Jakarta, CNBC Indonesia - Lulusan dari jurusan yang dianggap "tahan banting" terhadap disrupsi kecerdasan buatan (AI) justru menghadapi kenyataan pahit: gaji awal yang relatif rendah.
Berdasarkan laporan Federal Reserve Bank of New York yang dikutip Forbes, lulusan di bidang farmasi dan pendidikan mencatatkan pendapatan awal terendah dibanding jurusan lain. Lulusan farmasi usia 22-27 tahun, misalnya, hanya memperoleh rata-rata sekitar US$40.000 per tahun atau setara Rp632 juta.
Sementara itu, lulusan biologi, yang juga kerap dianggap sebagai jalur STEM yang lebih aman dari dampak AI, mencatatkan gaji awal sekitar US$45.000 per tahun atau sekitar Rp711 juta.
Angka tersebut bahkan berada di bawah atau setara rata-rata pendapatan nasional Amerika Serikat (AS) yang mencapai US$45.140 atau Rp713 juta per tahun.
Di sisi lain, jurusan pendidikan yang selama ini diminati karena dianggap menawarkan stabilitas kerja juga menghadapi kondisi serupa. Lulusan pendidikan umum, pendidikan dasar, hingga pendidikan anak usia dini dilaporkan hanya meraih pendapatan awal sekitar US$45.000 per tahun.
Padahal, sektor kesehatan dan pendidikan diproyeksikan tetap tumbuh di tengah disrupsi AI. Laporan McKinsey pada 2024 menyebut industri kesehatan akan terus berkembang seiring perubahan lanskap bisnis di Amerika Serikat.
Permintaan tenaga kerja di sektor ini pun melonjak tajam. Data Indeed pada 2025 mencatat lowongan kerja untuk tenaga kesehatan seperti perawat, dokter, hingga pekerja perawatan di rumah meningkat hingga 162% dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.
Namun demikian, tingginya permintaan tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat gaji awal yang diterima lulusan baru.
Sebaliknya, lulusan dari jurusan teknologi dan teknik justru mendominasi daftar dengan bayaran tertinggi. Mereka rata-rata memperoleh gaji awal sekitar US$75.000 atau setara Rp1,18 miliar per tahun, dan bisa melampaui US$100.000 (Rp1,58 miliar) di pertengahan karier.
Secara khusus, lulusan ilmu komputer dan teknik komputer mencatatkan gaji awal tertinggi, masing-masing sekitar US$90.000 (Rp1,42 miliar) dan US$87.000 (Rp1,37 miliar) per tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun beberapa jurusan dianggap lebih aman dari ancaman AI, hal tersebut tidak selalu sejalan dengan imbal hasil finansial di awal karier.
(dce)
Addsource on Google

















































