Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
18 March 2026 18:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Mengunyah makanan lebih lama bukan sekadar etika makan, tapi terbukti berdampak langsung pada jumlah kalori yang masuk ke tubuh. Penelitian menunjukkan, kebiasaan sederhana ini bisa membuat seseorang makan lebih sedikit dan merasa kenyang lebih lama.
Melansir dari Dagens Diabetes, riset University of Birmingham menemukan bahwa peserta yang mengunyah setiap suapan selama 30 detik mengkonsumsi camilan hingga setengah lebih sedikit dua jam setelah makan siang, dibanding kelompok yang makan seperti biasa. Sementara itu, penelitian di Tiongkok menunjukkan bahwa mengunyah hingga 40 kali per suapan dapat menurunkan asupan kalori sekitar 12% dalam satu sesi makan.
Angka-angka ini mungkin terdengar modern. Namun, prinsipnya telah dikenal sejak lebih dari 14 abad lalu.
Apa yang Terjadi dalam Mulut?
Mengunyah bukan sekadar proses mekanis, tetapi tahap awal yang krusial dalam sistem pencernaan. Melansir dari Fakultas Kedokteran UII, proses ini membentuk bolus partikel makanan yang lebih kecil dan mudah ditelan serta mengaktifkan enzim dalam air liur seperti amilase yang mulai memecah karbohidrat.
Air liur berperan sebagai tahap awal pencernaan yang mulai bekerja sejak makanan masih di mulut. Jika proses ini tidak optimal, maka pencernaan di tahap berikutnya seperti di lambung dan usus ikut terganggu.
Mengunyah 33x Bersifat Arbitrer
Melansir dari SBS Food, angka 32 atau 33 sebenarnya bersifat arbitrer, yaitu tidak ada jumlah pasti yang berlaku untuk semua jenis makanan. Nasi, daging, atau sayuran memiliki kebutuhan kunyahan yang berbeda.
Namun, dalam perspektif kesehatan dan etika makan, angka tersebut mencerminkan prinsip penting, yaitu mengunyah hingga makanan benar-benar halus sebelum ditelan. Dalam tradisi Islam, anjuran ini juga tercermin dalam sunnah untuk memperkecil suapan dan memperbaiki kunyahan.
Menariknya, prinsip ini sejalan dengan temuan ilmiah modern. Profesor Sandra Capra dari University of Queensland menegaskan bahwa mengunyah dengan baik berperan dalam meningkatkan penyerapan nutrisi, memperlancar pencernaan, dan membantu tubuh mengenali rasa kenyang dengan lebih efektif.
Etika Makan Rasulullah
Rasulullah SAW telah mengajarkan etika makan yang menekankan pentingnya makan secara perlahan dan tidak tergesa-gesa. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sikap tenang dan tidak terburu-buru merupakan bagian dari adab yang dianjurkan, termasuk dalam aktivitas makan.
Sebagaimana hadits Rasulullah Saw:
نﺎﻄﯿﺸﻟا ﻦﻣ ﺔﻠﺠﻌﻟا و ﷲ ﻦﻣ ﻲﻧﺄﺘﻟا
Artinya: "Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan." (HR. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu, Ash-Shahih: 1795).
Rasulullah juga menganjurkan untuk memperkecil suapan dan memperbaiki kunyahan. Dalam beberapa riwayat disebutkan angka 32 hingga 33 kali kunyahan. Namun, makna utamanya bukan pada angka tersebut, melainkan pada anjuran untuk mengunyah hingga makanan benar-benar halus sebelum ditelan.
(mae/mae)
Addsource on Google

















































