Iran Minggir! Perang 2 Negara Muslim Ini Panas, China Jadi Korban

6 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Pakistan dan Afghanistan kini berada di titik nadir setelah pecahnya permusuhan terbuka yang menandai konfrontasi paling serius sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Setelah berminggu-minggu eskalasi bentrokan lintas batas dan serangan balasan, Islamabad akhirnya menyatakan diri dalam keadaan "perang terbuka" dengan pemerintah Taliban menyusul serangan udara ke kota-kota dan provinsi perbatasan Afghanistan.

Kekerasan ini menghancurkan gencatan senjata rapuh yang baru saja ditengahi pada Oktober 2025 dan dengan cepat menjadi eskalasi paling mematikan di sepanjang Garis Durand sejauh 2.600 kilometer dalam beberapa tahun terakhir. Puluhan ribu warga sipil terpaksa mengungsi, sementara risiko krisis regional yang lebih luas terus meningkat secara mengkhawatirkan.

Pemicu utama konflik ini berakar pada perselisihan mengenai militansi lintas batas, di mana Pakistan menuduh Kabul menampung pejuang dari Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Taliban. Namun, implikasi geopolitik dari konfrontasi ini membentang jauh melampaui perbatasan, terutama bagi China yang melihat perang ini bukan sekadar krisis keamanan, melainkan tantangan langsung terhadap visi strategis integrasi regionalnya.

Peneliti non-residen di China-CEE Institute sekaligus pakar dari Valdai Discussion Club, Ladislav Zemánek, menilai bahwa posisi China saat ini sangat terjepit akibat konflik kedua tetangganya tersebut.

"Di antara pemangku kepentingan eksternal, China adalah pihak yang paling rugi akibat perpecahan berkepanjangan antara Islamabad dan Kabul," ujar Zemánek dikutip Russia Today (RT), Jumat (13/3/2026).

Selama bertahun-tahun, Beijing telah berupaya memposisikan Pakistan dan Afghanistan sebagai simpul utama dalam arsitektur ekonomi transregional yang menghubungkan Asia Tengah, Asia Selatan, dan China bagian barat. Di pusat visi ini terdapat Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC), salah satu proyek unggulan dari Belt and Road Initiative (BRI) yang mencakup infrastruktur transportasi, investasi energi, dan zona industri dari wilayah Xinjiang hingga pelabuhan Gwadar di Laut Arab.

Zemánek menjelaskan bahwa dalam pemikiran strategis China, Afghanistan seharusnya menjadi perpanjangan periferal dari jaringan raksasa tersebut.

"Beijing telah menjajaki kemungkinan untuk menghubungkan rute transportasi, sumber daya mineral, dan koridor transit Afghanistan ke dalam sistem infrastruktur CPEC yang lebih luas. Integrasi semacam itu akan memberi Afghanistan yang terkurung daratan akses ke perdagangan maritim, sekaligus mengikat pasar Asia Tengah lebih dekat ke provinsi-provinsi barat China," kata Zemánek.

Oleh karena itu, perang antara Pakistan dan Afghanistan menyerang langsung ke inti geografis dari visi ekonomi ini. Hubungan China dengan kedua negara tersebut menegaskan mengapa taruhannya sangat tinggi, mengingat Pakistan telah lama menjadi "mitra kerja sama strategis segala cuaca" bagi China dalam bidang pertahanan, teknologi militer, dan ikatan ekonomi yang mendalam.

China saat ini merupakan mitra dagang terbesar Pakistan dan investor utama di balik proyek-proyek CPEC dengan komitmen puluhan miliar dolar. Di sisi lain, keterlibatan China dengan Afghanistan juga terus meluas sejak penarikan pasukan AS pada 2021, di mana perusahaan-perusahaan China mulai mengincar kekayaan mineral Afghanistan yang belum terjamah, termasuk tembaga dan deposit tanah jarang.

Ikhtiar Xi Jinping

Untuk mengelola sensitivitas politik ini, China sebenarnya telah membentuk mekanisme dialog trilateral China-Pakistan-Afghanistan. Namun, pecahnya perang antara dua peserta dalam kerangka kerja tersebut kini mengekspos betapa rapuhnya pendekatan diplomasi ekonomi yang diusung oleh Beijing.

Zemánek menyoroti adanya ketidaksesuaian fundamental antara alat yang dimiliki China dengan kekuatan yang mendorong konflik tersebut.

"Inti dari dilema China terletak pada ketidaksesuaian antara instrumen utama Beijing yang bersifat ekonomi-seperti investasi infrastruktur dan pembiayaan pembangunan-dengan dinamika konflik yang didorong oleh jaringan militan, perbatasan yang dipersengketakan, persaingan ideologi, dan tekanan politik domestik," jelasnya.

Menurutnya, integrasi ekonomi memang dapat mendorong kerja sama dalam jangka panjang, namun tidak dapat dengan mudah menyelesaikan pemberontakan aktif atau dilema keamanan yang sudah mendarah daging. Pesan publik China saat ini mencerminkan keseimbangan yang sangat halus, di mana mereka mendesak Islamabad dan Kabul untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog sambil menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi de-eskalasi.

Namun, diplomasi saja mungkin tidak cukup untuk mengatasi ketegangan struktural yang lebih dalam, seperti sengketa Garis Durand-perbatasan era kolonial yang membagi Afghanistan dan Pakistan yang tetap tidak diakui oleh Kabul. Selain itu, konflik ini terjadi di tengah pergeseran global di mana ambang batas konfrontasi antarnegara bersenjata nuklir tampaknya mulai bergeser, mengingat Pakistan adalah negara pemilik senjata nuklir.

Zemánek menegaskan bahwa bagi Beijing, perang ini menimbulkan pertanyaan tidak nyaman tentang asumsi utama strategi regionalnya bahwa konektivitas ekonomi dapat meratakan jalan menuju stabilitas politik.

"Infrastruktur dapat memfasilitasi perdagangan, tetapi tidak dapat dengan sendirinya mengatasi pemberontakan ideologis, perbatasan yang dipersengketakan, atau persaingan geopolitik yang mendalam. Koridor ekonomi mungkin mendorong stabilitas seiring waktu, tetapi tidak dapat menggantikan rekonsiliasi politik atau tata kelola pemerintahan yang efektif," tegas Zemánek.

(tps/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |