Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
18 March 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar global tengah menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia pukul 01.00 WIB, tepatnya setelah rapat 17-18 Maret 2026.
Selain keputusan suku bunga, pasar juga menunggu sinyal terbaru soal arah kebijakan moneter AS ke depan, terutama di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah dan mulai melambatnya ekonomi Negeri Paman Sam.
Keputusan The Fed selalu menjadi perhatian utama pasar keuangan dunia karena pengaruhnya sangat besar terhadap pergerakan dolar AS, arus modal global, imbal hasil obligasi, hingga nilai tukar negara berkembang.
Pertemuan pekan ini menjadi sangat krusial karena digelar di tengah memanasnya perang Iran versus Israel-Amerika Serikat (AS). Perang membuat harga minyak melonjak dan dikhawatirkan akan melambungkan inflasi AS. Di sinilah titik krusial The Fed berada.
Dengan tugas utama menjaga inflasi maka keputusan The Fed akan sangat menentukan AS dan juga dunia. Karena bagaimanapun The Fed adalah bank sentral dari negara super power AS sehingga kebijakannya akan sangat menentukan dunia, terutama di pasar keuangan.
Sama seperti keputusan pada Januari lalu. Pada pertemuan Januari 2026, The Fed memang menahan suku bunga.
Melansir dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa 98,9% pelaku pasar yakin bahwa The Fed akan menahan suku bunga acuannya di level 3,50%-3,75% dalam pertemuan kali ini. akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Hal ini sama seperti keputusan pada Januari lalu. Pada pertemuan Januari 2026, The Fed memang mempertahankan suku bunga di level tersebut sambil menegaskan bahwa langkah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Foto: CME FedWatch Tool
Meeting Probabilities
Berikut ini adalah beberapa hal yang paling dicermati pelaku pasar menjelang pengumuman The Fed malam ini:
1. Suku bunga
Perhatian utama pasar tetap tertuju pada keputusan suku bunga. Secara umum, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%.
Namun, yang lebih penting bagi pasar saat ini bukan hanya keputusan malam ini, melainkan arah kebijakan setelahnya. Pasalnya, The Fed sedang menghadapi situasi yang tidak mudah.
Di satu sisi, tekanan inflasi memang sudah menurun, tetapi belum sepenuhnya hilang. Inflasi konsumen AS pada Februari 2026 tercatat 2,4% secara tahunan, sedangkan inflasi inti masih berada di 2,5%. Sementara itu, ukuran inflasi yang lebih diperhatikan The Fed, yakni PCE, masih berada di 2,8% dan core PCE 3,1% pada Januari 2026.
Kondisi ini membuat ruang untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas. Namun pada saat yang sama, alasan untuk kembali menaikkan suku bunga juga belum cukup kuat.
Situasi semakin rumit karena kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah berisiko menahan laju penurunan inflasi. Karena itu, sebagian pelaku pasar mulai menilai The Fed kemungkinan akan menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan semula.
Pandangan ini juga sejalan dengan proyeksi Goldman Sachs yang memperkirakan pemangkasan suku bunga baru akan dimulai pada September 2026, mundur dari perkiraan sebelumnya pada Juni.
2. Proyeksi ekonomi terbaru
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menunggu pembaruan perkiraan ekonomi dari The Fed. Dalam rapat Maret ini, bank sentral AS akan merilis proyeksi terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan tingkat pengangguran.
Pada proyeksi terakhir yang dirilis Desember 2025, The Fed memperkirakan ekonomi AS tumbuh 2,3% pada 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan berada di 4,4%. Dari sisi harga, inflasi PCE diperkirakan 2,4% dan inflasi inti atau core PCE 2,5%.
Namun setelah proyeksi itu dirilis, kondisi ekonomi berubah. Pertumbuhan mulai melambat, pasar tenaga kerja tidak sekuat sebelumnya, dan risiko kenaikan harga energi kembali muncul akibat konflik di Timur Tengah.
Karena itu, pasar kini menunggu apakah The Fed akan memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi, menaikkan proyeksi inflasi, atau bahkan melakukan keduanya sekaligus.
3. Dot plot
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga sangat menunggu dot plot The Fed.
Dot plot penting karena dari sinilah pelaku pasar mencoba membaca seberapa besar ruang pemangkasan suku bunga yang masih dibuka The Fed, bukan hanya untuk tahun ini tetapi juga hingga beberapa tahun mendatang.
Dalam dot plot FOMC Desember 2025, terdapat 19 anggota The Fed yang menyampaikan proyeksinya. Untuk tahun 2026, gambarannya menunjukkan bahwa pandangan para pejabat The Fed masih sangat hati-hati.
Hanya satu anggota yang mengindikasikan perlunya pemangkasan suku bunga lebih jauh, sementara sebagian besar lainnya cenderung melihat suku bunga tetap ditahan di level yang masih relatif tinggi.
Foto: The Federal Reserve
Dot Plot (Desember 2025)
Karena itu, dalam FOMC kali ini pasar akan melihat apakah dot plot terbaru masih menunjukkan sikap hati-hati seperti pada Desember 2025, atau justru memberi sinyal lain, termasuk kemungkinan suku bunga tetap ditahan lebih lama bahkan dibuka ruang untuk kenaikan suku bunga jika ancaman inflasi kembali membesar akibat lonjakan harga energi di tengah perang.
4. Pernyataan The Fed
Pernyataan resmi The Fed juga akan menjadi perhatian besar karena pasar ingin membaca apakah bank sentral AS kini lebih menekankan risiko inflasi atau justru mulai lebih khawatir terhadap perlambatan ekonomi.
Lonjakan harga minyak yang sempat menembus US$100 per barel akibat konflik di Timur Tengah membuat kekhawatiran tekanan harga kembali menguat. Karena itu, perubahan kecil dalam kalimat pernyataan The Fed bisa sangat menentukan arah dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan aset berisiko.
5. Konferensi pers Jerome Powell
Setelah keputusan diumumkan, perhatian pasar akan langsung beralih ke konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.
Berdasarkan kalender resmi The Fed, hasil FOMC dijadwalkan keluar pukul 2:00 siang waktu AS Timur dan konferensi pers digelar pukul 2:30 siang waktu AS Timur, atau sekitar pukul 01.00 WIB dan 01.30 WIB pada Kamis dini hari waktu Indonesia.
Dalam beberapa kesempatan, Powell kerap menyampaikan hal-hal yang tidak tertulis secara rinci di dokumen resmi. Karena itu, konferensi pers menjadi momen yang sangat ditunggu pelaku pasar.
Pernyataan Powell yang sulit ditebak inilah yang sering menggerakkan pasar keuangan. Informasi tambahan yang ia sampaikan bisa menjadi bahan pertimbangan baru bagi investor untuk mengambil keputusan, sekaligus membantu pasar membaca arah kebijakan The Fed ke depan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

















































