalah besar sebelum perang dan sekarang mereka menerima pukulan telak. Krisis politik dan ekonomi yang mereka hadapi sebelumnya akan menjadi jauh lebih buruk. Semua masalah lama akan kembali lebih parah saat perdamaian tiba. Rezim ini sedang paranoid, terluka, dan pahit, sehingga mereka ingin menghancurkan masalah apa pun sebelum dimulai, namun hal itu justru bisa membuat lebih banyak orang berbalik melawan mereka," kata Ansari kepada Reuters, Selasa (31/3/2026).
Meskipun pemimpin Iran tampak percaya diri bisa bertahan dengan cara menutup jalur energi Selat Hormuz untuk memicu guncangan minyak global, ancaman paling nyata justru muncul dari dalam negeri saat pengeboman berhenti. Masyarakat Iran diprediksi akan mulai menuntut pertanggungjawaban ketika mereka melihat reruntuhan ekonomi dan prospek masa depan yang suram tanpa adanya bantuan sanksi internasional.
Seorang sumber senior di Iran mengungkapkan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah menjaga rantai pasokan tetap berjalan selama perang, namun kecemasan terhadap apa yang terjadi setelah perang terus meningkat.
"Tekanan ekonomi mungkin akan lebih terlihat sekarang karena bisnis-bisnis mulai dibuka kembali setelah libur panjang Iran," ungkap sumber tersebut.
Dampak ekonomi ini dirasakan langsung oleh warga sipil seperti Mohammad, seorang pria berusia 38 tahun asal Teheran yang bekerja di sebuah perusahaan perdagangan yang kini terancam melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
"Bisnis utama kami adalah dengan negara-negara di kawasan ini, dan jelas tidak pasti apakah hal itu bisa berlanjut setelah perang," ujar Mohammad.
Di sisi lain, lembaga pembela hak asasi manusia internasional melaporkan bahwa tindakan keras pemerintah tidak hanya menyasar aktivis, tetapi juga kelompok minoritas dan warga biasa yang kedapatan membagikan rekaman serangan udara di media sosial.
Direktur Human Rights Watch, Louis Charbonneau, menyatakan bahwa gelombang penangkapan terus terjadi dengan target yang sangat luas, mulai dari pembangkang hingga masyarakat etnis minoritas.
"Otoritas Iran terus melakukan gelombang penangkapan yang menargetkan pembangkang yang nyata maupun yang hanya sekadar dicurigai, anggota minoritas etnik dan agama di Iran termasuk Baha'i, serta orang-orang yang membagikan laporan atau cuplikan serangan," tutur Charbonneau.
Selain tindakan fisik, pemerintah juga menggunakan taktik intimidasi psikologis dengan memobilisasi pendukung untuk memenuhi jalanan setiap malam guna melakukan demonstrasi pro-pemerintah. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menduduki ruang publik agar tidak bisa digunakan oleh para demonstran yang ingin memprotes pemerintah.
Kepala Center for Human Rights in Iran, Hadi Ghaemi, menjelaskan bahwa aparat keamanan bahkan merambah ke lingkungan perumahan untuk menebar ketakutan di hati warga agar tidak berani melakukan perlawanan.
"Mereka bahkan menargetkan lingkungan di mana mereka berpatroli dengan kendaraan dan mengintimidasi orang-orang di rumah mereka dengan meneriakkan slogan-slogan pro-rezim dan menembakkan senjata ke udara," pungkas Ghaemi.
Hingga saat ini, data ekonomi resmi mengenai kerugian perang belum dipublikasikan oleh Teheran, namun kerusakan infrastruktur energi yang vital dipastikan telah mematikan sumber pendapatan negara. Kondisi ini membuat nilai tukar dan stabilitas domestik berada di ujung tanduk, di mana kerugian miliaran dolar AS atau setara triliunan rupiah kini membayangi masa depan Iran.
(tps/luc)
Addsource on Google















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)