Harga Emas Babak Belur Gara-gara The Fed Hingga Ekonomi AS

4 hours ago 7

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 May 2026 08:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia ambruk sepanjang pekan ini. Tekanan makin berat setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) kembali panas, sehingga pasar mulai ragu bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan arah pemangkasan suku bunga ke depan.

Merujuk data Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$4.538,01 per troy ons pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Harga ini anjlok 2,40% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan pada Jumat sekaligus memperpanjang koreksi emas menjadi empat hari beruntun. 

Secara mingguan, harga emas juga melemah tajam 3,74%. Koreksi ini membalikkan penguatan pada pekan sebelumnya, ketika emas masih mampu naik 2,18%.

Tekanan sepanjang pekan ini membuat emas kembali menjauh dari level US$4.700 per troy ons. Harga emas juga semakin dekat dengan level psikologis US$4.500 per troy ons, yang menjadi area penting bagi pelaku pasar.

Tekanan utama bagi emas pekan ini datang dari data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Inflasi harga konsumen (CPI) dan inflasi harga produsen (PPI) menunjukkan tekanan harga di AS masih kuat.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 kembali menurun.

Sebelumnya, pasar masih membuka peluang satu hingga dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini. Namun, setelah data inflasi keluar, pelaku pasar mulai memperkirakan The Fed hanya akan memangkas suku bunga sekali, bahkan ada peluang tidak memangkas sama sekali.

Bagi emas, ekspektasi suku bunga tinggi menjadi tekanan besar. Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Ketika suku bunga dan yield obligasi AS tinggi, investor cenderung lebih tertarik pada aset berbunga.

Tekanan emas juga semakin berat setelah Kevin Warsh dikonfirmasi sebagai Ketua The Fed yang baru. Warsh dipandang lebih hawkish atau cenderung mendukung kebijakan suku bunga ketat untuk menekan inflasi.

Ekspektasi arah kebijakan The Fed yang lebih ketat membuat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut menguat. Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli di luar AS, sementara kenaikan yield membuat daya tarik emas semakin berkurang.

Situasinya menjadi cukup pelik. Di satu sisi, perang AS-Israel melawan Iran dan penutupan Selat Hormuz seharusnya bisa menopang emas sebagai aset aman. Namun, dampak perang juga membuat harga energi tinggi dan memperbesar risiko inflasi.

Dengan kondisi tersebut, sentimen geopolitik belum cukup kuat untuk mengangkat emas. Pasar justru lebih fokus pada risiko inflasi, arah suku bunga The Fed, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield obligasi.

Ke depan, pergerakan emas masih akan dipengaruhi komentar pejabat The Fed, arah kebijakan Kevin Warsh, perkembangan perang Iran, serta arus dana institusi ke aset emas. Selama ekspektasi suku bunga tinggi masih kuat, ruang pemulihan emas berpotensi tetap terbatas.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |