Harga Plastik di RI Mahal-Langka, Pengusaha Minta Tolong ke Negara Ini

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga plastik di pasaran terbang. Kenaikan harganya cukup signifikan dan juga langka. Kenaikan harga dan stok langka ini menyebabkan para pedagang mulai teriak.

Secara umum, industri petrokimia nasional sudah mulai merasakan dampak langsung dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian pasokan bahan baku mendorong pelaku usaha mencari strategi alternatif demi menjaga keberlangsungan produksi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan pelaku industri kini terus memantau dinamika pasar global, terutama terkait ketersediaan nafta yang selama ini menjadi tulang punggung produksi.

"Untuk nafta kebutuhan 3 juta ton per tahun dan 100% impor. Untuk bahan baku plastik seperti PE (Polyethylene), PP (Polypropylene), PET (Polyethylene Terephthalate), PS (Polystyrene), dan PVC (Polyvinyl Chloride) dan lainnya sekitar 8 juta ton, dengan 50% masih impor," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (6/4/2026).

Pelaku industri pun mulai menjajaki sumber pasokan baru di luar kawasan tradisional. Namun, langkah ini membawa konsekuensi tambahan, terutama dari sisi waktu pengiriman dan biaya logistik.

"Sudah mulai komunikasi dengan Asia Tengah, Afrika, dan Amerika. Yang jelas lead time lebih lama, paling cepat sekitar 50 hari. Semua negara sedang berusaha untuk mengamankan feedstock" jelas Fajar.

Suasana penjualan aneka plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (6/4/2026) yang sedang mengalami kenaikan harga. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)Foto: Suasana penjualan aneka plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (6/4/2026) yang sedang mengalami kenaikan harga. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)
Suasana penjualan aneka plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (6/4/2026) yang sedang mengalami kenaikan harga. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)

Di tengah kondisi tersebut, kekhawatiran global mulai terlihat. Sejumlah negara bahkan mengalami lonjakan permintaan yang tidak biasa, mencerminkan meningkatnya kecemasan terhadap pasokan bahan baku.

Salah satu negara yang mengalami peningkatan permintaan plastik terjadi di Korea Selatan. Namun, Fajar menilai ada perbedaan situasi antara industri petrokimia dan Korea sehingga RI dinilai cenderung aman.

"Korea beberapa petrokimia sudah slowdown lama sebelum perang (Timur Tengah), jadi sekarang makin susah," sebutnya.

Sementara itu, analis menilai arah dampak dari situasi ini sangat bergantung pada lamanya konflik berlangsung. Jika ketegangan berlarut, tekanan terhadap industri diperkirakan tidak lagi bersifat sementara. Ketidakpastian global saat ini berpotensi berkembang menjadi tekanan jangka panjang bagi perekonomian.

"Kalau kita melihat konflik Timur Tengah ini dalam kerangka skenario, kuncinya sebenarnya ada pada durasi. Selama konflik masih berkaitan dengan tujuan strategis seperti tekanan politik atau perubahan rezim, maka kecil kemungkinan selesai dalam waktu cepat. Artinya, yang kita hadapi bukan lagi sekadar gejolak jangka pendek, tapi tekanan yang bisa berubah menjadi lebih struktural," ujar Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet kepada CNBC Indonesia, Senin (6/4/2026).

Dukungan kebijakan dinilai krusial untuk menjaga kelangsungan usaha dan industri, khususnya bagi sektor Petrokimia yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku impor.

"Dalam jangka pendek, yang paling mendesak adalah insentif fiskal yang targeted, seperti subsidi energi untuk industri kecil dan menengah yang paling rentan, insentif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi dalam efisiensi energi, serta akses pembiayaan yang lebih longgar agar arus kas tetap terjaga," jelas Yusuf.

Terkait kemungkinan relaksasi kebijakan impor energi, ia melihat adanya peluang untuk langkah darurat, namun tetap harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak lanjutan terhadap sektor domestik.

"Terkait bea masuk gas atau LPG impor, ini bisa menjadi opsi dalam situasi darurat, terutama untuk menekan biaya input dan mempercepat diversifikasi pasokan. Namun kebijakan ini sebaiknya bersifat temporer dan selektif," ujarnya.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |