Harga Rupiah, Harga Risiko

4 hours ago 6

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada tanggal 22 April 2026 menyatakan bahwa rupiah berada dalam kondisi undervalued. Pernyataan ini boleh jadi meyakinkan, bahkan menenangkan. Beliau memberi kesan bahwa yang terjadi hanyalah deviasi sementara dari nilai fundamental. Persoalan dari perspektif pasar adalah: apakah nilai dimaksud merupakan harga pasar?

Namun, di titik inilah kehati-hatian perlu dimulai. Pasar, sesering apa pun dikritik, jarang sepenuhnya salah. Yang lebih sering terjadi justru sebaliknya: model kita yang tertinggal dari realitas. Pertanyaan yang lebih mendasar bukan apakah rupiah murah, melainkan apakah definisi "murah" itu masih relevan dalam struktur risiko yang telah berubah.

Dalam perspektif pembangunan, sebagaimana yang ditekankan oleh Simatupang dua dekade lalu (2007) dalam risetnya yang berjudul "Bank Recapitalization, Bank Performance and Real Sector Lending: An Analysis of Indonesia's Economic Recovery from the Crises of 1997-1998", bahwa nilai tukar bukan sekadar variabel moneter yang bisa dijelaskan oleh inflasi, suku bunga, atau neraca pembayaran. Ia adalah refleksi dari sesuatu yang lebih dalam, yaitu struktur ekonomi, kredibilitas kebijakan, dan yang sering diabaikan adalah bagaimana dunia menilai risiko suatu negara.

Ketika Model Masih Logis, Ternyata Sudah Bergeser
Secara teknokratis, argumen undervaluation tidak sulit dibangun. PPP (Purchasing Power Parity), REER (Real Effective Exchange Rate), maupun BEER (Behavioral Equilibrium Exchange Rate), menghasilkan deviasi 6-10 persen dari nilai fundamental, dan ini adalah angka yang masuk akal.

Karena masih menunjukkan deviasi moderat dari nilai fundamental. Inflasi terkendali, pertumbuhan relatif stabil, dan imbal hasil domestik tetap kompetitif. Tetapi, dalam kerangka model, rupiah memang tampak "terlalu murah".

Masalahnya, pasar tidak pernah menilai fundamental dalam bentuk steril. Ia selalu menambahkan satu variabel yang sering diremehkan dalam diskursus domestik, yaitu risiko. Dalam bahasa yang lebih terbuka, rupiah hari ini bukan sekadar undervalued, ia diperdagangkan dengan diskon. Dan diskon itu bukan anomali, melainkan harga dari ketidakpastian yang dirasakan investor.

Di sini, istilah mispricing menjadi problematis. Apa yang kita anggap sebagai kesalahan pasar bisa jadi justru adalah titik keseimbangan baru, sebuah harga yang telah menginternalisasi premi risiko yang lebih tinggi.

Dunia Tidak Netral bagi Emerging Markets
Selama dua dekade, globalisasi membentuk keyakinan bahwa modal akan secara otomatis mengalir ke negara dengan fundamental yang baik. Itu adalah asumsi yang kini runtuh.

Fragmentasi geopolitik, praktik friend-shoring, dan meningkatnya ketegangan global telah mengubah logika aliran modal. Investor tidak lagi sekadar mengejar yield, tetapi mereka mengejar keamanan. Dalam konteks ini, emerging markets, termasuk Indonesia, tidak lagi berada di titik netral. Mereka harus "membayar lebih" untuk meyakinkan pasar.

Konsekuensinya sederhana tetapi mendasar, yaitu premi risiko meningkat dan cenderung menetap. Dalam sistem global yang asimetris, harga sebuah negara tidak sepenuhnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Realitas ini bukan baru, tetapi kini hadir dalam bentuk yang lebih tegas.

Transisi Energi dan Nilai Tukar
Optimisme terhadap posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel kerap diposisikan sebagai penopang baru nilai tukar. Narasi ini tidak keliru, tetapi juga tidak lengkap.

Transisi energi bukan hanya cerita tentang peluang ekspor. Ia juga membawa kebutuhan impor teknologi, investasi besar, dan restrukturisasi industri. Ketergantungan pada energi fosil belum sepenuhnya surut, sementara volatilitas harga energi global tetap tinggi.

Dalam konfigurasi ini, kebutuhan devisa justru meningkat. Dengan kata lain, transisi energi adalah pedang bermata dua: ia menjanjikan masa depan, tetapi dalam jangka pendek menambah tekanan terhadap nilai tukar, sesuatu yang sering luput dalam model statis.

Problem Lama yang Belum Selesai
Jika faktor global menjelaskan sebagian tekanan, maka sisanya datang dari dalam negeri. Biaya logistik yang tinggi, rigiditas birokrasi, dan produktivitas yang belum optimal masih menjadi hambatan struktural.

Kemajuan memang terjadi, tetapi belum cukup untuk menggeser struktur ekonomi secara fundamental. Akibatnya muncul paradoks yang familiar kita dengar, yaitu pertumbuhan ada, tetapi kualitasnya terbatas. Dalam kondisi seperti ini, rupiah menjadi rapuh, sangat bergantung pada arus modal jangka pendek, mudah tertekan oleh guncangan, dan sulit menguat secara berkelanjutan.

Dari Stabilitas ke Transformasi
Di titik ini, narasi undervaluation kehilangan daya jelasnya. Ketika pelemahan rupiah dibaca sebagai deviasi sementara, respons kebijakan cenderung berhenti pada instrumen yang bersifat reaktif, seperti intervensi pasar, penyesuaian suku bunga, dan pengelolaan likuiditas.

Namun jika pelemahan tersebut mencerminkan pergeseran struktural, maka kerangka berpikirnya harus diubah. Persoalannya bukan lagi bagaimana meredam volatilitas, melainkan bagaimana menurunkan premi risiko yang mendasarinya.

Artinya, agenda kebijakan tidak bisa berhenti pada stabilisasi. Ia harus bergerak menuju transformasi: memastikan konsistensi kebijakan yang dapat dipercaya pasar, memperkuat kredibilitas institusi, mempercepat penyelesaian hambatan struktural, mengelola transisi energi tanpa menambah tekanan eksternal, serta secara bertahap mengurangi ketergantungan pada aliran modal jangka pendek.

Pada akhirnya, stabilitas bukan tujuan akhir, melainkan prasyarat. Tanpa transformasi, stabilitas hanya akan menjadi jeda sementara sebelum tekanan berikutnya muncul kembali.

Penutup
Rupiah hari ini bukan sekadar angka di layar pasar. Ia adalah refleksi dari sebuah ekonomi yang cukup kuat untuk tumbuh, tetapi belum cukup kuat untuk sepenuhnya dipercaya tanpa diskon.

Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah rupiah undervalued. Pertanyaan yang lebih terbuka adalah: apakah kita sudah cukup kredibel untuk membuat pasar berhenti mendiskon Indonesia?

Model mungkin mengatakan rupiah terlalu murah. Tetapi pasar, dengan segala skeptisismenya, mungkin sedang mengatakan sesuatu yang lebih penting, bahwa risiko itu nyata dan belum sepenuhnya terjawab.


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |