Dolar AS Menggila, Mata Uang Asia Kompak Babak Belur Pekan Ini!

3 hours ago 7

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 May 2026 09:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini. Rupiah ikut melemah, meski tekanannya tidak sedalam sejumlah mata uang utama Asia lainnya.

Nilai tukar rupiah menutup pekan perdagangan yang pendek di zona hijau, seiring libur panjang pada Kamis dan Jumat. Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan Rabu (13/5/2026) di level Rp17.460/US$. Posisi ini menguat 0,17% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Penguatan ini menjadi angin segar setelah rupiah sempat menembus level psikologis baru Rp17.500/US$ secara intraday pada Selasa dan Rabu. Kendati demikian, secara mingguan rupiah masih tercatat melemah 0,58% terhadap dolar AS.

Sepanjang pekan ini, seluruh mata uang Asia dalam pantauan melemah terhadap dolar AS.

Pelemahan terdalam terjadi pada won Korea Selatan yang ambles 2,48% ke posisi KRW 1.497,73/US$.

Peso Filipina menyusul dengan pelemahan 1,74% ke PHP 61,553/US$, disusul rupee India yang turun 1,67% ke INR 95,96/US$.

Tekanan besar juga terlihat pada baht Thailand yang melemah 1,55% ke THB 32,66/US$ dan yen Jepang yang turun 1,35% ke JPY 158,76/US$. Sementara itu, dolar Singapura terkoreksi 1,07% ke SGD 1,28/US$.

Pelemahan yang lebih terbatas terlihat pada dolar Taiwan yang turun 0,83% ke TWD 31,561/US$, ringgit Malaysia melemah 0,74% ke MYR 3,947/US$.

Adapun dong Vietnam melemah 0,17% ke VND 26.350/US$, sementara yuan China menjadi mata uang dengan pelemahan paling tipis di Asia setelah turun 0,13% ke CNY 6,809/US$. 

Kinerja mata uang Asia yang kompak melemah tidak lepas dari penguatan dolar AS sepanjang pekan ini.

Indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 1,41% ke level 99,284. Penguatan ini menunjukkan dolar AS kembali diburu pelaku pasar, seiring ekspektasi bahwa suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) berpeluang bertahan tinggi lebih lama, bahkan muncul peluang kenaikan suku bunga lagi.

Dolar AS menguat lima hari beruntun pada Jumat dan menuju kenaikan mingguan terbesar dalam dua bulan.

Kenaikan ini terjadi setelah pasar semakin memperhitungkan kemungkinan The Fed masih perlu bersikap lebih ketat untuk menahan tekanan inflasi.

Ekspektasi tersebut ikut terdorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,599%, level tertinggi dalam setahun.

Kenaikan yield ini menjadi sinyal bahwa pasar obligasi mulai semakin khawatir terhadap risiko inflasi.

Tekanan harga kembali menjadi perhatian karena pasokan energi melalui Selat Hormuz masih banyak terganggu akibat perang Iran.

Harga minyak yang kembali melonjak membuat kekhawatiran inflasi semakin besar. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat ke atas US$105 per barel, sementara Brent naik ke kisaran US$109 per barel.

Kenaikan harga minyak berisiko membuat biaya energi dan transportasi ikut naik. Jika tekanan ini bertahan lama, inflasi bisa kembali sulit turun, sehingga ruang The Fed untuk memangkas suku bunga menjadi semakin terbatas.

Sejumlah pejabat The Fed pada pekan ini juga memberi sinyal bahwa pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama. Beberapa pejabat bahkan tidak menutup kemungkinan suku bunga perlu dinaikkan jika tekanan harga terus meningkat.

Pasar pun mulai mengubah ekspektasinya. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 49,5% bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Desember. Angka ini melonjak dibandingkan 14,3% pada pekan sebelumnya.

Kondisi ini membuat dolar AS semakin kuat di hadapan banyak mata uang dunia. Saat imbal hasil obligasi AS naik dan ekspektasi suku bunga tinggi menguat, aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |