Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) disebut baru dapat memastikan sekitar sepertiga dari total persenjataan rudal Iran telah dihancurkan. Hal ini terjadi di tengah konflik AS dan Israel melawan Teheran yang kini mendekati satu bulan.
Informasi ini diungkap lima sumber yang mengetahui laporan intelijen AS. Mereka menyebut, status sekitar sepertiga lainnya masih belum jelas, meski diyakini sebagian telah rusak, hancur, atau terkubur di terowongan serta bunker bawah tanah akibat serangan udara intensif.
"Sementara sebagian besar rudal kemungkinan sudah tidak dapat diakses, Iran masih memiliki persediaan signifikan dan berpotensi memulihkan sebagian yang rusak setelah perang usai," ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters, Sabtu (28/3/2026).
Penilaian ini juga berlaku pada kemampuan drone Iran. Sumber menyebut ada tingkat kepastian serupa, yakni sekitar sepertiga telah dihancurkan. Temuan intelijen tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengklaim Iran "hanya memiliki sedikit roket tersisa".
Dalam rapat kabinet yang disiarkan televisi, Trump menekankan bahwa risiko kecil sekalipun tetap berbahaya. "Katakanlah kita menghancurkan 99%. Satu persen tidak dapat diterima, karena satu persen itu bisa menghantam kapal bernilai miliaran dolar," ujarnya.
Di sisi lain, pejabat Pentagon menyatakan serangan rudal dan drone Iran telah menurun sekitar 90% sejak awal konflik. Militer AS juga mengklaim telah merusak atau menghancurkan lebih dari 66% fasilitas produksi rudal, drone, serta aset angkatan laut Iran. Namun, Komando Pusat AS tidak merinci secara pasti jumlah kemampuan rudal yang telah dilumpuhkan.
Anggota DPR dari Partai Demokrat, Seth Moulton, meragukan klaim keberhasilan tersebut. Ia menilai Iran kemungkinan tidak mengerahkan seluruh kekuatannya sejak awal konflik.
"Jika Iran cerdas, mereka tidak menggunakan semua kemampuan mereka dan menunggu momen yang tepat," ujarnya.
Pemerintahan Trump sebelumnya menargetkan pelemahan militer Iran dengan menghancurkan armada laut, kemampuan rudal, serta drone, sekaligus mencegah negara itu memiliki senjata nuklir. Operasi militer yang dinamakan "Epic Fury" diklaim berjalan sesuai rencana, bahkan lebih cepat dari jadwal. Hingga kini, lebih dari 10.000 target militer Iran telah diserang dan sekitar 92% kapal besar angkatan laut Iran disebut telah ditenggelamkan.
Meski demikian, tantangan terbesar tetap pada kemampuan AS dalam mengidentifikasi jumlah pasti rudal yang disimpan di fasilitas bawah tanah sebelum perang dimulai. Pejabat militer Israel sebelumnya memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik sebelum konflik, dengan sekitar 70% kapasitas peluncur telah dinetralkan. Namun, sisa kemampuan yang belum dihancurkan dinilai justru lebih sulit dijangkau.
Serangan AS juga belum sepenuhnya melumpuhkan kemampuan Iran. Dalam satu hari, Teheran masih mampu meluncurkan 15 rudal balistik dan 11 drone ke Uni Emirat Arab (UEA). Bahkan, Iran menunjukkan kemampuan baru dengan menembakkan rudal jarak jauh ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia.
Pejabat senior AS juga mengakui sulitnya mengukur secara akurat kemampuan rudal Iran, terutama karena banyak yang disimpan di jaringan terowongan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan kompleksitas tersebut, dengan menyebut Iran menginvestasikan sumber daya besar ke dalam pembangunan terowongan dan sistem persenjataan.
Meski demikian, ia menekankan, militer AS terus memburu target secara sistematis. "Kami melakukannya secara metodis, tanpa ampun, dan dalam skala besar," ujarnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski serangan besar telah dilakukan, ancaman dari rudal dan drone Iran masih belum sepenuhnya hilang, terutama di tengah ketidakpastian terkait kemampuan yang tersisa di fasilitas bawah tanah.
(dce)
Addsource on Google

















































