Laporan Rahasia: Diam-Diam AS Minta Pabrik-Pabrik Mobil Buat Senjata

2 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan diam-diam menggandeng produsen otomotif raksasa untuk memperkuat produksi senjata di tengah meningkatnya tekanan konflik global. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya "mengisi kembali stok militer yang terus menipis".

Laporan pertama kali dibuat Wall Street Journal (WSJ). Pentagon disebut mendekati General Motors dan Ford guna menjajaki kemungkinan konversi pabrik sipil menjadi fasilitas produksi militer.

Diskusi yang melibatkan para eksekutif senior tersebut berfokus pada seberapa cepat lini produksi kendaraan komersial dapat dialihkan untuk memproduksi amunisi hingga perlengkapan tempur lainnya. Upaya ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan akibat konflik di Ukraina serta perang AS melawan Iran.

Salah satu sumber yang mengetahui pembicaraan itu menyebut, langkah ini bertujuan menempatkan industri AS dalam "kondisi perang". Hal itu merujuk pada mobilisasi besar-besaran era Perang Dunia II saat pabrikan otomotif Detroit menghentikan produksi mobil dan beralih membuat pesawat pembom hingga truk militer.

Saat ini, General Motors telah lebih dulu memasok kendaraan militer melalui unit GM Defense. Sementara Ford belum memiliki kontrak militer besar, namun ikut dilibatkan dalam penjajakan ini.

Selain dua raksasa otomotif tersebut, perusahaan seperti GE Aerospace dan Oshkosh Corporation juga dilaporkan turut serta. Pembicaraan bahkan disebut sudah dimulai bahkan sebelum konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari.


Tekanan Terhadap Stok Senjata AS

Tekanan terhadap stok senjata AS sebenarnya semakin terasa. Dalam empat pekan pertama perang Iran, AS disebut telah meluncurkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk.

Angka ini memicu kekhawatiran di internal Pentagon karena berpotensi menguras cadangan secara signifikan. Sebagai gambaran, sebelum operasi tersebut, Angkatan Laut AS diperkirakan memiliki sekitar 4.000 hingga 4.500 rudal Tomahawk.

Analis mengatakan, mungkin ini menjadi alasan mengapa Presiden AS Donald Trump mengusulkan belanja militer jumbo sekitar US$1,5 triliun atau setara Rp25.500 triliun untuk tahun fiskal 2027. Angka ini melonjak dari hampir US$1 triliun atau sekitar Rp17.000 triliun pada tahun ini.

Proposal tersebut mencakup lebih dari US$1,1 triliun (Rp18.700 triliun) untuk pendanaan pertahanan dasar. Ini pun ditambah alokasi khusus guna mendukung operasi militer yang sedang berlangsung.

Sementara itu, mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene mengklaim biaya perang di Iran mencapai sekitar US$2 miliar per hari atau setara Rp34 triliun. Adapun situs pelacak independen WarSpend memperkirakan total pengeluaran AS untuk konflik tersebut telah mendekati US$48 miliar atau sekitar Rp816 triliun sejak perang dimulai.

(tfa/șef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |