Diam Bukan Lemah! Strategi "Kalem" China Ternyata Senjata Lawan AS

2 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - China memilih langkah hati-hati dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian memanas sepanjang awal 2026. Sikap ini dinilai bukan bentuk kelemahan, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga posisinya di tengah persaingan dengan Amerika Serikat (AS).

Menurut laporan Valdai Discussion Club, pendekatan China dalam menghadapi ketegangan global bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah strategis yang terukur.

Dalam analisisnya, lembaga pemikir dan forum diskusi yang berbasis di Moskow tersebut menilai Beijing sengaja menghindari konfrontasi langsung dengan AS dan lebih memilih membangun keunggulan dalam persaingan jangka panjang.

Selama beberapa dekade terakhir, kebangkitan China telah menjadi salah satu faktor utama yang membentuk lanskap global. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger, bahkan pernah menilai bahwa meningkatnya peran China akan melampaui dampak berakhirnya Perang Dingin.

Didukung sumber daya domestik besar dan arus investasi asing, Beijing dalam waktu singkat menjelma menjadi kekuatan ekonomi utama sekaligus aktor politik global yang semakin percaya diri. Salah satu tonggak pentingnya adalah peluncuran Belt and Road Initiative (BRI) pada 2013, yang memperluas jangkauan ekonomi sekaligus memperkuat pengaruh China di berbagai kawasan.

Melalui pendekatan non-intervensi dan penekanan pada stabilitas politik, China menawarkan alternatif bagi model Barat yang kerap dikaitkan dengan syarat politik tertentu. Pendekatan ini mendapat respons positif di banyak negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yang melihat Beijing sebagai mitra strategis sekaligus penyeimbang kekuatan Barat.

Ekspektasi terhadap peran China pun meningkat. Sejumlah negara mulai memandang Beijing bukan hanya sebagai mitra ekonomi, tetapi juga sebagai kekuatan penyeimbang, bahkan calon pemimpin global di masa depan.

Namun, realitas terbaru menunjukkan pendekatan yang lebih berhati-hati. Dalam berbagai konflik internasional, China konsisten menahan diri dari keterlibatan langsung selama kepentingan intinya tidak terdampak secara langsung.

Respons Beijing terhadap serangan AS di Venezuela, krisis di Kuba, hingga ketegangan di Timur Tengah, termasuk terhadap Iran, terlihat terbatas. Padahal, China memiliki kepentingan ekonomi dan energi yang signifikan di kawasan-kawasan tersebut.

"Alih-alih berhadapan langsung dengan Washington, China memilih menjaga jalur diplomasi serta melindungi kepentingan strategisnya secara selektif. Strategi ini sekaligus mencerminkan fokus Beijing pada stabilitas domestik dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," demikian laporan Valdai, dikutip Kamis (30/4/2026).

Meski demikian, pendekatan ini bukan tanpa risiko. Jika AS makin percaya diri dalam kebijakan globalnya, tekanan terhadap China, terutama di kawasan sekitar, berpotensi meningkat.

Selain itu, ketergantungan China terhadap pasokan energi eksternal juga menjadi titik lemah. Gangguan terhadap akses pasar global dan sumber daya dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi domestik.

Dalam konteks ini, China menghadapi dilema sebagai kekuatan besar: terlalu pasif berisiko mengurangi pengaruh global, sementara keterlibatan berlebihan dapat memicu konflik yang lebih luas.

Untuk saat ini, Beijing disebut tengah memilih jalur aman. Namun, di tengah dunia yang semakin bergejolak, efektivitas strategi ini dalam jangka panjang masih menjadi tanda tanya.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |