Perang Hancurkan Iran: Jutaan Orang Jatuh Miskin, Pengangguran Naik

2 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

17 April 2026 14:20

Jakarta, CNBC Indonesia- Gencatan senjata rapuh antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memberi jeda singkat setelah enam pekan konflik yang mengguncang.

Namun ketika asap mulai menipis, kerusakan ekonomi Iran terlihat jauh lebih dalam dibanding angka korban perang. Dalam hitungan minggu, jutaan warga kehilangan rasa aman, pendapatan, dan peluang hidup layak.

Melansir dari analisis Hadi Kahalzadeh di Responsible Statecraft, estimasi terbaru menyebut sekitar 50% lapangan kerja Iran kini berada dalam risiko. Tambahan 5% populasi terdorong ke jurang kemiskinan akibat perang.

Korban jiwa resmi yang diumumkan pemerintah Iran mencapai 3.370 orang. Di saat elite politik berbicara strategi dan keamanan, beban terbesar justru jatuh ke rumah tangga biasa yang tak punya pengaruh atas arah kebijakan negara.

Serangan selama perang menyasar infrastruktur sipil dan pusat aktivitas ekonomi. Lebih dari 125 ribu bangunan hunian dan fasilitas warga dilaporkan rusak. Angka ini mendekati jumlah bangunan yang terdampak selama perang Iran-Irak yang berlangsung delapan tahun.

Di antara fasilitas yang terkena dampak terdapat 339 fasilitas kesehatan, 32 universitas, 857 sekolah, puluhan kantor polisi dan pemadam kebakaran, 20 pusat Bulan Sabit Merah, serta 120 museum dan situs sejarah.

Gangguan itu menciptakan efek berantai. Warga yang membutuhkan ambulans, hendak melapor kecelakaan, atau mengurus dokumen dasar menghadapi layanan publik yang lumpuh. Ketika kantor pemerintahan dan fasilitas darurat kosong atau hancur, roda ekonomi ikut tersendat. Produktivitas turun, mobilitas pekerja terganggu, dan biaya hidup naik.

Lebih dari 23 ribu pabrik dan perusahaan disebut terkena dampak langsung.

Banyak usaha di sekitarnya ikut tutup karena pasokan terputus dan permintaan anjlok. Pelabuhan, bandara, serta jaringan transportasi yang menopang distribusi pangan, obat, bahan baku, dan tenaga kerja ikut terguncang.

Pemerintah Iran memperkirakan biaya rekonstruksi infrastruktur sipil mencapai US$300 miliar, belum termasuk kehilangan investasi, PHK, inflasi, dan gangguan rantai pasok.

Sektor baja, petrokimia, farmasi, hingga transportasi menjadi titik tekanan utama. Ini sektor yang menampung jutaan pekerja dan menjadi tulang punggung produksi nasional. Bahkan pabrik susu disebut menghentikan operasi karena kekurangan bahan kemasan. Pasar yang tutup berhari-hari, likuiditas seret, serta ketidakpastian tinggi membuat konsumsi rumah tangga melemah tajam.

Kahalzadeh memperkirakan 10 juta hingga 12 juta pekerjaan kini berada dalam ancaman. Pekerja informal menjadi kelompok paling rentan karena minim perlindungan pendapatan. Buruh berkeahlian rendah di sektor formal ikut tertekan. Sebaliknya, pegawai sektor publik dan tenaga kerja berkeahlian tinggi relatif lebih aman. Artinya, perang memperlebar jurang ekonomi di dalam negeri Iran sendiri.

Sebelum konflik terbaru pun ekonomi Iran sudah rapuh. Bank Dunia memperkirakan ekonomi Iran menyusut 2,7% pada tahun fiskal yang berakhir 20 Maret lalu. Dalam periode Maret 2025 hingga Maret 2026, nilai rial anjlok hampir separuh, lebih dari 750 ribu pekerjaan hilang, dan inflasi mencapai level tertinggi dalam 70 tahun. Inflasi umum tercatat 72%, sementara harga paket pangan pokok melonjak 134%.

Perang kemudian mempercepat tekanan itu. Program Pembangunan PBB (UNDP) memperkirakan ekonomi Iran bisa terkontraksi 8,8% hingga 10,4% dibanding skenario tanpa perang untuk tahun Iran 1405 yang berakhir Maret 2027.

Meski konflik berhenti dalam 40 hari, sebanyak 3,5 juta hingga 4,1 juta warga diperkirakan sudah jatuh di bawah garis kemiskinan. Jika gelombang PHK 3 juta hingga 4 juta orang terjadi bersamaan dengan inflasi tiga digit, tekanan sosial berpotensi membesar.

Pemerintah Iran menyiapkan subsidi pangan, pinjaman murah, insentif pajak, tunjangan pengangguran, dan bantuan bagi pabrik rusak. Masalahnya, kapasitas fiskal negara sedang sempit. Untuk membiayai pangan pokok dan tunjangan pengangguran selama setahun saja, dibutuhkan hampir 5 kuadriliun rial atau setara 45%-50% anggaran publik Iran yang sejak lama sudah dibebani defisit tinggi.

Bagi Washington, membaca jeda perang sebagai bukti bahwa tekanan ekonomi cukup untuk memaksa Iran menyerah bisa menjadi kalkulasi keliru. Kerusakan terbesar sejauh ini menghantam warga sipil, sementara struktur kekuasaan negara masih bertahan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |